Zona Aktualita dan Transformasi Idea Pergerakan


Choirul Nisa’ – ” umi…..mi…umi….” tangis bocah itu pecah, saat berkerumun ditengah teman sebayanya. Mata ibu itu mencari panggilan suara itu, sekejab saja tubuh itu sudah memeluk tubuh penuh debu dan memberikan senyuman yang menenangkannya. Di sudut lain sang abi hanya melihat dari balik kacamatanya tanpa “ekspresi” yang sulit di terjemah dan setelah itu ia kembali menekuni pekerjaanya.

Sepenggal cerita ini, mungkin dapat melayangkan memory otak kita pada usia 7-9 tahun silam, mencoba memahami sosok yang telah memberikan kasih sayang tanpa pamrih, belum pernah terlintas dibenak kita. Jangankan untuk memahami beliau, ucapan terima kasih secara tulus saja belum pernah kita berikan atas segala rasa, jasa dan pengorbanannya.

Kehadirannya begitu biasa, karan sosok itu telah terbiasa dijumpai bahkan kata istimewa hanya sebagai symbol seamta untuk mengagungkannya. Menyayangi, dan mencintainya bahkan menghormatinya merupakan tuntutan normas masyarakat, krtika kita tidak mau di cap”anak durhaka, tidak tahu balas budi”. Dan ini berjalan sudah berpuluhan tahun. Rasa cinta kita hanyalah sebuah ungkapan formal untuk merayu agar kehendak kita dikabulkan, agar uang saku seamkiun tebal atau hanya sekedar dapat izin keluar malam. Lantas seperti apakah kita memposisikan Umi?

Membaca kitab dan mendengarkan pengajian sudah terlalu sering kita lakukan, tapi adakah yang pernah berkesan di hati kita? Sehingga hadist “surga di telapak kaki ibu”(H.R. Ahmadi ini sangatlah biasa, tiada ketakutan di hati kita?atau hanya sejedar rasa kebanggaan dan dalil bagi sebagian aktifis perempuan?saya tak dapat menjawabnya….

Sahabat…ketika kita sudah percaya kepada rukun iman, dan rukun iman yang kelima itu adalah :”percaya kepada hari kiamat”yang mana unsur-unsur dari hari kiamat adalah alam barza, timbangan surga dan neraka dan lain-lain.

Pemahaman secara tersirat telah dibeberkan dalam aqidah kita. Apabila kita sulit mengingkarinya”Umi”mendapat keistimewaan sebagai orang tua yang harus didahulukan dabnn yang palng dihormati segala perintahnya tak lain karena semua pengorbanan dan jihadnya. Kedudukan istimewa ini, merupakan keseimbangan antara pengorbanan dan balasan. Ketika”Umi” harus didurhakai anaknya, toh beliau tetap menjadi orang yang diagungkan oleh Alloh SWT dan rosulnya.

Alloh memang maha adil, segala pengorbanan makhluknya akan dibalas sesuai dengan kadarnya. Alloh dan Rosulnya memposisikan Umi sebagai orang yang tersirat dalam rukun iman taka salah karena keistimewaannya. Sabdanya adalah kalimat sakti, do’anya merupakn penetram jiwa dalam kehidupan kita.

Memposisikan Umi setelah Alloh dan Rosulnya adalah benar, karena hidup kita dilewaykan pada rahimnya dan kehidupan kita di dunia merupakan hasil dari perjuangannya antara kematian dan keselamatan. Pantaslah ketika laki-laki berjihad di medan perang dengan janji surga, wanita juga berjihad dengan janji mendapatkan mendapatkan surga dengan melahirkan anaknya.

Menghormati, menyayangi dan mencintainya secara tulus, tanpa ada tuntutan norma, tanpa adnya takut siksa Alloh merupakan kewajiban kita sebagai manusia yang mempunyai”HATI DAN AKAL”

 

Kasih ibu kepada beta

Tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi tak harap kembali

Bagai sang sirya menyinari dunia

 

 

Special to sahabati-sahabati ku, “jadilah umi yang baik untuk kader-kader bangsa kita”

 

*) penulis adalah salah satu kader PMII di Komisariat Ngalah yang saat ini menjabat sebagai ketua Rayon Guevara

Comments on: "UMI “Mencoba Memposisikan Sesuai Proposinya”" (4)

  1. dlam ilmu agama mnyebutkan nama ibu kali bahwa mnunjukkan anak yg berbakti pd ORTU kita&seorang anak hrslah jadi insan yang lebih baik nanggung,ilmu kita spaya di ridhoi 4JJ l S.W.T dng mlakukn yg hrs kta lkukn slma didunia…………………………………………..

  2. hallo
    kok rajin sekali ya
    buat artikel

  3. @#*****!!!!!?????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: