Zona Aktualita dan Transformasi Idea Pergerakan


ramadan-prayingEntah berapa SMS yang telah masuk dalam HP saya tentang kata-kata mutiara dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan, saya beranggapan mungkin ini adalah bagian dari ekspresi kebahagiaan saudara-saudara dan sahabat saya baik yang dekat maupun yang jauh untuk saling berbagi keindahan dan saling memaafkan di bulan penuh dengan ampunan.
Peringatan Malaikat Jibril ternyata tidak sia-sia. Do’a Malaikat Jibril menjelang Ramadhan; “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut: * Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada); * Tidak berma’afan terlebih dahulu antara suami isteri; * Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya. Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin sebanyak 3 kali. Dapatkah kita bayangkan, yang berdo’a adalah Malaikat dan yang meng-amiinkan adalah Rasullullah dan para sahabat , dan dilakukan pada hari Jumaat.
Puluhan bahkan ratusan pesan ramadhan baik lewat SMS, E-Mail, ataupu Web Blog, Sungguh fenomena islami yang amat menarik bukan????. Tetapi seindah apapun pesan Ramadhan yang biasanya disampaikan lewat kata-kata mutiara oleh sebagian anak muda masih belum representatif untuk dapat mengilustrasikan makna bulan Ramadhan secara komperhensif. Memaknai substansi Bulan Suci Ramadhan-Meminjam pendapat Nithche;"Kita tidak boleh kehilangan kesetiaan terhadap sejarah"; ada banyak peristiwa penting di bulan Ramaadhan pada era pelopor revolusi sang mujahid sejati ya’ni Muhamad Rosululloha SAW, peristiwa penting dan istimewa tersebut adalah; (1) diturunkannya Al-Qur’an (Nuzulul qur’an), (2) Kemenangan yang diperoleh Rasulullah bersama kaum muslimin pada saat perang Badar, (3) ditaklukkannya kota Makkah oleh kaum muslimin (fath makkah) yang sebelumnya dikuasai oleh orang-orang kafir, (4) adanya lailatul qadar yang mempunyai nilai lebih baik dari seribu malam, (5) diangkatnya Muhamad sebagai Rasul, (6) dilimpahkannya pahala yang sangat tinggi oleh Allah SWT pada orang yang melakukan amal saleh pada bulan ini.
Dari berbagai peristiwa penting di atas, ada satu peristiwa yang jarang kita renungkan ya’ni Kemenangan umat Islam atas orang-orang kafir Quraisy dengan ditandai takluknya kota Makkah yang sebelumnya dikuasai oleh orang-orang kafir Quraisy. Peristiwa ini telah terukir dalam dalam al-Qur’an surat al-Fath; Inna Fatahna Laka Fatahammubina (Sungguh kami telah memberikan kemenangan yang nyata). Satu yang perlu dicatat dalam peristiwa yang amat penting ini adalah "Kemenangan diraih tanpa Kekerasan". Semangat dan daya juang yang ditunjukkan oleh Muhamad SAW sebagai suri tauladan umat manusia sedunia (Laqod kaana fi Rosulillahi Uswatun Hasanah) dalam menyebarkan islam mengedepankan proses negoisasi. Sebagaimana yang telah diceritakan dalam surat al-Fath ayat 10;"Mereka kaum muslimin mengadakan janji setia kepada Nabi untuk memerangi orang-orang kafir Quraisy bersama Nabi sampai kemenangan tercapai, janji setia ini disebut "Ba’iatur Ridhwan" ini menggetarkan kaum musyrikin, sehingga mereka mengadakan perjanjian dengan kaum muslimin yang dikenal dengan "Shuluhu al-Hudaibiyyah". Singkat cerita "Perdamaian Hudaibiyyah adalah suatu kemenangan yang besar bagi kaum muslimin di bulan Ramadhan".
Dari renungan sejarah di atas dapat disimpulkan, kobaran semangat dan daya juang Muhamad SAW bersama kaum Muslimin dalam meraih kemenangan di bulan suci Ramadhan, diekspresikan beliau dengan kesabaran (mengedepankan perdamaian) dan etos kerja yang sangat tinggi.

Natijah Dan Hikmah

1. Kobaran semangat yang ditunjukkan Rosululloh SAW dalam memperjuangkan panji-panji Islam melalui perjanjian Hudaibiyyah adalah mengedepankan perdamaian untuk meraih kemenangan. Masih ingatkah kita; kepedihan Rosululloh SAW pertama kali menyebarkan ajaran Islam. Beliau telah diintimidasi, dideportasi, dialienasi dan dicaci maki oleh orang-orang kafir Quraisy di lembah Syi’ib yang kemudian menyebabkan Siti Khodijah (Istri beliau) dan Abu Tholib (Paman beliau) jatuh sakit dan meninggal dunia, Sunggu kenangan yang amat pahit yang pernah dialami Rosululloh, tetapi toh kemudian ketika beliau menaklukkan orang-orang kafir Quraisy di Makkah tanpa sedikitpun ada rasa balas dendam. Mereka kaum Quraisy yang dulu pernah menyakiti Rosul dan keluarganya meminta jaminan perlindungan kepada Nabi dengan mengiba "Saudara yang mulia dan anak saudara kami yang mulia" dan Nabi berkata: "Pergilah, kalian semua adalah Thulaqa (orang-orang yang diberi kemerdekaan). Woooow….luar biasakan??? Tetapi yang saya herankan, kenapa masih ada sekelompok yang mengaku dirinya Muslim, cara da’wahnya masih menggunakan kekerasan baik fisik maupun non fisik. Mereka dengan bangga memakai jubah putih dan serban dilengkapi dengan selonjor kayu (pentung) merusak tempat-tempat hiburan di awal Ramadhan, belum lagi pemukulan terhadap orang-orang yang tak berdosa dalam memperjuangkan hak-haknya yang sampai hari ini kasusnya masih diproses (Tragedi Monas). Sementara kekerasan non fisik yang mereka lakukan adalah dengan mudahnya menyesatkan bahkan mengkafirkan saudara-saudara kita sesama muslim. Siapaun dan kelompok apapun tidak berhak menyesatkan orang lain dan mengklaim dirinya paling benar. Yang punya kendali atas semua keadaan berada di tangan Allah SWT sebagaimana adagium didasarkan atas kitab suci al-Qur’an (Yaghfiru Liman Yasya’ wa Yu’adzibu man Yasya’)
2. Kemenangan dan Kejayaan yang diraih Nabi SAW pada saat menaklukkan kota Makkah adalah melalui kerja keras tanpa rasa lelah, dan beliau melakukan ini dalam keaadan puasa di bulan Suci Ramadhan. Tidak seperti yang biasa dilakukan masyarakat kita, ada banyak "budaya negatif" musiman yang dating disaat bulan Ramadhan. Diantaranya adalah (1) Efektifitas kerja menurun; jam kerja di beberapa instansi pada saat bulan Ramadhan telah berkurang, sementara jam istirahat bertambah. Woow…sungguh budaya yang teralienasi dari ajaran Nabi. Meminjam pendapat Andrie Wongso "Sukses adalah milik kita", so kalau kita ingin sukses harus bekerja keras dan dimulai dari kita sendiri dalam keadaan dan situasi apaun. (2) Budaya Konsumerisme; "Bulan Puasa adalah bulan belanja", kira-kira kata itu yang pantas disematkan pada masyarakat kita. Pada saat bulan Ramadhan datang suka belanja berbagai makanan yang berlebihan sebagai menu utama buka puasa, belum lagi soal pakaian baru dan budaya mengkonsumsi acara-acara di TV yang semakin marak tanpa mempertimbangkan aspek positif dan negatifnya.

Wallahu A’lamu bis Showab

cak-jekiACHMAD MARZUKI, M.PdI

m4rzuq1@telkom.net

Penulis Adalah Prajurit Ngalah Dalam Masa-Masa Pengembaraan Dan Pengabdian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: