Zona Aktualita dan Transformasi Idea Pergerakan


tahun baru hijriyahHari, minggu dan bulan begitu cepat berlalu. Kita kembali memasuki Tahun Baru Islam yakni 1 Muharram 1432 H yang jatuh bertepatan dengan tanggal 7 Desember 2010 M.

Jika kita membuka lembaran sejarah, seperti ditulis Guru Besar Universitas Ummul Quro, Saudi Arabia Munir Muhammad Ghadban dalam bukunya Fiqhussiratin Nabawiyyah, mengutip Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah Wan Nihayah, pada masa pemerintahan Umar bin Khattab (sekitar tahun ke-16 H, ada yang mengatakan tahun 17 H dan 18 H), sahabat bersepakat untuk memulai hitungan kalender Islam sejak awal Hijrah Rasulullah SAW datang dari Mekah ke Madinah. Alasannya, karena Hijrah merupakan titik tolak kebangkitan kemuliaan Islam di seantero alam ini (liannahu waqtulladzi ‘izza fihil Islam).

Tiga Landasan Utama

Hijrah Rasulullah SAW menjadi pertanda berdirinya Darul Islam pertama di muka bumi. Disamping itu hijrah juga menjadi suatu bentuk pemberitahuan bahwa Daulah Islamiyah telah berdiri di bawah kepemimpinan langsung Nabi Muhammad SAW.

Kitab-kitab sirah seperti ditulis Ulama Al-Azhar Mesir, Dr Said Ramadhan Al-Buthi, Muhammad Al-Ghazali, juga Ulama Al-Azhar, Guru Besar Universitas Ummul Quro, Saudi, Munir Muhammad Ghadban, Prof Dr Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid dari Universitas Islam Imam Muhammad Ibnu Saud, mengemukakan ada tiga tindakan penting Rasulullah SAW sebagai landasan (dasar) utama pemerintahan baru ini.

Pertama, pembangunan mesjid. Kedua, menjalin tali persaudaraan antara kaum muslimin, khususnya antara Muhajirin dan Anshor. Ketiga, menyusun undang-undang dasar yang mengatur kehidupan umat Islam, sekaligus mempertegas hubungan mereka dengan non muslim, khususnya dengan kelompok Yahudi.

Tentang dasar pertama pembangunan mesjid, Al-Buthi mengatakan, pendirian mesjid merupakan tindakan terpenting dalam proses pembangunan masyarakat Islam. Hal ini disebabkan masyarakat Islam yang kuat harus berpegang pada aturan, akidah dan prinsip-prinsip moral Islam yang kesemuanya itu bermuara pada potensi spiritual mesjid.

Muhammad Al-Ghazali menegaskan, bersegera mendirikan mesjid menunjukkan bahwa Rasulullah SAW ingin mensyiarkan keagungan Islam. Sholat didirikan di mesjid mengisyaratkan keterikatan setiap insan muslim dengan Khaliknya, Tuhan Seru Sekalian Alam.

Tak ada harganya kebudayaan yang ditegakkan tanpa hubungan dengan Allah Yang Maha Esa. Kebudayaan Islam yang mulai disyiarkan di Madinah ditegakkan atas dasar hukum-hukum Allah (taqiru ‘ala hududillah) yang dilestarikan dengan melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar.

Di sisi lain, Ghadban menyoroti pendirian mesjid di Madinah sebagai suatu permakluman disebarluaskannya ajaran tauhid di Madinah sekaligus memberitakan berdirinya suatu pemerintahan Islam yang berdaulat (I’lanu qiyami daulatil Islam).

Suatu hal penting, baik Al-Buthi maupun Ghadban mencatat perbedaan mesjid di zaman Nabi SAW yang menjadi sumber pembinaan segala aspek kehidupan muslim dengan mesjid-mesjid di masa kini di berbagai negeri Islam. Fisiknya megah, penuh hiasan, mengkilap dan glamour, tapi tak ada ruh. Tak ada kehidupan Islam di dalamnya.

Menurut penulis, tentu tak terkecuali juga ada mesjid di tanah air kita yang megah secara fisik, tapi minim dalam menggerakkah jemaah menghayati spiritual Islam.
Prof Zain mencatat sisi lain lagi yaitu tentang kerjasama Rasulullah SAW bersama para sahabatnya dalam membangun mesjid menggambarkan teladan yang baik dalam setiap aktifitas kerja.

Oleh karena itu, bagi setiap individu muslim apabila menyuruh seseorang kepada kebaikan hendaklah ia menjadi orang pertama yang melakukannya. Begitu juga ketika menyuruh seseorang meninggalkan sesuatu, maka hendaklah ia orang pertama yang meninggalkannya.

Menurut penulis, keteladanan seperti ini selalu ditunjukkan Rasulullah SAW, misalnya dalam persiapan menghadapi peperangan melawan kafir Quraisy dan sekutunya (Al-Ahzab) ikut serta menggali parit, suatu strategi perang yang diusulkan Salman Al-Farisi, dan lain sebagainya.

Dalam hubungan ini menjadi pegangan kaum muslimin sepanjang zaman, sebuah hadis shahih diriwayatkan Nasaai, “ibdak binafsik…”, mulailah dari dirimu sendiri. Jangan hanya pandai berkata tapi tak mau berbuat. Keteladanan kepemimpinan seperti ditunjukkan Rasululullah SAW hendaknya kembali menjadi renungan pada saat memperingati Tahun Baru Islam untuk diterapkan oleh para pemimpin muslim, termasuk di Indonesia.

Setiba di Madinah Rasulullah SAW langsung mengikat kalangan Muhajirin dan Anshor dengan tali persaudaraan yang teguh. Inilah dasar yang kedua. Rasulullah SAW menjadikan mereka saling bersaudara di bawah nilai-nilai kebenaran dan kesetaraan. Persaudaraan mereka jelas dibangun di atas landasan agama Islam dan kesatuan akidah.

Menurut Muhammad Al-Ghazali, ikatan persaudaraan ini menghapuskan ‘ashabiyah, kebanggaan kabilah dan fanatisme kesukuan yang tumbuh subur di zaman jahiliyah.
Al-Buthi menegaskan hikmah adanya ikatan ini menjadi salah satu pondasi penting dalam membangun keadilan sosial (ahammul assail lazimah linizhamil ‘adalatil jama’iyah).

Namun menurut penulis, untuk mewujudkan persaudaraan sejati seperti di masa awal pemerintahan Islam sekarang ini akan menemukan banyak kendala. Sebutlah sebagai contoh di Negara Irak yang terus bergolak. Diakui atau tidak, Barat berhasil memarakkan api permusuhan antar kaum muslimin itu sendiri, antara Syiah dan Sunni.

Juga di tanah air kita tumbuh beragam pemahaman seperti Jaringan Islam Liberal, kaum Salafiah yang cendrung eksklusif. Ada pula yang menyebut dirinya Islam, tapi pemahaman dan pengamalannya berbeda seperti Ahmadiyah, sehingga sering memicu konflik internal.

Sulitnya mengharapkan kaum muslimin sedunia saat ini menjalin persaudaraan seperti Muhajirin dan Anshor, juga diakui Munir Muhammad Ghadban. Namun ia katanya, terus berdoa agar hal itu terwujud, karena panjang waktunya, penuh liku-liku, penuh kesulitan (faththariqu thawilan thawilan wa syaqqan syaqqan).

Selanjutnya dasar ketiga adalah Piagam Madinah yang mengatur kehidupan muslim-non muslim. Menurut Al-Buthi dasar ketiga ini merupakan bagian terpenting yang dilakukan Rasulullah SAW karena berhubungan dengan perundang-undangan sebuah Negara baru.

Ibnu Hisyam meriwayatkan dalam kitab monumentalnya Assiratun Nabawiyyah, beberapa hari setelah Rasulullah SAW tiba di Madinah, masyarakat Arab berkumpul menghadapnya. Pada saat itu seisi rumah kaum Anshor telah memeluk Islam. Satu-satunya suku di Madinah yang belum semua warganya memeluk Islam hanyalah kabilah Aus. Ada lagi jiran mereka yang sudah lama menetap di Madinah yakni kaum Yahudi dan musyrikhi lainnya.

Selanjutnya Rasulullah SAW menulis sebuah piagam perjanjian yang diberlakukan bagi kaum muslimin, Anshor dan kaum Yahudi. Di dalam perjanjian itu Rasulullah SAW meratifikasi agama yang mereka peluk (aqarrahum ‘ala dinihim), hak kepemilikan harta dan beberapa hal lainnya.

Al-watsiqah (Piagam Madinah) didefinisikan oleh Al-Buthi sebagai addustur, karena menurut Ulama paling berpengaruh di Timteng ini, addustur (undang-undang) merupakan istilah yang paling modern dan tepat. Undang-undang tersebut disusun Rasulullah SAW berdasarkan wahyu Allah SWT, ditulis para sahabat untuk kemudian dijadikan landasan yang disepakati bersama oleh kaum muslimin dan Yahudi yang bertetangga dengan mereka.

Semua ini tegas Al-Buthi membuktikan bahwa sejak awal masyarakat Islam sudah didirikan di atas undang-undang dasar yang sempurna. Piagam ini sekaligus menjadi bukti bahwa sejak awal “Negara Islam” (addaulatul Islamiyyah) telah memiliki komponen perundang-undangan dan administrasi Negara (al-idariyyah) yang representatif.

Muhammad Al-Ghazali menegaskan, lahirnya Piagam Madinah menepis anggapan bahwa umat Islam sangat eksklusif, tidak bisa hidup berdampingan dengan non muslim. la menggaris bawahi bahwa sejak di Madinah prinsip Islam sudah diterapkan dengan tegas “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”.

Menurut penulis, di Indonesia, para pengarang Siasah Syariah dan pemuka Muslim, sangat menekankan pentingnya Piagam Madinah yang menjadi tonggak dasar, menjadi pendorong bagi umat Islam untuk ikut mengambil peran penting merumuskan dan melaksanakan kerukunan hidup umat beragama di Indonesia. Dan ini akan lestari dalam masyarakat Madani yang toleran.

Source : http://wartadelanggu.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: