Zona Aktualita dan Transformasi Idea Pergerakan


A. Bagaimana Kabarmu? : Sebuah PrologueaMANG
Mahasiswa, tidak hanya sebuah kata, namun bisa menjadi simbol, atribut, “gelar” dan yang pasti amanah yang diberikan pada jenjang pendidikan formal. Arti amanah -menurut penulis- disini adalah suatu tugas yang harus dan memang patut untuk dilakukan oleh seorang mahasiswa, yang diberikan (salah satunya) oleh agama, yakni belajar.
Coba anda buka sekali lagi beberapa ayat dalam al-Qur’an, salah satunya adalah sebagai berikut :
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadalah: 11)

Nabi Muhammad SAW juga tidak sungkan untuk memberikan wejangannya :
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلم. : " طَلَبُ اْلعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلىَ كُلِّ مُسْلِمٍ، وَاِنَّ طَالِبَ اْلعِلْمِ يَسْتَغْفِرُ لَهُ كُلُّ شَيْئٍ حَتىَّ اْلحِيْتَانَ فىِ اْلبَحْرِ " (رواه إبن عبد البر عن أنس رَضِيَ الله ُعَنْهُ)
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap orang muslim, dan sesungguhnya orang yang menuntut ilmu itu dimohonkan ampun oleh segala sesuatu sampai ikan-ikan di lautan.” (HR. Ibnu Abdil Barr dari Anas bin Malik ra)
Ayat al-Qur’an dan wejangan Nabi di atas, tidak hanya sebuah teks, sebuah dalil tanpa arti, namun itu adalah salah satu inti untuk memahami “dunia”, baik dunia yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Sebuah spirit dalam mengais dan mengasah pikiran dan hati manusia dalam mengarungi samudra kehidupan untuk melakoni skenario Tuhan.
Dalam kesempatan ini (PaSOPati), adalah sebuah gerbang untuk memulai melangkah sesuatu yang baru. Berpikir dengan fikiran yang baru, beratribut dengan atribut yang baru, style dan gaya baru, suasana baru, teman baru, mungkin juga baju baru dan celana baru (seperti hari raya saja) dan belajar dengan metode belajar yang baru. Namun bukan berarti meninggalkan yang lama. Di sinilah akan ditempa dan diuji apakah anda semua dapat melaluinya…
Penulis sengaja memberikan kata tebal dalam kata belajar di atas, karena memang di tingkat kuliah inilah akan ada beberapa model dan tata laku (baca metode) yang berbeda sebagaimana di tingkat SMA, SMK, Aliyah atau pesantren. Setidaknya, kata kunci kemandirian, adalah hal yang mulai menjadi titik tekan dalam model pembelajaran di perkuliahan.
Oleh karena itu, ijinkan penulis untuk mengucapkan Hai semuanya, bagaimana kabarmu hari ini para “pejuang”?…

B. Harapan dan Kenyataan Mahasiswa : Manata Niat
Coba perhatikan syair lagu dibawah ini :
Berjalan seorang pria muda // dengan jaket lusuh di pundaknya // disela diri tampak mengering // terselip sebatang rumput liar // jelas menatap awan berarak // wajah murung semakin terlihat // dengan langkah gontai tak terarah // keringat bercampur debu jalanan.
Engkau sarjana muda // resah mencari kerja // mengandalkan ijazahmu // empat tahun lamanya // bergelut dengan buku // tuk jaminan masa depan // langkah kakimu terhenti // di depan halaman // sebuah jawaban.
Tercengang lesu engkau melangkah // dari pintu kantor yang diharapkan // terngiang kata tiada lowongan // untuk kerja yang didambakan // tak peduli berusaha lagi // namun kata sama kau dapatkan // jelas menatap awan berarak // wajah murung semakin terlihat.
Engkau sarjana muda // resah tak dapat kerja // tak berguna ijazahmu // empat tahun lamanya // bergelut dengan buku // sia-sia semuanya.
Setengah putus asa dia berucap // maaf ibu

(Sarjana Muda : Iwan Fals)

Syair lagu Iwan Fals di atas menggambarkan sebagian realitas yang terjadi di sekitar kita. Pengangguran dan kebingungan untuk mencari pekerjaan adalah hal yang sangat mudah untuk dijumpai. Apalagi kondisi ekonomi bangsa beberapa tahun terakhir yang masih “diuji ketabahannya”, semakin meningkatkan “statistik pengangguran anak bangsa”.
Maka tidak heran, bila banyak institusi pendidikan, baik di tingkat SMA maupun perguruan tinggi yang menawarkan jaminan pekerjaan kepada peserta didiknya. Kuliah sambil kerja “disini” tempatnya…begitu kira-kira jargon yang sering didengungkan.
Dalam genderang “pekerjaan” yang ditawarkan institusi pendidikan, memang tidak menyalahi aturan. Bahkan tidak ada larangan untuk itu. Namun apabila mau jujur, ada sisi lain yang perlu untuk direnungkan kembali pertanyaan berikut ini. Apakah sekolah dan kuliah hanya untuk mendapatkan pekerjaan ? Jawaban dari pertanyaan tersebut bisa “ya”, bisa juga “tidak”. Semua terserah anda.
Apabila jawabannya “ya”, maka mental pekerja secara tidak langsung dan mungkin tidak anda sadari akan melekat pada diri anda. Tidak haram memang, dan tidak ada dalil pula yang bermental pekerja akan masuk neraka. Semua sah-sah saja.
Saya teringat dengan wejangan KH. Sholeh Bahruddin beberapa waktu yang lalu (Pebruari 2008), di beranda Kantor Pusat Pesantren Ngalah. Dengan nada guyonan, penulis nyeletuk “Lha inggih Kyai, sekolah tinggi-tinggi…ee.. jebule teng percetakan”. Spontan Kyai menanggapi cletukan saya dengan mimik yang sangat serius. Apabila saya olah dengan bahasa saya kira-kira begini :
Sebentar Le (tole: anak) <dengan nada klairifikasi>,… kamu jangan berpikiran seperti itu… pikiran kamu perlu “dicuci” dulu… Sekolah (kuliah) itu Le, tidak untuk mencari (mendapatkan) pekerjaan, kalau sekolah untuk mendapatkan pekerjaan, lalu apa bedanya dengan pemulung sampah, atau pengemis di jalanan??
Sekolah (kuliah) itu adalah untuk menghilangkan kebodohan…
Wejangan itu yang membuat saya merinding dan terngiang-ngiang sampai saat ini. Saya harus tertunduk diam seribu bahasa mendengarkan dawuhnya Kyai hampir dua jam lamanya, gara-gara cletukan saya. Tapi itu yang membuat saya senang, karena saya mendapatkan sebuah pelajaran yang sangat berharga untuk menata niat dalam mendapatkan ilmu pengetahuan yang selama ini masih abstrak saya rasakan.
Sederhana memang dawuh “Sekolah (kuliah) itu adalah untuk menghilangkan kebodohan…” Namun, bila dipikirkan lebih mendalam, dawuh ini adalah menyangkut sebuah orientasi yang harus dimiliki oleh seorang mahasiswa dalam mencari ilmu di kampus. Orientasi yang dibangun dan distigmakan dalam ranah keyakinan akan terbangun visi hidup dan keyakinan hidup.
Dari sanalah tolak ukur berhasil, gagal, tercapai, tidak tercapai, terwujud, tidak terwujud, harapan, proses dan kesia-siaan akan muncul untuk menentukan dan menilai langkah yang telah dijalankan. Sebagai contoh adalah lagu Iwan Fals di atas. Bila pekerjaan yang didamkan adalah sebuah orientasi hidup dalam kuliah, maka bila tidak mendapatkan pekerjaan yang diidamkan adalah sebuah ukuran ketidakberhasilan bahkan bila menggunakan bahasa yang lebih sarkasme adalah sia-sia. Maka secara spontan, akan terlontar, buat apa kuliah kalau nganggur, buat apa kuliah, kalau tidak mendapatkan pekerjaan, buat apak kuliah kalau hanya bisa ngojek. Dengan kata lain, ukuran keberhasilan kuliah adalah kerja.
Berbeda bila orientasinya adalah menghilangkan kebodohan. Tidak ada dalam kamus kehidupan terdapat kata “sia-sia”. “Semua ada hikmah dan manfaatnya” (meniru bahasa mbak Iim di sms yang saya terima). Nganggur bukanlah sebuah kegagalan dan kesia-siaan, namun itu adalah sebuah proses untuk mendapatkan pekerjaan, bahkan sangat mungkin sekali akan mampu membuat peluang pekerjaan. Kalau kita bisa jadi bos, kenapa harus jadi jongos?
Namun itu semua tergantung “Niat”. Karena niat adalah titik awal membangun sebuah paradigma pribadi seseorang. Bukan begitu…?!

C. Kampus itu …?!?
Ditinjau dari bentuknya, terdapat beberapa macam perguruan tinggi. Upamanya universitas, institut, akademi, atau politehnik. Dalam bahasa sehari-hari berbagai macam bentuk perguruan tinggi tersebut dinamakan kampus. Dengan demikian kampus merupakan sebuah lingkungan masyarakat atau komunitas yang relatif berbeda dengan lingkungan masyarakat umum. Warga kampus disebut masyarakat akademik. Suasana, aturan, dan nilai-nilai yang dikembangkan di kampus juga berbeda dengan suasana, aturan, dan nilai-nilai yang ada di masyarakat secara umum. Semua itu memiliki karakteristik akademik.
Dengan demikian, kata ‘akademik’ merupakan keyword (kata kunci) bagi setiap orang yang ingin memahami tentang perguruan atau kampus. Segala pembahasan dan permasalahan yang menyangkut dunia perguruan tinggi harus dikembalikan kepada hakikatnya sebagai lembaga akademik, bermasyarakat akademik, dan bersuasana akademik.
Bila ditelusuri dalam sejarah, konon, kata akademik berasal dari bahasa Yunani, yakni “academos”. Academos ini merupakan nama seorang pahlawan yang terbunuh pada saat perang Troya yang legendaris itu. Untuk mengabadikan nama sang pahlawan, nama tersebut kemudian diambil sebagai nama sebuah taman umum ( plaza ) di sebelah barat laut kota Athena.
Di plaza inilah Socrates biasa berpidato dan membuka perdebatan mengenai segala macam persoalan. Demikian pula dengan Plato. Plato menjadikan tempat ini sebagai tempat untuk berdialog dan mengajarkan pikiran-pikiran filosofisnya kepada orang-orang yang datang (http://nobacoot.blogspot.com/). Mereka berkumpul untuk melakukan diskusi dan perhelatan intelektual. Di forum ini kebebasan berpendapat – bahkan untuk menghujat pemerintahan – dilindungi.
Seiring dengan perkembangan waktu, lama-lama Academic menjadi semacam tempat “perguruan” . Para pengikut perguruan ini disebut “acadeist”, sedangkan perguruan semacam ini disebut “academia”.
Dalam konteks ini, mahasiswa yang nota bene adalah acadeist yang masih berguru di tempat academia Yudharta, diskusi, bertukar pendapat, membuat makalah satu hari jadi untuk dipresentasikan, membuat ide-ide “gila” untuk diwujudkan, berkreasi menurut nalar dan argumentasi, memang sebuah “pekerjaan” tetap yang harus dilakoni oleh seorang mahasiswa.
Karena “pekerjaan tetap” tersebut, maka proses kemandirian berfikir, memunculkan ide-ide baru, sediki-demi sedikit mengurangi ketergantungan kepada orang lain, “ora jagakno maneh” begitu kira-kira bahasanya Zainul Achwan, kreatif, inovatif, dan berani bertanggung jawab apa yang diucapkan dan diperbuatnya, adalah hal-hal yang paling mendasar yang harus dilakukan oleh seorang mahasiswa.
Apabila pekerjaan mendasar ini sudah dilakukan, maka dengan sendirinya mahasiswa akan menjadi agen of change, baik kepada dirinya sendiri, keluarganya, saudaranya, konco-konconya, pacar atau pendamping hidupnya, tetangganya, rakyatnya, kaumnya, dan orang-orang di seluruh dunia. Mengapa tidak?
Karena orang yang mau berfikir kreatif, inovatif, dan mampu memaksimalkan potensi fikirannya dengan argumen atau dasar yang kuat, di dunia ini tidak banyak jumlahnya. Mahasiswa adalah salah satu golongan / strata yang berkategori “langka” dalam dunia ini. Oleh karena itu, mahasiswa jangan hanya dijadikan simbol, namun harus lebih dari itu, yakni yang mampu menjadi motor penggerak untuk melakukan hal yang belum pernah dilakukan, mencoba sesuatu yang baru, dan tentunya tetap dalam jalur dan rel yang maslahah lil ummah.

D. Universitas Yudharta: Mercusuar Kebangsaan
Dalam kesempatan ini, saya tidak menguraikan tentang status Universitas Yudharta, karena memang bukan kapasitas saya untuk mempresentasikannya. Dalam hal ini, saya hanya ingin urun rembug, beropini, berargumentasi, dan mempresentasikan dari pengalaman penulis selama menjadi mahasiswa sampai sekarang. Jadi apa yang saya tulis ini sifatnya sangat “subyektif”.
Selama 10 tahun (Agustus 1998 s/d Agustus 2008) penulis berada di Saigon City (Sengonagung: pen), banyak hal dan peristiwa yang menarik untuk dicermati, khususnya tentang bagaimana membangun “peradaban”.
Saat melangkahkan kaki pertama kali, saya sangat menyadari bahwa Pasuruan bukanlah sebuah kota pendidikan yang maju sebagaimana Malang, Surabaya, Yogyakarta, Bandung dan Jakarta. Pasuruan juga bukan sebuah kota metropolis, tapi Pasuruan adalah salah satu kota yang masih banyak “pekerjaan” dalam meningkatkan “sumber daya manusianya”.
Namun, justru itu letak seninya. Bila dianalogikan, kalau artis berasal dari ibu kota dan terkenal, itu sih biasa. Tapi bila berada di kota kecil seperti Pasuruan misalnya, dan bisa tenar, baru luar biasa. Dan itu sangat mungkin sekali, Inul Daratista contohnya.
Pasuruan, khususnya Saigon City, khususnya Pesantren Ngalah, lebih khusus lagi Universitas Yudharta, adalah salah satu institusi pendidikan yang berada di daerah yang masih banyak “pekerjaan” dalam meningkatkan “sumber daya manusianya”.
Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya di Pasuruan, bukanlah perkara mudah. Masih kentalnya budaya patriarkhi, SDM-nya yang masih pas-pasan, dan masih banyak daerah yang minus, adalah sekian PR yang harus diselesaikan, baik oleh pemerintah, masyarakat, lebih khusus lagi adalah UYP.
Namun, disitulah laboratorium kampus yang sesungguhnya. Dalam hal ini, mahasiswa Yudharta, sangat berpeluang besar sekali untuk mampu menjadi insan akademis yang sejati. Di tengah PR yang masih setumpuk, maka dengan sendirinya mahasiswa Yudharta mempunyai peluang besar untuk belajar mengurai benang kusut yang terjadi di masyarakat.
Maka tidak heran, UYP sebagai the multicultural university adalah bukan sebuah jargon atau symbol semata, tetapi itu juga mampu menjadi spirit para acadeist Saigon City untuk membuktikan bahwa setingkat kota Pasuruan pun mampu berkiprah, tidak hanya mengurai benang kusut yang terjadi di Pasuruan saja, tetapi akan mampu menjadi mercusuar kebangsaan Indonesia di mata dunia.
Masih proses memang, tetapi spirit itu bukan sekedar isapan jempol. Pada tahun 2004, alumni UYP masih ada 1 yang sudah lulus S-2, namun 4 tahun berikutnya (2008) lebih dari 10 alumni yang sudah lulus S-2, dan puluhan alumni UYP yang sedang menyelesaikan S-2 dan S-3, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Anda bisa membayangkan bagaimana Saigon City 10 tahun atau 50 tahun yang akan datang.
Ini artinya, pendidikan, adalah salah satu motor penggerak untuk membuat perubahan dan mewujudkan visi dan misi yang diembannya. Maka, sangat mungkin sekali bila Saigon City yang awalnya masih terbelakang, akan menjadi Mercusuar Kebangsaan. Semoga…

E. Wassalamu’alaikum : Sebuah Penutup
Sekian…
Terima kasih banyak… Karena saya sudah banyak menulis banyak…

Malam yang dingin…
Saigon City, 21 Agustus 2008; 02.00 WIB

Oleh : Amang Fathurrahman, Penulis adalah alumni Universitas Yudharta Pasuruan tahun 2004, yang sedang mengabdi di almamaternya menjadi Staff Laboratorium Percetakan “Yudharta Advertising~Design” dan masih bermimpi untuk bisa menyelesaikan kuliah doktoralnya di UIN Malang.

Comments on: "MAHASISWA YUDHARTA : BAGAIMANA KABARMU? (Antara Harapan dan Kenyataan)" (5)

  1. harapan dan kenyataan belum tentu berjalan seiring… tugas kita hanya ikhtiar & berdoa

  2. totok wahyudi pai 2005 said:

    dimana web yudharta, kapan aku dapat lihat transkrip lewat web. tanks

  3. yup… bang iwan benar juga.. tu sbenarnya yang hantu yang selalu membayangi para insan akademik negara kita… entah kenapa? siapa yang salah? sistemkah yang arogan..? kurikulumkah yang tidak acceptable tuk pasar dunia kerja. or samething else…

    semoga mahasiswa yudharta tetap punya kabar secerah mentari pagi pasca diwisuda… I’m glad to Yudharta. N Yudharta is My Own Self..

  4. bagus bos artikelnya… semoga bisa memberikan secerca harapan bagi para pengais ilmu Tuhan. cuma mau sedikit korek nih bos apa gak kurang tepat hadits yang dibuat hujjah itu………………………….. kan ……………….makasih

  5. konco2 alumni 2004 PAI,PBA untuk menjalin ukhwah alangka baiknya diadakan Reuni agar tidak terputus tali silatur rahmi thanks.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: