Zona Aktualita dan Transformasi Idea Pergerakan


Oleh: Makhfud Syawaludin*

20141129_090748

Permainan Ular Buta diselah-selah MaPABa tahun 2014

Penyegaran dan “Modernisasi” NU tidak lepas dengan keberhasilan PMII.

Kader-Kader PMII menyebar hampir ke semua tingkat NU ke seluruh Nusantara.

Ketaatan kultural kepada Ulama yang membangun Jam’iyah NU tidak berubah, tetapi lebih kritis mengembangkan pemikiran-pemikiran keagamaan yang sejalan dengan dinamika zaman.

(M. Said Budairysalah seorang deklarator kelahiran PMII)

 

  1. Cikal Bakal dan Kelahiran PMII

Pada awalnya memang PMII adalah bagian dari NU (Nahdhatul Ulama) di bawah naungan Banon IPNU (Ikatan Pelajar NU). Bermula munculya Ide pembentukan wadah kemahasiswaan berideologi ASWAJA sempat dilontarkan pada Muktamar II IPNU tanggal 1-5 Januari 1957 di Pekalongan Jawa Tengah. Namun, Ide tersebut tidak terlalu ditanggapi serius oleh pucuk pimpinan IPNU. Kala itu IPNU memang masih perlu pembenahan, sebab dari banyak fungsionaris IPNU berstatus mahasiswa, sehingga dikhawatirkan mengganggu perjalanan IPNU yang masih baru terbentuk (24 Februari 1954).

Meski demikian, keinginan kuat akan pembentukan wadah khusus mahasiswa terus berlanjut. Hal ini terbukti pada Muktamar III IPNU tanggal 27-31 Desember 1958 di Cirebon Jawa Barat, pucuk pimpinan IPNU didesak oleh peserta muktamar untuk membentuk wadah khusus tersebut dengan masih tetap dalam naungan IPNU, yakni dalam wadah departemen perguruan tinggi IPNU. Selanjutnya, adanya wadah dengan model tersebut tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Terbukti pada Konferensi Besar IPNU di Kaliurang Jogjakarta tanggal 14-16 Maret 1960, memutuskan terbentuknya suatu wadah/organisasi mahasiswa nahdliyin yang terpisah secara struktural maupun fungsional dari IPNU-IPPNU.

Terlepas dari itu, ternyata keingingan membentuk wadah tersebut telah lama ada. Misalnya berdiri IMANU (ikatan mahasiswa NU) pada bulan Desember 1955 di Jakarta. Akan tetapi, kehadirannya belum bisa diterima banyak pihak terutama sesepuh NU sendiri. NU takut adanya IMANU akan melumpuhkan IPNU yang baru 1 tahun sebelumnya berdiri dengan mayoritas pengurus IPNU adalah mahasiswa. Kemudian ada KMNU (keluarga mahasiswa NU) di kota Surakarta yang diprakarsai oleh H. Mustahal Ahmad. Tidak jauh berbeda, di Bandung ada dengan nama PMNU (persatuan Mahasiswa NU).

Lalu, apa yang mendasari pimpinan IPNU menyetujui adanya wadah khusus mahasiswa tersebut? Berikut alasannya: a). Wadah departemen perguruan tinggi IPNU dianggap tidak lagi memadai gerakan kemahasiswaan, b). Perkembangan politik dan keamanan di dalam negeri yang menuntut pengamatan yang ekstra hati-hati, khususnya bagi mahasiswa Islam, c). HMI satu-satunya wadah kemahasiswaan Islam pada waktu itu dinilai terlalu dekat dengan Partai Masyumi, sedangkan tokoh Masyumi telah melibatkan diri dalam pemberontakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia), d). Intelektualitas NU masih sedikit, dan e). Didirikannya kampus NU di berbagai tempat.

Lebih lanjut, setelah disepakati pembentukan wadah baru, dibentuk juga tim sponsor pendirian organisasi mahasiswa tersebut (sebanyak 13 orang), yakni: Kholid Mawardi (Jakarta), Said Budairy (Jakarta), M. Sobich Ubaid (Jakarta), M. Maksun Syukri BA (Bandung), Hilman (Bandung), H. Isma’il Makky (Yogyakarta), Munsif Nahrawi (Yogyakarta), Nuril Huda Suaidy HA (Surakarta), Laily Mansur (Surakarta), Adb. Wahab Jailani (Semarang), Hisbullah Huda (Surabaya), M. Cholid Narbuko (Malang), dan Ahmad Husain (Semarang).

Walhasil, terbentuklah organisasi PMII pada Musyawarah Mahasiswa Nahdliyin tanggal 14-16 April 1960 di Gedung madrasah Muallimin NU Wonokromo Surabaya kelanjutan dari Konferensi Besar IPNU di Kaliurang Jogjakarta tanggal 14-16 Maret 1960. Dikarenakan peraturan dasar PMII dinyatakan berlaku mulai 21 Syawal 1379/17 April 1960, sehingga harlah PMII dilaksanakan setiap tahun pada tanggal 17 April 1960. Kemudian yang menjadi Pengurus Pusat PMII (PP PMII) pertama sebagai Ketua Umum adalah Mahbub Junaidi dan sekretaris umum adalah M. Said Budairi.

Mengapa organisasi yang baru tersebut bernama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)? Berikut alasan pemikirannya:

  1. Seperti bola pemikiran kalangan mahasiswa pada umumnya yang diliputi oleh pemikiran bebas
  2. Berpikir taktis demi masa depan organisasi yang akan dibentuk, karenanya untuk merekrut anggota harus memakai pendekatan ideologi ASWAJA
  3. Inisial NU tidak perlu dicantumkan dalam nama Organisasi
  4. Manivestasi nasionalisme sebagai semangat kebangsaan, karenanya Indobesia harus jelas dicantumkan.

Mengenai nama PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) adalah usulan dari Bandung dan Surabaya yang didukung oleh utusan Surakarta. Sebelumnya ada juga usulan Perhimpunan/Persatuan Mahasiswa Ahlussunah Waljama’ah, Perhimpunan Mahasiswa Sunny (Yogyakarta) dan IMANU (ikatan mahasiswa NU) oleh Jakarta.

 

  1. Situasi dan Kondisi Politik Sekitar Kelahiran PMII

Pada era orde lama, mahasiswa hanya menjadi alat partai politik. Sebut saja Partai Katolik dengan PMKRI (perhimpunan mahasiswa katolik indonesia), Parkindo dengan GMKI (gerakan mahasiswa kristen Indonesia), PNI dengan GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), PSII (partai syariat Islam Indonesia) dengan GMII, PSI dengan Gemsos, PKI dengan CGMI (consentrasi gerakan mahasiswa Indonesia), dan HMI lebih dekat/dikatakan sebagai underbouw Masyumi. Selain itu, Carut marutnya situasi politik bangsa Indonesia dalam kurun waktu 1950-1959, tidak menentunya sistem pemerintahan dan perundang-undangan yang ada, dan pisahnya NU dari Masyumi. PMII hadir untuk lebih berhati-hati soal politik terutama atas nama mahasiswa Islam dan membantu partai NU.

 

  1. Deklarasi Independen PMII

Independensi PMII dicetuskan pada Musyawarah Besar II PMII di Murnajati Lawang Malang pada tanggal 14-16 Juli 1972, yang kemudian lebih dikenal dengan Deklarasi Murnajati. Secara formal PMII berpisah secara struktural dengan NU.

Menurut Otong Abdurrahman yang dikutip Moh. Fajrul Falakh (1988: 11), bahwa motivasi Independensi PMII sebagai berikut: a). Independensi PMII merupakan proses rekayasa sosial PMII dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, b). Mahasiswa sebagai insan akademis harus menetukan sikap, ukurannya adalah obyektifitas dalam mengemukakan ilmu, cinta kebenaran dan keadilan, c). PMII merasa canggung dalam menghadapi masalah-masalah Nasional karena harus selalu melihat dan memperhatiakan kepentingan induknya, d). Untuk mengembangkan ideologinya, PMII mencoba memperjuangkan sendiri, sebab dengan perubahan AD/ART yang tidak lagi dibatasi secara formal oleh madzhab yang empat. Dengan demikian diharapkan PMII dapat berkembang diperguruan tinggi umum dan lebih-lebih agama, sedangkan d). Secara politis sikap independen itu konon ada bergaining antara tokoh PMII pada saat itu dengan pemerintah, dan ini terbukti sejumlah tokoh PMII tersebut, seperti Zamroni, Abduh Paddare, Hatta Musthofa, Said Budairi, tercatat sebagai orang yang mendirikan deklarasi pemuda Indonesia yang kemudian menjadi KNPI (komite Nasional Pemuda Indonesia).

 

  1. Dekralasi Interdepedensi PMII

Deklarasi Murnajati tidak dimaksudkan menciptakan garis damargasi antara PMII di atu pihak dengan NU dipihak lain. Diantara keduanya senantiasa terjalin hubungan yang dibangun diatas persamaan paham keagamaan, pemikiran, sikap sosial, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, Kongres X PMII tahun 1991 di Jakarta melahirkan pernyataan “Deklarasi Interdepedensi PMII-NU”.

Penegasan hubungan itu didasarkan pada pemikiran-pemikiran, yakni a). Interdepedensi PMII-NU ditempatkan dalam konteks keteladanan ulama (pewaris Nabi) dalam kehidupan keagamaan dan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, b). Adanya ikatan kesejarahan PMII-NU. Bagaimana pun, mayoritas warga PMII berasal dari NU, secara langsung maupun tidak, akan mempengaruhi perwatakan PMII secara umum, c). Adanya kesamaan paham keagamaan PMII-NU. Sama-sama mengembangkan Islam Aswaja (Tawassuth, I’tidal, Tasamuh, Tawazun, dan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar) serta menganut pola pikir, pola sikap, dan pola tindak secara selektif, akomodatif, dan integratif (sesuai prinsip dasar almuhafadatu Alal Qadimis Shalih Wal Akhzdu Biljadi al Aslah), d). Adanya kesamaan persamaan kebangsaan, yakni Islam Indonesia, dan e). Adanya persamaan kelompok sasaran, yakni masyarakat kelas menengah kebawah.

Sedangkan untuk merealisasikan interdepedensi PMII-NU, sekurang-kurangnya terdapat prinsip-prinsip a). Ukhuwah Islamiah, b). Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, c). Mubadi Khoiru Ummah (langkah awal pembentukan umat terbaik), d). Al Musawah (seimbang), dan e). Hidup berdampingan dan berdaulat secara penuh.

  1. Konstitusi PMII

Setiap organisasi itu harus mempunyai konstitusi (aturan-aturan) agar semakin mudah mencapai tujuan yang telah disepakati bersama, termasuk PMII. Misalnya, PMII berazaskan Pancasila (Pasal 2 AD/ART PMII).

Selain itu, PMII juga bersifat keagamaan, kemahaiswaan, kebangsaan, kemasyarakatan, independensi, dan profesional (pasal 3 AD/ART PMII). Adapaun tujuan PMII yaitu terbentuknya pribadi Muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia (pasal 4 AD/ART PMII). Kemudian struktur organisasi PMII terdiri dari a). Pengurus Besar (PB), b). Pengurus Koordinator Cabang (PKC), c). Pengurus Cabang (PC), d). Pengurus Komisariat (PK), dan e). Pengurus Rayon (PR) (pasal 7 AD/ART PMII).

Lebih lanjut, PMII dalam hal permusyawaran terdiri dari 1). Kongres, 2). Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas), 3). Rapat Kerja Nasional (Rakernas), 4). Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas), 5). Konferensi Koordinator Cabang (Konkoorcab), 6). Rapat Kerja Daerah (Rakerda), 7). Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspimda), 8). Konferensi Cabang (Konfercab), 9).  Musyawarah Pimpinan Cabang (Muspimcab), 10). Rapat Kerja Cabang (Rakercab), 11). Rapat Tahunan Komisariat (RTK), 12). Rapat Tahunan Anggota Rayon (RTAR), 13). Kongres Luar Biasa (KLB), 14). Konferensi Koordinator Cabang Luar Biasa (Konkoorcab LB), 15). Konferensi Cabang Luar Biasa (Konfercab LB), 16). Rapat Tahunan Komisariat Luar Biasa (RTK LB), 17). Rapat Tahunan Anggota Rayon Luar Biasa (RTAR LB) (pasal 26 AD/ART PMII).

Selain itu, kaderisasi di PMII bertopang pada tiga pilar yakni Kemahasiswaan, Keislaman, dan Keindonesiaan. Adapun jenis kaderisasi meliputi tiga hal, yakni 1). kaderisasi formal (pendidikan yang mengarah pada pemahaman terhadap tugas dan fungsi PMII) misalnya MaPABa, PKD, dan PKL, 2). kaderisasi non formal (Pendidikan yang mengarah pada kebutuhan warga PMII) misalnya seperti pelatihan Jurnalistik, pelatihan Manajemen Forum, dan lain sebagainya, dan 3). kaderisasi informal (pembelajaran yang bertujuan membiasakan kader dengan misi, tugas, tanggungjawab, dan berbagai suasana keseharian organisasi) misalnya mengajak diskusi anggota PMII, berkunjung ke PMII kampus lain, dan lain sebagainya. Ketiga kaderisasi tersebut saling merajut menuju kader ulul albab.

Makna Lambang PMII (Oleh H. Said Budairy)

  1. Bentuk ;

Perisai berarti ketahanan dan kemampuan mahasiswa Islam Indonesia terhadap berbagai tantangan dan pengaruh dari luar.

  1. Bintang berarti ketinggian dan semangat cita-cita yang selalu memancar.
  2. Lima bintang sebelah atas menggambarkan Rosullullah dan sahabatnya.
  3. Empat bintang sebelah bawah menggambarkan empat madzhab yang berhaluan ahlussunah wal jama`ah.
  4. Sembilam bintang sebagai jumlah bintang bermakna ganda :
    1. Rosulullah dan empat sahabatnya serta empat imam madzhab itu, laksana bintang yang slalu bersinar cemerlang, mempunyai kedudukan tinggi dan menerangi kehidupan manusia.
    2. Sembilan orang penyebar Islam di Indonesia yang dikenal dengan Wali Songo.
    3. Warna :
      1. Biru; sebagaimana dalam tulisan PMII berarti kedalaman ilmu yang harus dimiliki dan digali oleh kader pergerakan. Biru juga menggambarkan lautan yang mengelilingi kepulauan Indonesia dan menyatukan antar kepulauan.
      2. Biru muda; sebagai warna dasar perisai sebelah bawah berarti ketinggian ilmu pengetahuan, budi pekerti dan taqwa.
      3. Kuning; sebagai warna dasar perisai sebelah atas berarti identitas kemahasiswaan yang bersifat dinamis dan semangat yang selalu menyala serta pengharapan menyongsong masa depan.

pmii

Berpikir se-kritis dan se-radikal mungkin, yang penting tetap belajar.

Semoga tetap semangat Membaca, Berdiskusi, dan Menulis Sahabat/Sahabati.

 

Daftar Buku Bacaan

Buku Panduan Kaderisasi PMII 2014 PB PMII 2011-2014

Hasil-Hasil Muspimnas Jayapura Papua 11-16 Desember 2012

Hasil Kongres PMII Jambi 30 Mei-09 Juni 2014

Fauzan Alfas, PMII dalam simpul-simpul sejarah perjuangan, PB PMII 2006

*Ketua Komisariat PMII Ngalah UYP 2012-2013

Disampaikan pada MaPABA 2014 di PP Ketan Ireng Prigen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: