Zona Aktualita dan Transformasi Idea Pergerakan

TEPO SELIRO MARANG LIYO


 

1. Perintah Untuk Saling Kenal-mengenal.

Manusia diciptakan dengan berbagai ragam bangsa, ras, suku, agama, dan budaya adalah untuk saling kenal-mengenal. Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam surat Al-Hujuraat ayat 13 Juz 26:

1.jpg

Artinya : “Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu, disisi Allah, ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”.(QS. Al – Hujuraat : 13 juz 26)

2. Perintah Hidup Rukun didasari Saling Mengasihi Antar Sesama.

Allah tidak pernah melarang manusia yang berbeda agama untuk hidup berdampingan, rukun saling mengasihi dan menghormati. Hal ini diperintahkan dalam QS. Al – Mumtahanah 08-09 Juz 28 :

2.jpg

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama, dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama, dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Mumtahanah ayat 08-09 Juz 28).

Rasulullah SAW juga memerintahkan kita untuk saling mengasihi dan menyayangi antar sesama, baik berbeda agama, ras, suku, bangsa, dan budaya. Seperti yang diterangkan dalam hadist shahih yang di riwayatkan oleh Imam Thabrani dalam kitab Mujamma’ az-Zawaid hal 340 juz 8:

3.jpg

“Dari Abi Musa ra. sesungguhnya dia mendengar bahwa Nabi Muhammad SAW berkata: Tidak dikatakan orang beriman diantara kamu sekalian, sehingga kalian saling mengasihi/menyayangi. Sahabat berkata: Wahai Rasulullah kita semuanya (komunitas sahabat) sudah saling mengasihi. Rasulullah bersabda: Sesungguhnya kasih sayang itu bukan hanya diantara kamu saja, tetapi kasih sayang kepada seluruh umat manusia dan alam semesta” (HR. Thabrani, hadits shoheh. Mujamma’ Az Zawaid hal: 340 juz: 8).

Begitu besar dan luas wawasan cerminan sikap kasih sayang yang diajarkan kepada manusia tidak hanya untuk golongan sendiri, tetapi untuk seluruh makhluk di muka bumi ini. Sebagaimana diterangkan Nabi dalam hadist lain yang diriwayatkan oleh At-Thabrani:

4.jpg

Nabi Muhammad bersabda “ Tebarkanlah kasih sayang kepada semua orang maka engkau akan dikasihi seluruh makhluk langit (para malaikat)” (HR. At-Thabrani dalam kitab Jami’ as-Shaghir)

Nilai-nilai ajaran Islam yang begitu tinggi terus dikembangkan dari generasi ke generasi, hal ini ditunjukkan dalam sikap teposeliro sang tokoh dunia, Sayyidina Umar Bin Khattab ra. terhadap Uskup Sophronius dihadapan kaum nasrani dan muslim di Baitul Maqdis, Yerussalem. Pertemuan kedua tokoh besar tersebut menghasilkan sebuah piagam perdamaian yang dikenal dengan perjanjian Aelia yang berbunyi;
“Inilah perdamaian yang diberikan oleh hamba Allah ‘Umar Amirul Mukminin, kepada rakyat Aelia : dia menjamin keamanan diri, harta benda, gereja-gereja, salib-salib mereka, yang sakit maupun yang sehat, dan semua aliran agama mereka. Tidak boleh mengganggu gereja mereka baik membongkarnya, mengurangi, maupun menghilangkanya sama sekali, demikian pula tidak boleh memaksa mereka meninggalkan agama mereka, dan tidak boleh mengganggu mereka. Dan tidak boleh bagi penduduk Aelia untuk memberi tempat tinggal kepada orang Yahudi”.

Setelah itu, di depan The Holy Sepulchure (Gereja Makam Suci Yesus) Uskup Sophronius menyerahkan kunci kota Yerussalem kepada kholifah Umar Bin Khattab ra. Kemudian khalifah Umar menyatakan ingin diantarkan ke suatu tempat untuk menunaikan sholat. Oleh Uskup Sophronius, khalifah Umar diantarkan ke dalam gereja tersebut untuk melaksanakan sholat. Tetapi Umar menolak kehormatan tersebut sembari mengatakan bahwa dirinya khawatir hal itu akan menjadi suatu dasar bagi kaum muslimin generasi berikutnya untuk mengubah gereja-gereja menjadi masjid. Akhirnya, Umar melaksanakan sholat (munfaridan) diluar/diteras gereja tersebut. Kisah ini dijelaskan dalam kitab Samahatul Islam Hal. 34 – 37 :

5.jpg

Dari kutipan cerita tersebut, kita dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa begitu besar rasa toleransi (teposeliro) khalifah Umar terhadap sesama.


3. Nabi Muhammad SAW sangat menghormati dan melindungi Non-Muslim.
Ajaran luhur dan sangat mulia yang diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW pada umat manusia terutama terhadap umat agama lain terasa indah dan menyejukkan setiap hati manusia. Hal ini tercermin ketika Nabi Muhammad SAW menyambut kedatangan tamu kristen dari Najran. Beliau memperlakukan mereka dengan sangat hormat, bahkan surban beliau dibentangkan dan mereka dipersilakan duduk diatasnya sambil berbincang-bincang.
Pada saat mendengar terjadi pembunuhan terhadap orang non-muslim yang dilakukan oleh orang Islam. Nabi Muhammad SAW marah besar dan mengeluarkan statemen;

6.jpg

Nabi bersabda “Barang siapa yang menyakiti nonmuslim (yang berdamai dengan muslim) maka akulah musuhnya, dan orang yang memusuhinya (memusuhi nonmuslim) maka aku memusuhinya dihari kiamat.” (HR. Ibnu Mas’ud dalam kitab Jami’us Shaghir hal. 158)

7.jpg

Dari Abdullah bin Umar, nabi bersabda “Orang yang membunuh nonmuslim maka dia tidak akan pernah merasakan bau harumnya surga, padahal bau harum surga itu sudah bisa dicium baunya dari jarak perjalanan empat puluh tahun” (Sunan Ibnu Majah, juz 2 hal.97)

Selanjutnya Nabi Muhammad SAW mempertegas sikap orang muslim yang memperlakukan nonmuslim secara semena-mena dengan mengatakan :
8.jpg

Nabi bersabda; “Barang siapa yang telah membunuh nonmuslim tanpa alasan yang benar, maka Allah benar-benar melarang baginya masuk surga”. (HR. Ibnu Umar; Jami’us Shaghir hal. 177)

4. Perlindungan Pada Tempat-Tempat Ibadah.
Selain melindungi nonmuslim, al-Qur’an juga memerintahkan kepada umat Islam untuk melindungi tempat-tempat ibadah agama lain dalam arti tidak merusak, membakar, apalagi sampai menghancurkan tempat ibadah agama lain sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an Surat Al-Hajj : 40 Juz 17 ;
9.jpg
(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi, dan masjid- masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. “Matur Suwun”

Comments on: "TEPO SELIRO MARANG LIYO" (1)

  1. Salaam,
    Senang hati ini membaca uraian diatas, semoga sikap tolernsi atau tepo seliro kita tularkan kesemua masyarakat indonesia dan saya dengan lapang dada mengucapkan “damai sejahtera untuk kita semua”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: