Zona Aktualita dan Transformasi Idea Pergerakan


Simbol-simbol Pergeseran Paham Aswaja Menjadi Ahl Fitnah Berjamaah

Menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Pasuruan, tak satu pun pranata sosial yang statis, termasuk kiai. Sebagai sebuah pranata sosial, kiai juga mengalami dinamikanya sendiri. Dulu, hampir semua kiai digolongkan sebagai kiai kultural dan basis kekuatan moral. Namun kini, kemunculan kiai struktural sudah bukan barang asing lagi. Bahkan fenomena mutakhir memperlihatkan, para kiai dan gus secara ‘berjamaah’ meluncur ke panggung politik praktis.  

Dinamika ini memantik kecemasan bagi anak-anaknya seperti kader-kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) akan kemunduran atau bahkan keterbengkalaian padepokan para kiai (pondok pesantren). Meskipun secara structural PMII menyatakan independensinya sebagai organ ditingkatan kemahasiswaan, akan tetapi langkah cultural yang terbangun selama ini tidak bisa dipisahkan dari indunya yakni Nahdlotul Ulama’ (NU).  Kecemasan dan himbauan agar kiai kembali berkonsentrasi ke pendidikan dan mengoptimalkan peran keumatannya.

Sejatinya, keterlibatan kiai di jagat politik praktis merupakan persoalan klasik yang terus mendilema sampai saat ini. Bagi sebagian kalangan, keterlibatan kiai dalam politik adalah keniscayaan yang tak harus diperdebatkan. Sebab, menurut mereka ajaran Islam bersifat holistik; bukan sekadar agama, melainkan din wa dawlah (agama dan pemerintahan)

Bagi sebagian kalangan lain, kiai seharusnya tidak masuk ke kubangan politik praktis, dan tetap berkonsentrasi di bidang keagamaan dan keumatan. Alasannya, kiai adalah lembaga sakral, berdimensi gerakan moral yang penuh nilai keikhlasan, tanpa tendensi dan ambisi, serta menjadi payung semua golongan (rahmatan lil’alamin). Sementara politik bersifat profan yang meniscayakan adanya kepamrihan, tendensius, dan kepentingan sesaat serta memiliki orientasi perjuangan yang sempit hanya pada kelompok tertentu, yakni massa pendukungnya. 

Menurut salah seorang santri Alumnus Ma’had al-‘Ulumisy Syar’iyyah Yanbu’ul Qur’an (MUSYQ) Kudus, bahwa Kiai yang berpolitik dikhawatirkan akan terjebak pada logika politik (the logic of politics) memanipulasi masyarakat basisnya demi kepentingan politik sesaat, yang pada gilirannya menggiring ke arah logika kekuasaan (the logic of power) yang cenderung kooptatif, hegemonik, dan korup. Akibatnya, kekuatan logika (the power of logic) yang dimiliki kiai, seperti logika moralitas yang mengedepankan ketulusan pengabdian akan tereduksi atau bahkan hilang sama sekali, terkalahkan oleh logika kekuasaan tadi. 

Dalam sistem masyarakat demokrasi, siapa pun berhak untuk berserikat dan berpolitik. Hanya saja, hendaknya tidak semua kiai berpolitik. Kalau kiainya sangat ‘lugu’ dan sufistik, serta dipandang lebih bermanfaat bagi masyarakat dengan gerakan ‘politik independen’, alangkah baiknya tetap di dunia pesantren mencetak ilmuwan-ilmuwan muslim yang unggulan atau menjadi transformator masyarakat dengan semai kesejukannya mengawal moral bangsa.  

Alhasil, terjun atau tidak ke politik sepenuhnya bergantung pada asas manfaat dan ketahanan diri kiai menghadapi godaan materi dan hegemoni. Apakah keberadaannya dalam peran-peran politik dapat menciptakan harmoni yang dinamis dan keberpihakan kepada kepentingan universal, ataukah justru menciptakan disharmoni yang statis dan keberpihakan kelompok (partai) atau bahkan peneguhan kepentingan pribadi? 

Pesona politik terkadang memang membuat seseorang kehilangan idealismenya. Dulu, bisa saja seseorang menolak bahkan ‘mengharamkan’ dirinya bersentuhan dengan politik. Namun, karena ada kepentingan semisal materi, hegemoni, prestise, dan kelancaran birokrasi, maka tak terelakkan lagi keterlibatan mereka dalam politik praktis. 

Terjun ke politik (kekuasaan) memang besar taruhannya. Bisa jadi agama dan politik bukan lagi pemersatu, tetapi menjadi faktor pemecah persatuan dan persaudaraan. Umat dan agama akan diseret ke politisasi yang paling pragmatis. Jatuh ke jurang politik rendahan (low politics) dan tidak bermoral. Akibatnya, Islam tidak lagi Islami dan keteladanan moral pun tak lagi didapati. Bahkan, dengan kalimat yang ekstrim, Tuhan pun bisa diseret dalam percaturan low politics sebagai pembenar segala tindakan. 

Pendapat Ketua PBNU Said Aqil Siradj nampaknya perlu kita renungkan. Menurut beliau, kiai boleh berpolitik (praktis) sejauh dilakukan secara profesional dan proporsional. Profesional mengandung pengertian kemampuan dan etika. Sementara proporsional berarti jika sang kiai mengasuh pesantren atau menjadi tokoh sentral pengajian rutin di masyarakat, yang bersangkutan hendaknya bisa membagi waktu dengan baik dan menghindari terjadinya konflik kepentingan. 

Untuk itu, bagi kyai-kyai di pasuruan setidaknya menitikberatkan pada satu visi-misi khusus terkait dengan perpolitikan, yakni bagaimana supaya pelaksanaan pilkada 2008 kabupaten Pasuruan nantinya dapat berjalan dengan lancar, damai, adil dan demokratis serta tidak menimbulkan konflik antar masa pendukung masing-masing calon yang ada. Selain itu, kiiai (termasuk para gus dan ustadz) hendaknya mempertimbangkan beberapa prasyarat penting sebelum memutuskan ‘berselingkuh’ dengan politik. Pertama, kompetensi personal yang meliputi integritas moral dan kemampuan memainkan politik secara santun. Kedua, kompetensi profesional yang berpijak pada the right man on the right place (job) atau sabda Nabi: “jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancuran”. Ketiga adalah stabilitas dan konsistensi kiai sebagai makelar budaya (cultural broker) dan pencerah umat.

Dan akhhirnya, prinsip dasar yang harus ditanamkan pada diri kita sebagai penduduk pribumi pasuruan adalah “…jangan tanyakan apa yang telah kau dapatkan, tapi tanyakan apa yang telah kau berikan untuk bumi…pasuruan…” damai terus pasuruan… jaya terus pasuruan….

Comments on: "Kyai Kok Ikut-ikutan Berpolitik, “Apa Kata Dunia…?”" (8)

  1. mau kritik orang tua ya ada etikanya, kalau berharap kritiknya didengar, sekelas romo yai saja bahasanya tidak penuh api, apalagi kita. apalagi ada yang ngomong semakin pinter orang maka semakin pinter dia menyelipkan maksud dibalik kata-katanya

  2. sepakat banget dg tulisan diatas. fakta dilapangan pak yai-pak yai podo akeh seng pingin dodolan, makanya lebih cocok kalau mereka ini kita sebut pak yai (seng tepak-tepak digrayai) ketimbang disebut kiyai dan biar gak dimarahi sama sabana kita bedakan antara kiyai yang menurut sabana adalah orang-orang tua dengan pak yai.
    saya juga kecewa banget ada salah satu pesantren besar dan bersejarah di kabupaten Pasuruan yang terlampau jauh masuk ke dunia politik saya yakinlah niatnya baik tapi harus disadari dampaknya sangat memprihatinkan

  3. kenapa kok kyai gak boleh ikut politik?. kalau menurut saya, kyai ikut politik itu gak papa asalkan pollitiknya itu sehat dan tidak mementingkan golongannya sendiri atau individu

  4. Biasanya kalau kiai itu ikut-ikutan berpolitik menurut kabar yang beredar dan tanggapan dari masyarakat itu “SINIS MAN”

    alhasil kiai-kiai kita itu harus kembali ke khittah

  5. maaf belum saya baca jadi belum bisa kasih komentar

  6. yes I agree!!!!
    cba gih bayangin ja misal kyai harus ikut politik, trus syapa dunk yang ngurusin santrinya ngaji, styap hari hrs rapat, kampanye, ngumbar janji, syapa cba , klo pendapat q mang bner hrusnya kyai cma hrs jd bengkel buat pra2 politikus.

  7. Tidak ada yang salah dengan Kyai-nya Politik dan Politiknya Kyai…. selama politik masih dijalankan dalam koredor yang benar Kyai berpolitik pun tidak masalah! jangan menodai arti politik.. Politik tidak buruk! tidak salah, dan tidak kotor!

  8. sekedar informasi,
    kalau mau belajar politik yang syar’i… ya di FISIP UNWAHAS. hehehe….. secara, UNWAHAS kan kampusnya orang NU.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: