Zona Aktualita dan Transformasi Idea Pergerakan

NENG JUGA BISA JATUH CINTA


OLEH : Keylany Mar’ah Guevara


االله اكبر االله اكبر

ااشهد انل لا اله الا الله

واشهد ان محمدالر سو ل الله

حئي ءلى الصلا ة

حئي ءلى الفلاح

الصلا ة خير من النوم

االله اكبر االله اكبر

لا اله الا الله

Dari kejauhan terdengar suara adzan di kumandangkan yang berkolaborasikan suara ayam jantan berkokok. Dengan suara lantang sang muazdin melantunkan syair-syair Tuhan sehingga membangunkan para santri yang masih asyik kencan dengan malaikat mimpi.

Dengan semangat Kaylani beranjak dari tidurnya dan sesegera mungkin melangkahkan kakinya ke kamar mandi guna mengambil air wudluk. Di siramkannya air bening nan suci pada raut wajah yang munggil putih. Dengan diiringi niat yang tulus suci seolah-olah terhapuslah semua beban dan dosa- dosa yang menempel dalam tubuhnya.

Dari kejauhan terdengar suara gemuruh para mudabbir membangunkan para santri yang masih terlelap dalam tidurnya. “bangun………bangun……..ayo dek bangun………!!!”dengan diiringi dengan bel tiga kali, laksana sopir menbunyikan klaksonnya.

Dengan tergopoh-gopoh para santri bangkit dari tempat tidurnya dengan memasang posisi kuda-kuda, sekilat mungkin para santri menempati posisi antri yang berderet-deret di depan kamar mandi sesekali terdengar jeritan para santri yang menempati posisi antri paling akhir. “wai…………ayo………..cepetan dong yang ada di depan “dengan bau mulut yang menyengat salah satu santri berkomentar. “iya nich lama banget………keburu qomat nich ……!” sambung santri yang lainnya. Dengan secepat kilat mereka mengambil air wudluk dan sesegera mungkin melangkahkan kakinya menuju mushala untuk melaksakan sholat shubuh berjamaah.

Seperti biasanya Kaylani dan teman-temannya sehabis melaksanakan sholat shubuh berjamaah mereka mengaji kitab kuning dengan dipandu ibu asrama mereka. Marortu Aisyiyah namanya, tetapi lebih akrab dengan debutan ibu Aisy. Dengan penuh semangat dan rasa optimis yang tinggi. Tak bosan-bosannya ibu Aisy mengajarkan berbagai macam kitab kuning. Lembar demi lembar, mushaf demi mushaf mereka telusuri makna yang terkandung di dalamnya.

Ibu Aisy adalah ibu asrama mereka. Dia adalah sosok pemimpin yang sangat ‘arif dan bijaksana. Dengan penuh kesabaran dan kegigihannya dalam membimbing anak buahnya. Sehingga tak heran jika Kaylani dan teman-temannya tak pernah merasa bosan meskipun dari pagi sudah dicekokin dari berbagai macam kitab kuning mereka tetap enjoy aja.

Dengan penuh semangat Kaylani selalu menjalani hari-harinya di pesantren. Walaupun Kaylani di lanhirkan dari keluarga berada dan ayahnya berprofesi sebagai seorang pengasuh pondok yang biasa kita sebut pak kyai, akan tetapi semua itu tidak menjadi penghalang bagi Kaylani untuk tetap mengarungi berbagai macam ilmu di pondok, sebut saja “Queen”.

Queen adalah nama pondok Kaylani yang berada di kediri yang notobenya jauh dari rumahnya. Dengan berbagai macam aktifitas yang berada di pesantren. Kaylani selalu ikut andil di dalamnya. Walaupun Kaylani menyandang status anak pak kyai. Kaylani tidak pernah memperlihatkan itu semua. Dan semua itu tidak menjadi penghalang untuk bergual dengan siapapun. Sehingga tidak sedikit teman-temannya yang suka jalan bareng bersamanya.

Kaylani yang mempunyai kepanjangan nama “Kaylani as-ShaFiyah” dan biasa dipanggil dengan neng Kay oleh teman-temannya, sekarang menduduki bangku aliyah. Dengan postur tubuh yang lumanyan tinggi, badan tak telalu kurus amat, dan bentuk wajah oval yang tegolong dalam kriteria crew ” GALAKSI ” alias gadis langsing sexsi ini tidak jarang teman-temannya memanfaatkan tubuh yang diberikan tuhan kepada neg Kay.

Kebiasaan buruk teman-teman neng Kay mengoda At-Tashil meletakkan buku-bukunya di rak paling atas, sehingga neng Kay lah yang menjadi korbannya. At-Tashil yang biasa di panggil Illi, usianya paling muda sendiri di antara teman-temannaya, dan yang paling lugu dan manja sendiri. Illi selalu merengek-rengek kepada neg Kay untuk disuruh mengambilkan buku-bukunya. Sehingga mau tidak mau neng Kay menbantunya.

“Nggak hanya poster tubuhnya lho…………yang tinggi. Neng Kay yang bisa dibilang cantik ini, dia juga menyandang title bintang kelas. Setiap akhir semester neng Kay lah yang selalu menduduki rangking. Neng Kay beserta dua sahabatnya selalu berlomba-lomba dan berebut prestasi di kelasnya. Persaingan yang begitu ketatat dengan kedua sahabatnya itu, akan tetapi tidak membuat mereka berpecah belah. Dan yang lebih anehnya lagi dari diri neng Kay adalah. Meskipun dari kecil neng Kay di besarkan di lingkungan pesantren, itu semua tidak menjadi penghambat neng Kay untuk mengembangkan hobinya suka menyanyi dan doyan joget. Tidak hanya nyanyi islam lho…….. dangdut pun juga oke, apalagi di tambah dengan goyangannya yang mawut abis……….

kring……..kring………kring……….bel masuk berbunyi. Dengan berlari kencang neng Kay berserta teman-temannya menuju kelasnya. Kebiasaan buruk neng Kay dan teman-temannya yang suka terlambat membuat satpam yang menunggu gerbang sekolah hanya bisa geleng-geleng kepala. Dengan nafas tersendat-sendat, keringat bercucuran diiringi lagi keroncongan dalam perut mereka memasuki ruang kelasnya. Sesampainya mereka langsung memberi hormat kepada pak guru dan minta izin untuk mengikuti pelajaran. Dengan muka tersenyum pak guru menyambut mereka dan mempersilahkannya untuk mengikuti pelajaran.

“Selamat pagi anak-anak ……………! and shobakhul khoir tilmizd-wa tilmIdati…………..!” . denagan suara lantang pak guru menyapa murid-muridnya. Pak guru yang doyan guyon itu, sehingga murid-muridnya untuk guyon bareng dengan mengajak berbicara lebih dari satu bahasa. “selamat pagi ……..and shobakhul khoir aidhon pak ustadz. “dengan serempak murid-murid menjawab”. Oke anak-anak, sekarang kita mulai untuk pelajaran bahasa arab pada hari ini. “kata pak guru”. Ma makna “hadza……….”Qolam” pak ustazd . itu kan tempat memancing ikan! “dengan suara lantang Ida menjawab. Kemudian dengan serentak teman-teman menertawakannya. “Ayo Fiya ! ma makna “Qolam Fiya?” pak guru mencoba melemparkan pertanyaan kepada Fiya. Dengan suara lantang Fiya menjawab ” Pena……..!”

Fiya yang punya nama panjang Amslati Shorfiyah ini adalah sahabat plus saingan neng Kay di kelas. Jadi tak heran jika Fiya menjawab segala pertanyaan yang di lontarkan oleh bapak guru.

“stumma ma makna “uzdunun ” ya tilmiza wa tilmizdati ?” pak guru mencoba melontarkan pertanyaan lagi”. Lho……….itukan penyakit yang biasanya nempel di pantatkan pak ustazd “Ida dengan asal clomet menjawab kembali. Tanpa terkendali teman-teman menertawakannya. Dengan disambut raut muka asam manis, pipi merah muda, Ida menanggung malu atas ulahnya sendiri. Qoidatul Amsilah yang biasa di panggil Ida ini bisa dibilang yang paling rendah sendiri IQnya di banding teman-temannya sehingga biasanya oleh teman-temannya dijuluki sekolah only D3 (duduk, datang, duweh). Wahai Miya “Ma Makna Uzdunun, Miya ?” pak guru kembali menenangkan suasana di kelas sempat gaduh akibat ulah Ida. “telinga…….” dengan suara lemah lembut Miya menjawab.

Miya juga salah satu saingan terberat neng Kay. Miya yang mempunyai sifat pendiam tapi dia nggak kalah prestasinya dengan teman-teman dikelasnya.

Tak lama kemudian pak guru melontarkan lagi. “Ma Makna Sabbuurotun” ? kali ini Ida lebih memilih bungkam mulut dan diam seribu bahasa. “pak guru ………” papan tulis” sambil mengacungkan tangan neng menjawab. “ya…… shahih ……shohih siddan Kaylani “. Dengan tersenyum pak guru menanggapi jawaban neng Kay.

Neng Kay, Miya, dan Fiya adalah murid kesayangan para guru yang mengajar di kelasnya. Merekalah yang selalu mendudukki predikat bintang kelas sho…….. tak heran jika pak guru selalu memanjakan mereka bertiga.

Kring…………kring……….kring……….bel berbunyi tanda KBM telah usai. Dengan sesegera mungkin pak guru mengakhiri pelajaran dan memberi kesempatan murid-murid untuk istirahat.

NengKay dan teman-temannya dengan wajah ceria dan penuh semangat keluar dari kelas dan melangkahkan kakinya menuju kantin.

Neng Kay yang biasa jalan bareng dengan Miya, Fiya, Illi, dan Ida sekilat mungkin mereka menyerbu kantin yang berada di belakang sekolah. Sambil menyantap kue yang di sediakan ibu kantin mereka ngobrol ngalor-ngidul nggak karuan “Winah……….. ginama tadi rasanya ditertawakan teman-teman sekalas ” sindir Fiya kepada Ida”. Biasa aja lagi…….!” dengan nanpang cuek Ida asal jawab “. Nggak usah dihiruakan lagi da…….! berani menjawabkan sudah untung-untungan…….” sahut neng Kay yang selalu ngebelain Ida jika Fiya mengejeknya.

Sehabis menuntaskan semua mata pelajaran neng Kay beserta crew-crewnya kembali ke asrama dan tak pernah ketinggalan mereka selalu mamper kewarung favorit mereka yang biasa disebut warung bu Benges. “Nasinya bu 5 bungkus “. dengan suara lantang neng Kay memesan nasi. Neng Kay yang juga punya hobi makan selalu semangat kalau disuruh pesan-pesan yang ada Kaytannya ada makanan “beres neng………” bu benges menjawab ” nich …..neng nasinya 5 bungkus” tak lama kemudian buk benges menyerahkan 5 bungkus nasi kepada neng Kay dan crew-crewnya. “makasih buk………..!” jawab mereka serempak.

Kemudian mereka langsung melangkahkan kakinya menuju asrama tercinta dan tak jarang ketika mereka jalan bareng cowok-cowok yang biasa nongkrong dipinggir jalan selalu godaiin mereka. “shuit…..shuit…….cewek, mau keman nich? Ikut donnk……! “sapa cowok yang lagi asyik nongkrong dipinggir jalan “. Dasar cowok gatheli “jawab Ida asal jeplak .” waduh tinggi amat nich anak ……..tapi nich orang atau tiang listrik ya ? ha…….ha……” sahut teman dipinggirnya diiringi dengan tawa terbahak-bahak. “tapi cuantik juga………boleh kenalan donk ……..? neng………senyum dikit donk ! sombong amat sich? “salah satu teman merunpuli lagi.

Dengan ekpresi cuek neng Kay membiarkan para cowok brondong itu menggodanya. Dengan sesekali mencibirinya. Begitulah ekpresi nengKay jika ada cowok usil menggodanya. Tapi bukan neng Kay anti ama cowok lho…….tapi mang begitu lagaknya ma cowok yang nggak dikenalnya.

Dengan secepat kilat mereka melangkahkan kakinya menelusuri jalan yang belum beaspal. Ya ……lumanyan ancur sih jalannya gula kacang banget gitu…….tapi sehancur-hancurnya jalan yang mereka lewati tidak mengurangi kecepatan jalan mereka. Panas menyengat yang diiringi musik keroncong yang beralunan dari dalam perut mereka, menbuat mereka tetep semangat melewati jalan tersebut.

Sesampai di asrama tak lupa neng Kay beserta crew-crewnya melapor kepada bu ‘Aisy, cuma sekadar melapor bahwa mereka udah berada di asrama. Ya …….maklumlah karena mereka hidup dipesantren jadi ya…. mau nggak mau……… harus ngikuti peraturan di pesantren.

Setelah itu mereka langsung menyantap nasi yang sudah dibelinya tadi. Tanpa basa basi Ida langsung memakannya ” yuk…….. makan yuk………!!!” ajak Ida kepada teman-temannya “Ups……..jangan lupa and dno’t forget berdoa dulu sebelum makan” ajak neng Kay dengan nada ramah. Ya begitulah mereka selalu lupa jika perut mereka sudah nggak bisa di ajak kompromi, akan tetapi neng Kay selalu mengingatkannya. Sehabis makan, seperti biasanya neng Kay dan crew-crewnya mengikuti aktivitas yang ada di asrama mereka.

Ujian akhir sekolah semakin dekat, neng Kay dan teman-temannya semakin giat belajar. Tiap malam mereka nggak pernah telat untuk melaksanakan sholat tahajud. Tak henti-hentinya mereka merengek dan meminta bantuan kepada Tuhannya. Dengan hati yang tulus, jiwa yang suci, neng Kay menghadapkan wajahnya kepada Tuhan Yang Maha segalanya. Tanpa malu-malu neng Kay meminta segala sesuatu yang diinginkannya. “ya allah ya tuhan kami berikanlah kami kecerdasan, kepinteran, berikanlah kami kemudahan dalam mengerjakan soal-soal ujian. Ya allah ya tuhan kami berikan kami ilmu yang barokah, manfaat fiddini waddunya khatal akhirah. Amin amin yaa robbal’alamin” do’a neng Kay setiap malam.

Tak kalah juga dengan Fiya, disamping juga ia rajin belajar, dia juga tak pernah absen sholat tahajud. Dengan tangan menengadah ke atas Fiya menanjatkan do’a kepada Tuhannya. “ya…….malikul mulk pencipta alam semesta, penenang jiwa, pemberi rahmat berikanlah kepada kami kemudahan dalam mengerjakan soal-soal ujian, berikanlah kepada kami kemudahan dalam segala hal usaha kami termasuk nyontek, buka buku, ngerpekdan kawan-kawan. Amin-amin ” ya……..begitulah Fiya yang suka konyol dalam berdo’apun tidak bisa dihilangkan sifat kekonyolannya.

Fiya adalah teman terdekat neng Kay. Setiap ada masalah neng Kay berbagi cerita dengan Fiya, begitupun juga sebaliknya. Fiya yang suka konyol dan jaili teman tak membuat neng Kay sakit hati jika dekat dengannya. Justru semua itu yang membuat neng Kay selalu merasa enjoy jika bersamanya.

Seperti biasanya neng Kay beserta crew-crewnya berangkat bersama ke sekolah. Neng Kay beserta crew-crewnya selalu kompak dalam menjalankan aktivitasnya, crew neng Kay yang paling cerewet, paling bandel, suak usil and paling hobi nglanggar peraturan so……..tak heran jika banyak mudabbir yang selalu mengawasinya fulltime 24 jam. Akan tetapi banyak juga kelebihan yang mereka miliki. Mulai dari hobi mereka yang telat berangkat ke sekolah tetapi mereka tak pernah bolos. Mereka yang hobinya suka nggodain guru akan tetapi mereka nggak pernah telat ngumpulin tugas. Mereka yang punya kelebihan lihai dalam berbicara tak jarang mereka memanfaatkannya. Setiap kali ada diskusi merekalah yang selalu menjadi subyeknya. Ya…….begitulah crew Kay yang selama ini mereka bangun dan dipertahankan.

Suatu ketika neng Kay hanya jalan bareng ama Fiya karena teman yang lainnya pada ribut ngerjakan tugas. Tiba-tiba salah satu teman cowok kelas neng Kay manggil-manggil nama neng Kay. “neng Kay………neng …….tunggu bentar” dengan suara lantang Aqil memanggil. Hah Aqil ada apa tumben sich “bisik neng Kay kepada Fiya” mangnya da apa sich “jawab neng Kay dari kejahuan” aku ada perlu nich. Puenting and very-very puenting jiddan “dengan bahasa korat karit Aqil memanggil disertai lambaian tangan kurus Aqil. “kangen ya…….. ma aku? “dengan asal ngomong neng Kay menjawabnya. Tanpa pikir panjang neng Kay menghampirinya. “hah……….kangen? PD buanget………! “Aqil meledek. Ya……….begitulah kalau neng Kay lagi bercanda nggak ada kata PD atau GR . “ya……..adapa sich ?” kemudian neng Kay mengalihkan pembicaran. “emh……….gimana ya???” Aqil mulai berbicara sambil senyam-senyum . “lho………..kamu ini gimana sich ? lawong kamunya dulu yang ada perla amaq aku. Kok……….. malah tanya balik ke aku “cerocos neng Kay dengan nada sebel”. “iya………iya……….yang panggil duluan aku gitu saja sewot banget”. “kamunya sich ngomongnnya nggak jelas”. Sahut neng Kay lagi “emh itu kemaren tuch………ada teman aku yang titip salam ke kamu. Katanya sich salam kenal . “kata Aqil kemudian”.

“emangnya siapa sih namanya? “tanya ning Kay kemudian” emh…… gimana ya? Orangnya enggak mau di sebut namanya. Entar aja biar tau dengan sendirinya. Katanya sih gitu…….”jawab Aqil” duh emangnya siapa sih? Resek amat” celoteh ning Kay.”Sebenarnya sih dia adalah titik, titik ama kamu jelas Aqil. “titik, titik…………….Ya dach kalau gak mau sebutin namanya gak bakal aku peduliin”. “ye jangan gitu dong! Jangan sok jual mahal!celoteh Aqil kemudian.

“hah………….apa kamu bilang? Aku sok jual mahal?terserah, terserah kamu mau ngatain apa. Yang penting no comen” jawab neng Kay tegas”. “ya……..nich anak jutek banget sich “cela Aqil. “udah Cuma gitu dong? “tanya ning Kay kemudian. “lho kok………responya Kayak gitu? Gimana salamnya di terima apa engga? “gak penting tau” sambil memalingkan muka ning Kay dan Fiya meninggalkan Aqil. Suasana yang semakin memanas Fiya hanya bisa diam aja. Dengan perasaan kecewa Aqil membiarkan ning Kay pergi meninggalkanya.

Begitulah ning Kay, di samping sifat belia yang ramah tamah dan tidak suka membeda-bedakan, kalau udah ada orang yang mau usil end godain ning Kay, neng Kay rada emosi dan nyuekin begitu aja.

Neng Kay dan Fiya meluncur kembali kekelasnya. Sambil cimat-camit neng Kay jalan disertai raut muka asam asin bak laknasa kuang kehilangan induknya. Sehingga Fiya jalan bareng dengannya agak sedikit risih.

Udahlah Kay nggak usah dipikiri, mungkin Aqil hanya iseng doang. Atau……….Aqilnya sendiri yang ingin dekat dengan kamunya. Ha……..6x Fiya memecahkan kesunyian yang sempat memperkeruh suasana. Akan tetapi usaha Fiya sia-sia. Neng Kay masih tetap aja diam dengan wajahnya yang geram. “Kay…….! kok diam aja sich ? ngomong donk…………! “goda Fiya” udah dech………..bisa diam nggak sich “jawab neng Kay dengan nada sebel.

Keheningan diantara mereka berdua kembali muncul. Sampai berada di dalam kelas neng Kay tak berucap sekata patahpun. Begitupun Fiya hanya bisa mengimbanginya untuk bungkam mulut juga.

Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, hari berganti hari gosib tentang neng Kay semakin hangat. Setiap kali neng Kay ketemu dengan teman cowok tak jarang nyampaikan salam untuk neng Kay dari seseorang dan sampai begitu hangatnya gosib neng Kay masih belum tahu sebenarnya siapa yang titip salam itu. Setiap kali neng Kay balik tanya mereka selalu menjawab dengan senyum. Dan semua itu membuat neng Kay nggak betah berada di kelasnya.

Seperti biasanya sehabis menuntaskan semua pelajaran di kelasnya mereka pulang bareng dan tak lupa mampir kewarungnya buk benges. Ketika mereka melintasi koprasi yang tak jauh dari sekolahnya, tiba-tiba ada suara anak laki-laki yang panggil-panggil neng Kay.

“neng Kay…………..neng Kay………..tunggu bentar…………! “sambil berlari kecil cowok itu menghampiri neng Kay. Dengan tanpa banyak bicara anak itu mengasihkan sepucuk surat dan langsung membalikkan badannya dan melangkah secepat kilat.

Dengan raut muka terkejut dan wajah melongo…….neng Kay beserta crew-crewnya menatap heran cowok yang sudah lari terbirit-birit yang udah tak kelihatan jejaknya. Dan diantara salah satu mereka tidak ada yang kenal dengan cowok tersebut.

Dengan tanpa pikir panjang neng Kay langsung menbuang sepucuk surat itu. ” lho…….kok dibuang ? ” tanya Miya kemudian . “iya kok di buang sich ??” sahut teman-teman yang lain. “biarain aja, mungkin ada orang iseng aja “jawab neng Kay dengan nada cuek. “emh……..Kay………..! mungkin kertas itu nggak ada Kay tannya dengan yang diomongi Aqil kemaren “Fiya kemudian memecahkan keheningan. Karena teman-teman yang lainnya nggak ada yang tahu permasalahannya. Mereka hanya bisa saling pandang memandang dengan mengangkat bahunya

“iya kali……….” jawab Ida asal clomet. “ya dach………..ambil aja ! siapa tahu kertas itu penting bagi kamu ! atau…………ada orang yang lagi butuh banget ama kamu…….!!! “dengan penuh bijak Miya memberi saran. Dengan tanpa disuruh Fiya langsung mengambilnya. ” ya dach…….. biar aku aja yang membawa. Bereskan…….??!! “sambil mengambil kertas Fiya menggandeng tangan neng Kay dan mengajak mampir ke warung bu benges.

Neng Kay yang selalu semangat kalau pesan nasi dan yang paling doyan makan, tapi kali ini neng Kay hanya makan sedikit. Lho…..kok nggak dimakan ?” tanya Fiya kemudian. ” udah kenyang, tadi pagi sudah sarapan”. Jawab neng Kay kemudian. “bener nich ? nggak nyesel…………? ntar sore udah nggak ada jatah makan lho………..!!! “dengan nada goyon Fiya menimpalinya. “nggak………!! habisin aja sendiri………….! aku sudah kenyang kok”.

Hujan-hujan membasahi perkampungan “Queen” diiringi nyanyian sang kodok yang lagi duet dengan cicak membuat para santri semakin terlelap dalam tidurnya. Dengan melantunkan syair-syair Tuhan yang termaktubkan dalam kitab suci Al-quran neng Kay membacanya dengan suara merdu.

Seperti biasanya, sehabis sholat tahajud neng Kay melantunkan ayat-ayat Tuhan dengan nada bayati koror, suri wa serit kalau bahasa goyon para santri.

Dengan berakhirnya surat Yasin neng Kay mengakhiri mengajinya. Yang ini yang lain dari neng Kay. Yang biasanya sehabis mengaji langsung menyambar bantal dan selimut yang ada di sampingnya. Malam ini neng Kay lebih memilih duduk menyantai di tangga yang berada di depan kamarnya. Sambil melamun, merenungi dan memikirkan keindahan ciptaan Tuhan, neng Kay terbawa oleh situasi hatinya yang terluka. Dengan ditemani buku diary kesayangannya neng Kay mencoba menggoyangkan penanya.

“Tuhan bimbinglah hamba-Mu ini”

Tunjukkanlah selalu hamba-Mu ini kejalan yang benar

Jika aku berada di jalan yang salah

Jangan enggan Engkau memperingatkan ku

Tuhan aku yakin bahwa Engkau akan selalu

Menolong hamba-Mu dikala membutuhkan

Tuhan berikan sesuatu untuk ku

Tanpa disadari ternyata Fiya udah berada disampingnya. “emh………masih sebel ya ?” Fiya mencoba memecahkan keheningan.dengan sikapnya yang dingin nengKay menggelengkan kepalanya “emh……….nggak mau baca suratnya nich………..?” kali ini neng Kay hanya diam seribu bahasa. Dengan rasa ragu Fiya mengeluarkan sepucuk kertas dari sakunya. “nich……….”tak lama kemudian Fiya menyodorkan sepucuk kertas itu kepada neng Kay.

Dengan penuh keraguan neng Kay mengambil kertas yang telah disodorkan Fiya. Dengan perlahan-lahan neng Kay membuka surat tersebut. Diiringi detak jantung yang semakin kencang neng Kay mencoba membacanya. Karena tulisannya yang lumayan ancur neng Kay membaca dengan rada melotot.

Dear: Kaulah as-Shopiya.

Salam hangat dan sejahtera

Seiring dengan sinar matahari

Seiring rembulan bersinar di malam hari

Seiring itu pula masa itu menggeluti

Poros hatiku

Tapi aku tak mengerti

Apakah masa ini

Yang di sebut dengan ………….

Jika memang masa itu memang benar

Ijinkan segenap hati dan bibirku

Berucap……….

Aku sayang kamu

Aal

Dengan sangat terkejut ning Kay membaca, apalagi melihat tulisan yang berada di paling pojok paling bawah kertas. Dengan segenap jiwa berkobar-kobar, neng Kay mencoba memadamkan api yang membara di dalam hatinya.

Begitu juga dengan Fiya. Fiya sangat kaget ketika melihat di pojok kertas yang bertuliskan “Aal”. Karena neng Kay dan fiiya sangat kenal akrab dengan yang namanya “Aal”.Aal yang mempunyai nama alFiyah Ibnu Malik adalah teman mereka ketika mereka masih berkecimpung di organisasi Ratus. Cuman selisih umru 2 tahun di antara mereka.

Aal yang mempunyai tubuh tinggi berbadan atlet, berwajah manis dan berkatagori cowok yang pendiam dan cool tetapi agak sedikit sombong dan angkuh, sehingga tidak sedikit cewek-cewek yang suka padanya. Ketika mereka masih berkecimpung di organisasi Ratus, tak jarang neng Kay dan Fiya ngajak untuk diskusi bareng, ngobrol bareng dan tak jarang mereka guyon bareng. Neng Kay dan Fiya sudah menganggap Aal sebagai kakanya sendiri. Setiap ada kesulitan neng Kay dan Fiya selalu meminta bantuan kepada Aal begitupun sebaliknya.

Setelah Aal lulus dari aliyah mereka jarang sekali berjumpa bahkan tidak pernah berjumpa. Aal yang duduk di bangku kuliah selalu sibuk dengan tugas-tugasnya yang padat sehingga tak heran jika mereka tak pernah berjumpa, bahkan bertemu pun jarang. Mereka terakhir ketemu ketika ada acara temu alumni bersama kakak kelas pada akhir tahun ajaran kemaren.

“Gimana Kay? apa yang akan kamu lakukan?” tanya Fiya kemudian. Aal suka ama kamu? Padahal kan dia adalah kakak kita, yang selalu memberi masukan kepada kita, yang selalu mebantu kita, yang selalu ngingetin kita ketika salah. Bahkan dia sendiri yang ngelarang kita untuk pacaran. Dia sendiri juga yang bilang ke kita kalau pacaran itu membuat kita bodoh. Apa gak ngelindur nih orang? Atau…………..jangan …………2x ???” ngalor ngidul Fiya mengingat-ingat.

“ntahlah, kenapa kok Aal jadi berubah begini ya ?” timpal neng Kay kemudian.” Kay kak Aal kira-kira apa benar-benar suka ama kamu? Atau………hanya sekeder……………??? “Fiya menebak-nebak. “ssst………..udah ah jangan diterusin. Aku lagi nggak mau ngomongin ini……….!

Suasana dingin kembali menyelimuti mereka. Desiran angin menembus tulang rusuk sum-sum. Kesunyian membangunkan bulu kudu yang terlelap. Kodok, jangkrik, cicak memecah kesunyian diantara mereka berdua.

Jam dinding berdendang menandakan pukul 02.00 “srek………….srek……….srek” suara seretan sandal membuyarkan lamunan mereka. Detak jantung yang semula normal kini meninggi 180 derajat. Mereka saling pandang memandang dan satu……………dua…………….tiga……………!!! mereka lari terbirit-birit kedalam kamar. Ya memang begitulah, kadang terjadi yang aneh-aneh di pondok Kaylani. Maklumlah……….namanya juga pondok pesantren sarangnya santri cari ilmu juga melaikan jin-jin cari mangsa.

Tak lama kemudian mereka terlelap dalam tidurnya. Hanya dalam jangka waktu 5 menit mereka beradu nasib dengan mailakat mimpi.

Hari-hari berikutnya neng Kay nggak ngerti. Apa yang seharusnya dia perbuat. Untaian cinta surat demi surat , selalu neng Kay terima, salam dari mulut ke mulut selalu terdengar. Gosib semakin heboh didunia infotaiment di Republik Queen. Jadi tak heran jika ada sesuatu yang berubah pada diri neng Kay.

Neng Kay yang biasanya periang menghadapi hari-harinya kini berputar arah menjadi 180 derajat celcius, menjdi pendiam, menyendiri, melamun dan jarang kumpul bareng dengan sahabat-sahabatnya. Sesekali hanya Fiya yang berani mendekatnya. Buku-buku nya pun nggak pernah ia pegang, tugas-tugas sekolah selalu diabaikannya. Sehingga menbuat teman-teman yang lain pada kebingungan dan semakin penasaran, musibah apa yang sebenarnya menimpa neng Kay.

“hei……………temen-temen sebenarnya ada apa sich dengan neng Kay ?” tanya Ida pada teman-temannya. Ketika itu dikamar mereka kebetulan nggak ada neng Kay dan mereka nggak ada kegiatan, sambil nyamil-nyamil mereka selalu nggosib alias ngerasani menurut meraka nggask beres.

“iya, kok Kayaknya akhir-akhir ini ada yang berubah dari diri neng Kay” timpal Ilil kemudian. “atau jangan-jangan karena dapat surat ilegal tenpo lusa itu ??” Ida beragumen. “mangnya tuch surat dari siapa sich ?”” dengan kepolosannya Ilil buka mulut. “ye………..kalau aku tahu, aku ya……….nggak bakalan tanya gini. Dasar katrok………….makanya jadi anak jangan lugu-lugu banget biar nggak katrok. “asal nyerocos Ida menjawabnya. Dengan muka cemberut Ilil menikmati cerocosan Ida. ” ya……….maklumlah, Ilil kan masih kecil “Ilil berusaha membuat pembelaan”. Ha………kecil. kalau kamu ya nggak kecil lagi. Katrok yang iya. Ha……….ha………..ha……..ha……….”. dengan tertawa terpingkal-pingkal Ida nggak mau kalah ngomong.

“uda ah……..ah…………….!! kok yang kalian yang ribut “kali ini Miya ikut buka mulut, karena nggak betah melihat mereka berdua ngomong ngalor-ngidul nggak jelas tujuannya. Ya beginilah si Miya yang selalu hemat kalau masalah ngomong atau buka mulut.

“iya……….iya…..kamu sich lil ………….!!??” sahut Ida kemudian . “lho……….kok aku yang disalahin “Ilil berusaha pembelaan. “udah……..udah…………jangan ribut aja………..! ” dengan nadi tinggi Miya mencontong adu mulut merek berdua.

Seiring itu pula suasana hening menyelimuti kamar mereka “udah dech………..gini aja. Dari pada ribut-ribut dan nggak ada yang tahu jawaban pastinya.mending kita senidri aja yang langsung tasnya ma dia. Gimana ? “kali ini Miya yang memecahkan keheningan dan memberikan solusi. “Kayaknya………kalau dipikir-pikir neng Kay nggak bakalan mau cerita ama kita-kita. “selama ini kan dia hanya terbuka ama Fiya aja kan ?” Ida menyanuh. “ya da dech……….biar ntar aku sogok paket coklat biar neng Kay mau buka mulut “Ilil yang kecil ikut-ikutan nimbrung juga “ooh……………dasar balita, nggak pernah pake otak kalau ngomong …………”celoteh Ida Ilil.

“emh…………..atau gini aja. Biar ntar aku sendiri yang mencoba ngomong kepada neng Kay. Gimana ? apa salahnya sich kita mencoba, dengan bijak Miya memberikan solusi. Dengan pasang senyum manis Ida dan Ilil menyetujuinya.

Malam kembali menyelimuti perkampungan “Queen”. Hujan rintik-rintik kembali mengguyur dedaunan hijua nan rindang. Paduan suara para kodok dan jangkrik menbuyarkan para santri yang masih asyik ngrumpi.

Sehabis belajar bareng neng Kay memilih untuk ngrumpi bareng sama sahabat-sahabatnya. “waaah……..Kayaknya udah lama kita-kita nggak kumpul-kumpul bareng”.

Dengan nada menyair Ida membuka prolog forus diskusi alias bigos. “ye……….bilang aja kalau lagi kangen dengan yang namanya Kaylani. Ha……….ha……………ha…………”sahut neng Kay. ” idih………. PD amat sich, nich anak” neng Kay hanya bisa senyum-senyum. “udah dech………….dari pada ntar diskusinya nggak bisa tuntas malam ini. Mending kita mulai sekarang” cerocos Ilil tanpa pikir panjang. “diskusi…………diskusi apa an………..”jawab mereka serenpak.

Secara spontan mereka serempak terdiam.

“emh…………neng Kay……………! kalau kira-kira boleh tahu nggak ? sebenarnya ada musibah apa yang menimpa kamu, sehingga ada sesuatu yang berubah”. Miya mulai pembicaraan. Sejenak neng Kay terdiam “ooh………nggak. ya…………nggak ada apa-apa “mungkin hanya perasaan kalian aja doank” dengan nada rendah neng Kay mencoba memberi penjelasan. “udah lah……….Kay nggak usah ditutupi-tutupi, bilang terus terang aja mungkin kita bisa bantu. Kita-kita sahabat kamu……….” Ida kemudian membujuk neng Kay. Sunyi, sepi sesaat kembali hadir. Fiya yang udah mengetahui semua permasalahannya memilih untuk diam seolah-olah nggak tahu apa-apa.

“emh………gimana ya………..??!!”neng kembali membuka mulut. “lho balik tanya ?” sahut Ilil dengan nada keras”. Dasar bocah cilik, kalau di ajak ngomong wong gede nggak pernah nyambung dengan asal ngomong Ida kembali menghidupkan suasana.

”emh………….sebenarnya sebelum aku dapat surat kemerin, aku di panggil ama Aqil dan dia bilang kalau aku dapat salam dari seseorang dan dia nggak mau nyebutin namanya neng Kay mulai curhatnya. “trus……….trus……..” Ilil kembali clometan. “ssstt………….udah jangan ramai aja………..!! “timpal Ida “. ye………..siapa yang ramai, lawong Cuma tanya doank” Ilil mencoba membela diri.

’terus kemaren waktu pulang sekolah bareng kalian dapat surat itu ”neng Kay melanjutkan curhatnya. ”idichh……….nich anak nyebelin banget . ”sich” tangkas Ida dengan nada emosi, ”sebenarnya aku gak mau lihat. Apalagi membacanya, dan ternyata surat itu…….surat itu …….”dengan penuh keraguan ning Kay melanjutkan pembicaraan. ”aku mencoba membukanya dengan perlahan-lahan dan aku coba membacanya, dan ternyata surat itu dsari Aal ……………”.”hah…………A…a…L” sahut mereka serempak. Dengan nada tinggi .

”terus…….terus………isinya apa ? tanya Ida kemudian. ”isinya ………bilang, bilang apa…………kalu dia…….kalau dia………suka ama aku, dengan nada tersendat-sendat neng Kay menjelaskan . ” hah………!!!suka kamu……..?? lagi-lagi mereka dengan serempak berkomentar.

“Ya … Of course. Aku. “Kaylani” ngak pernah dan nggak akan pernah jatuh cinta apalagi pacaran. Hi …. Amit-amit” timpal nebf Kay dengan tegas. “ Kita Crew GALAKSI alias gadis langsing sexsi nggak akan pernah pacaran” janji mereka serempak.

Tanpa disadari malam semakin mencekam. Tak lama kemudian mereka terlelap dalam keadaan berantakan. Nggak ada yang pake’ bantal apalagi selimut seperti mayat akibat korban sunami.

Dengan wajah yang cerah neng Kay menjalani hidupnya normal seperti hari-hari sebelumnya. Hari bertambah hari mereka semakin kenceng menggeluti soal-soal ujian yang pernah diberikan oleh guru mereka. Ujian yang biasanya menjadi boomerang bagi siswa/I kelas tiga. Tapi buat neng Kay dan sahabat-sahabatnya itu semua merupakan tantangan yang harus dihadapi dan dilaksanakan dengan sebaik mungkin.

“Panggilan, kepada saudari Kaylany kamar Roudlatul Azizah harap segera ke gerbang karena ditunggu saudaranya” terdengar suara ibu Aisya lewat Mega Phone memanggil neng Kay. Key … key ….. kamu dipanggil tuch ….. ke gerbang “ panggil Fiya dari luar. Mangnya sapa sich yang panggil aku ?” teriak neng Kay dari dalam kamar “aku juga kurang tahu, coba saja kamu samperin, siapa tahu family kamu ” bujuk Fiya kemudian.

Tak lama kemudian, dengan menggunakan gaun ala pesantren, baju warna merah jingga bersarung sunda dan berkerudung minang, neng Kay keluar dari kamarnya, dengan penuh penasaran disertai keraguan yang tinggi neng Kay melangkahkan kakinya menuju pintu gerbang.

Detak jantung bergerak semakin kencang, darah berdesir memuncak melantunkan denyut nadi semakin tegang. Putaran jam seolah-olah berhenti berputar, ketika neng Kay melihat sosok manusia berdiri membelakangi gerbang dan ternyata neng sangat, dan sangat mengenalnya. Dengan sekuat tenaga neng Kay berusaha mencoba menurunkan tekanan darah yang sempat memuncak. Menata kembali hembusan nafas dari jantungnya.

Jam dinding kembali berputar normal. Neng Kay mencoba menata ekspresi wajah sesimpel mungkin agar tidak kelihatan canggung ketika menghadapinya. Dengan sapa lemah lembut neng Kay mencoba menyapa duluan “kak Aal panggil saya ? mangnya da apa ? kok tumben banget ”.dengan ekspresi terkejut dari suara neng Kay, Aal terhanyut terpesona dengan sesuatu yang ada dihadapannya”. Ntah ini hanya sekedar mimpi atau kenyataan aku sangat bahagia sekali, walaupun pepatah mengatakan cinta nggak harus memiliki, aka ntetapi aku sangat seneng banget “bisik Aal dalam hatinya” emh nggak … nggak ada apa-apa kok”

“Lho kok manggil saya ? jangan-jangan … kangen ya ama Kaylany …?” neng Kay berusaha menghilangkan ketegangan.

“Dengan salting Aal memandang neng Kay”. Kalau menurut kamu gimana ? Aal mencoba mengimbanginya “ye … ada-ada nich kakak” neng Kay menimpali.

“ya dach dech kak … kalau memang nggak ada perlunya Kaylani masuk dulu ya ……….…? Coz Kaylani masih banyak tugas nich” Kaylani mencoba melarikan diri. Sebenarnya dari tadi neng Kay udah nggak betah and ngerasa risih tapi mau ngak mau ya ………… “nich … Kay ada bingkisan kecil untukmu jangan ditolak ? please… please banget” Aal menyodorkan sebuah bingkisan. Kresek berwarna hitam kepada neng Kay “ lho ………. mangnya ada acara apa ? Kaylani juga nggak sedang ulang tahun ? ! cerocos neng Kay,

“Kay ayolah terima …! Itung-itung buat nebus kesalahan yang pernah aku buat selama ini. Ayolah … Kay … dengan wajah memelas Aal merengek-rengek bak bayi baru lahir dari kandungannya.

Dengan berat hati dan nggak tega neng Kay pun menerimanya. “nach gitu dong ………… makasih ya …” sambil pasang senyum kemudian Aal pamitan pulang” ya dach aku pulang dulu, ingat jangan dibuang kalau memang nggak suka. Neng Kay hanya tercengang diam sambil menatap Aal yang menghilang dari hadapannya.

Kemudian neng Kay melangkahkan kakinya kembali ke kamarnya. Dengan penuh keraguan neng Kay membuka bingkisan bersama Fiya, ternyata di dalamnya terdapat kue bertaburan keju yang dikemas dalam bentuk I Love You.

Aal sangat faham betul apa kesukaan neng Kay jadi tak heran jika segala sesuatu yang diberikan pada neng Kay selalu tepat.

Awalnya neng Kay nggak mau memakannya. Kemudian Fiya membujuknya akhirnya neng Kay pun ikut memakannya. Fiya yang paling benci dengan makanan yang berbau-bau keju so … Fiya cumin makan dikit. Dan neng Kay dengan senang hati melahapnya sampai habis

“ Emh … katanya nggak mau tu … akhirnya …” ledek Fiya kepada neng Kay.

“Salahnya sendiri nggak mau … ya udah. Dari pada mubadzir ha …3x neng Kay nggak mau nyerah”. “ye … kalau gini Fiya yang disalahkan …!” Timpal Fiya

hari bertambah hari Aal selalu mengirim berbagai macam bingkisan. Mulai dari berbagai macam makanan kesukaan neng Kay sampai segala sesuatu benda yang disuKay neng Kay. Dan semuanya nggak ada yang meleset. Dengan senang hati neng Kay selalu menerimanya.

Hari berganti hari neng Kay semakin enjoy. Hatinya selalu dikuasai bunga-bunga yang semerbak wangi. Selalu menjaga penampilan dan sering senyum-senyum sendiri. Neng Kay yang biasanya selalu membawa buku jika ada waktu luang tapi akhir-akhir ini neng Kay malah memilih menyendiri dan berkhayal dalam dunia maya.

Ternyata diam-diam neng Kay menumbuhkan benih-benih cinta dalam hatinya. Neng Kay mulai senang dengan segala pemberian dari Aal dan sering ngebahas Aal jika sedang ngerumpi bareng sahabat-sahabatnya. Dan tanpa diketahui sahabat-sahabatnya neng Kay sering mendapat surat dari Aal dan langsung dibalasnya.

“heh … tahu nggak kalian ? Kayaknya sekarang Kaylani jarang buka buku dech …” iya Tanya ama temen-temennya yang lain.” Iya betul … sering senyum-senyum sendiri”, dan selalu menjaga penampilan” timpal Ida kemudian.

“Wah kalau yang gitu biasanya tuch … !” jawab Fiya dan Ida serempak. “masak iya sich…!” timpal Fiya kemudian. “kalau memang iya sama siapa ya ?…” tambah Ida … “hah … Aal …” Jawab mereka serempak.

Hari-hari berikutnya sahabat-sahabat neng semakin penasaran neng Kay sering menyendiri dan jarang banget kumpul bareng dengan teman-temannya. Dan satu persatu teman-temannya menjauhi neng Kay.

Fiya yang paling peka dengan rasa penasaran, dengan segala cara Fiya menari informasi. Fiya agak sedikit kecewa ama neng Kay, semenjak kedatangan kembali Aal pada kehidupan neng Kay Fiya nggak pernah digubris dan nggak lagi curhat-curhat ama Fiya.

Fiya terus mengkorek-korek berita tentang neng Kay dan Aal lewat teman-temannya Aal.

Suatu ketika Fiya pulang sendiri lewat belakang sekolah karena mau mencari sesuatu. Tiba-tiba terdengar ada orang bercakap-cakap. Dengan mata terpana dan tubuh melemas Fiya mencoba menjelaskan pandangannya ke lorong kecil di samping perpustakaan sekolah. Dengan rasa gak percaya Fiya melototi lorong tersebut dan ternyata deg…….deg jantung Fiya berdetak semakin kencang.

“Ning Kay ………….”dengan sepontan Fiya menjerit “ hah……….fi ……..Fiya ………..!dengan sangat terkejut ning Kay meihat Fiya.

“Ooh…………jadi ini, selama ini kamu menjauh dari teman-teman hanya gara……., hanya gara-gara ini………..”dengan nada kasar Fiya mencaci maki ning Kay. Kamu gak pernah belajar bareng teman-teman, kamu melepaskan satu persatu sahabat mu hanya gara-gara ini …………ternyata kamu lebih mementingkan cintamu dari pada pacarmu………..ok……..ok …………kalau gitu kita gak akan ganggu kalian lagi. Dan sampai disini saja”. Sambil lari Fiya meninggalkan mereka berdua.

“Fiya……..fi………Fiya……..!! dengan menjerit ning Kay menyusul lari Fiya dan langsung mengabaikan Aal. Kini Aal hanya bisa terdiam dan tak kuasa berbuat apa-apa.

Dengan mengerahkan segala tenaga ning Kay mengejar Fiya dan menariknya dari belakang. ”Fiya ……….Fiya……….dengering penjelasanku dulu……..”

“udah, udah cukup semua sudah jelas. Terus terang aja. Aku Fiya sahabatmu sangat kecewa dan amat kecewa” sentak Fiya kemudian.

Fiya……….!!! Sebenarnya aku juga gak mau terjadi seperti ini. Aku mencoba untuk ngilangin rasa ini. Aku mencoba untuk mempertahankan dan menjaga prinsip kita bersama. Tapi………tapi………” dengan nada tersendat-sendat diiringi air mata bercucuran ning Kay berusaha menjelaskan semua kepada Fiya.

“tapi semua itu sia-sia……….aku juga manusia Fi………aku juga punya perasaan……… dan juga aku punya cinta………….siapapun itu Fi, pasti punya semua itu entah anak pejabat apapun, anak tukang petani, tukang dagang, tukang menjahit, dan anak pak kiayi pun punya fi. Karena tuhan mengkarunikan cinta tak pandang siapapun, semua di kasih termasuk aku fi”.

Suasana hening mnghiasi mereka. Fiya hanya bisa terdiam dan sesekali memandangi ning Kay.

“Fi………aku juga yakin, kamu pun punya cinta dan semua itu sulit untuk menghilangkanya” dan tak jarang orang akan mengabulkanya begitu saja. Pasti semua orang juga ingin menikmatinya. Dan semua itu termasuk aku fi…….!!”

Fiya hanya bisa tertunduk dan tak bisa mengeluarkan sepatah kata apapun. Tak lama kemudian ning Kay meninggalkannya sendiri. Kini Fiya masih gak bisa menerima semua itu. Fiya dan ning Kay semakin jauh begitu juga teman-teman yang lain. Kini ning Kay hanya bisa terdiam dan sering menyendiri dengan di temani buku kesayangannya.

Goresan demi goresan ning Kay luapkan isi hatinya.

“ Berikan aku kesempatan berfikir

sejenak tentang apa yang harus

aku lakukan ………

Tidak usah takut

mengakui sebuah kesalahan

kekeliruan atau dosa………

teserah tentang apa kata dunia

kalau aku dapat memperbaikinya

bebaskan semua beban

bersema istigfar,

Teman-teman yang lain hanya bisa terdiam dan menjauhi ning Kay. Tak sepatah katapun yang keluar dari bibir mereka.

Ning Kay berfikir dan berfikir terus tentang apa yang harus di lakukan. Ning Kay gak mau kehilangan semuanya.karena begitu beratnya kehilangan seseorang sahabat dan cinta. Ning Kay mencari berbagai macam cara untuk menyelesaikan masalah ini.

Malam berganti malam tak henti-hentinya ning Kay meminta petunjuk kepada Tuhanya. Meminta yang terbaik untuk dirinya dan orang di sekitarnya.ketika mereka lagi kumpul-kumpul bareng seusai belajar, ning Kay ikut gabung bersama mereka. Ternyata kedatangan ning Kay gabung bersama mereka tambah memperkeruh . sejenak mereka terdiam, terhipnotis oleh keadaan diam seribu bahasa. Tak ada sepatah kata yang terucap dari bibirnya.

“emh”………………………teman-teman maafin aku ya………!!!” ning Kay berusaha memulih kan suasana.”aku tau mungkin kalian sangat kecewa dengan apa yang selama ini aku perbuat. Aku yakin kalian pasti marah banget dengan aku”. …………!!”

teman-teman yang lain hanya bisa diam dan mendengarkan penjelasan dari ning Kay.” sekali lagi aku minta maaf dan perlu kalian ketahui bahwa kita sama-sama manusia. Sama-sama menginjak usia remaja. Antara aku dan kalian tidak ada perbedaan. Fiya anak pak guru, Mia anak pak dokter, Ida anak pejabat, Ilil anak pedagang dan aku anak pak kiai semua itu sama. Kita sama-sama mempunyai perasaan, entah perasaan benci, senang, gembira, jengkel, sedih, dan termasuk cinta, semua gak ada perbedaan. Dan aku yakin kalian-kalian juga pernah merasakanya so……………..!!”ning Kay terdiam sebentar.” Tapi kenapa harus ada salah satu yang di tinggalkan” saut Fiya kemudian. “iya……… sekali lagi aku minta ma’af. Aku mengaku selama ini ternyata cara aku untuk menyikapinya yang salah. Aku terlalu egois untuk lebih mementingkan kebahagianku sendiri. Aku telah mengabaikan kalian semua dan mening galkan kalian” lagi-lagi mereka hanya terdiam seribu bahasa. “Ok………mulai detik ini, jam ini, hari ini, bulan ini dan tahun ini, Kaylani janji tak akan menjauhi kalian lagi, nggak akan mengabaikan kalian, dan janji nggak akan menghianati persahabatan kita. Suer……. Dua minggu ……………….!!!”dengan tersenyum ning Kay mengangkat dua telunjuk dua tanganya, dengan terheran-heran kemudian teman-temannya mengikuti juga.

“terus apakah kamu akan meninggalkan Aal begitu saja??” Tanya Fia kemudian. Ning Kay terdiam sejenak………….”kami gak akan melarang segala keputusan yang kamu ambil dan kami akan selalu mendukungnya.”Mia mulai membuka mulutnya” betulkan teman-teman…………:”Ilil menambah. Dengan serempak mereka menjawab “betul ………!!!”

Keheningan kembali menghampiri mereka. Dengan menarik nafas dalam-dalam , ning Kay menjawab “tidak ………….!!”.

“benarkah semua itu …………..??” saut Fiya kemudian. “aku akan tetap mempertahankan prestasi, sahabat, cita-cita dan cinta”. Jelas neng Kay kemudian “ oke……….!!” Jawab mereka serempak.

“wuach…………….ternyata ning juga bisa jatuh cinta …………!!” sidir Fiya kemudian “ha…….ha…….ha……..1945 X mereka tertawa serentak.

Kegembiraan kembali menyelimuti hubungan persoudaraan mereka. Apapun keputusan ning Kay selalu mendukungnya. Dan ning Kay berharap apapun keputusan yang di ambil memang itulah yang benar-benar menjadi keputusan tebaik untuknya dan orang-orang terdekatnya. Dan goresan tinta yang ning Kay tulis terakhir adalah :

Tuhan……….

Jika aku punya salah

Tunjukan kesalahanku sebagai bingkisan !

Tuhan…………..

Jika aku punya dosa

Tunjukan dosaku sebagai kado indah!

Tuhan………..

Jika aku memilih dia

Tunjukan pilihanku padanya!

Tuhan……….

Jika aku kehilangan dia

Tunjukan kehilanganku sebagai jalan menemukannya !

Tuhan……….

Jika kau salah menulis malam ini

Tunjukan kebenaranya ……….

Tuhan……….

Jangan diam saja……….!!!

Hari-hari berikutnya ning Kay berusaha menyeimbangakan dan menyelesaikan semua kondisi dan keadaan. Dan semua sangat berharga buat ning Kay, cita-cita, cinta, dan persahabatan adalah satu kesatuan yang harus di perjuangkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: