Zona Aktualita dan Transformasi Idea Pergerakan


Jangan sekali-kali melupakan sejarah, kalimat tersebut pernah dikatakan Bung Karno yang kemudian populer dengan istilah JASMERAH. Kiranya apa yang dikatakan Bung Karno bukan tanpa alasan karena fungsi sejarah sangatlah penting dalam mengembangkan kehidupan yang lebih baik. Sir Muhammad Iqbal dalam filsafat epistemologinya menempatkan sejarah sebagai sesuatu yang mutlak harus ada. Bagi Iqbal, sejarah adalah sejenis gramafon besar yang di dalamnya suara bangsa-bangsa disimpan. Sementara Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa orang yang tidak paham sejarah maka dia tidak akan tahu masa kini, apalagi masa depan. Demikian pula dengan Kitab Suci Islam (Al-Qur’an) yang banyak sekali mengungkap peristiwa-peristiwa masa lalu. Sejarah adalah sumber etis dan nilai dari generasi terdahulu untuk generasi selanjutnya, sehingga telaah atasnya menjadi sesuatu yang urgen dilakukan.

Namun, bagaimana jika sejarah itu sendiri yang justru menyimpan banyak masalah? Masihkah ia menjadi rujukan hidup? Kiranya problem inilah yang terjadi di negeri kita, sejarah banyak mengalami fiktifikasi realitas – untuk tidak mengatakan kebusukan –, dalam artian sesuatu yang kenyataannya terjadi dianggap fiktif sementara yang fiktif sebaliknya diyakini sebagai kenyataan, dan atau sejarah menjadi ada dan mengada untuk golongan tertentu dan individu tertentu sehingga sangat kental dengan nuansa-nuansa kepentingan sesaat oleh karenanya alur sejarah menjadi kabur dan cenderung menjadi mitos.

Asvi Warman Adam menilai sejarah Indonesia berada dalam tiga problem tipologi interpretasi; i) ketidaktepatan, ii) ketidaklengkapan dan iii) ketidakjelasan. Sebagai contoh tipologi pertama berkaitan dengan masa pendudukan penjajahan Belanda selama 350 tahun. Menurut Adam sebagaimana ia mengutip Prof. Mr. Gertrudes Johan Resink yang membantah fakta tersebut, dengan alasan pada tahun 1854 Menteri Urusan Koloni mengatakan bahwa di kepulauan Indonesia masih ada negeri-negeri merdeka.

Contoh lainnya ialah seputar kontroversi pemberian Surat Perintah Sebelas Maret (SUPERSEMAR). Diketahui bahwa naskah SUPERSEMAR adalah tonggak sejarah yang dijadikan legitimasi pemerintahan Soeharto. Dalam kasus ini, sejarah versi Orde Baru menyebut SUPERSEMAR murni pemberian dari presiden Soekarno dengan sukarela, padahal ada fakta lain yang berpendapat bahwa surat tersebut dikeluarkan Soekarno setelah mendapat tekanan dari tiga perwira suruhan Soeharto. Namun data yang kontroversial dari konvensi umum ini tersembunyi rapi.

Kasus serupa juga terjadi dalam penulisan sejarah G 30 S yang memasukan PKI sebagai dalang tunggal dalam peristiwa tersebut, padahal siapakah yang menjamin kalau PKI (Partai Komunis Indonesia ) adalah dalang dibalik penculikan para Jenderal yang dibuang ke lubang buaya dan siapa pula yang menjamin bahwa TNI (Tentara Nasional Indonesia) adalah lembaga yang benar-benar telah berjuang dalam mempertahankan PANCASILA. Padahal masih ada data lain yang mengungkap peristiwa tersebut sebagai kesatuan dari langkah kudeta militer yang di dalamnya terlibat Soeharto, militer dan CIA.

Contoh tipologi kedua ialah berkaitan dengan penetapan Hari Kebangkitan Nasional yang dikaitkan dengan berdirinya Beodi Oetomo 1908 yang organisasinya cenderung bersifat kedaerahan, padahal pada 1905 sudah ada SI yang justeru lebih Nasionalis. Hal serupa juga terjadi dalam memperingati hari Sumpah Pemuda 1928 yang sering dijadikan sebagai alat politik orde baru dalam mengusung ideologi persatuan dan kesatuan. Padahal sebelum peristiwa tersebut tepatnya pada tahun 1925 telah terjadi manifesto politik yang mencakup unity, liberty dan equality.

Dan contoh tipologi ketiga berkaitan dengan keberadaan SUPERSEMAR, pelanggaran HAM baik yang terjadi di Aceh, Papua dan lainnya yang sampai sekarang masih tidak jelas pangkal ujungnya.

Kemerdekaan adalah jembatan emas. Artinya, kemerdekaan bukan akhir dari perjuangan. Kemerdekaan bagi bangsa Indonesia seharusnya menjadi awal bagi perjuangan untuk memerdekakan rakyat Indonesia.

          Tepat pada tanggal 17 Agustus 2007 nanti, Indonesia genap berusia 62 tahun. Kemeriahan perayaan HUT RI kali ini sudah mulai terasa. Penjual-penjual bendera merah putih dengan segala asesorisnya sudah mulai tampak memamerkan dagangannya. Demikian juga dengan pertandingan-pertandingan olahraga, yang biasa digelar untuk memeriahkan hari yang sakral tersebut, juga sudah mulai terlihat.

          Mensyukuri kemerdekaan yang telah kita raih merupakan sesuatu yang patut dilakukan, namun melakukan instrospeksi untuk melihat sejauh mana cita-cita kemerdekaan telah kita capai, juga tidak boleh diabaikan. Karena kemerdekaan adalah momentum, untuk memerdekakan rakyat Indonesia dari keterbelakangan.

 

WAJAH KUSUT INDONESIA

          Wajah kusut Indonesia dapat dibaca jelas lewat banyaknya pengangguran dan orang miskin. Berbicara tentang kemiskinan dan pengangguran, Indonesia jauh lebih miskin dibanding Malaysia dan Singapura. Sekitar 64 juta rakyat Indonesia hidup miskin di penghujung akhir tahun 2005. Artinya, hampir seperempat penduduk

Indonesia berada dalam kemiskinan. Awal tahun 2006 pengangguran diperkirakan mencapai sekitar 10 juta orang, belum lagi ditambah berbagai bencana yang menyebabkan banyak masyarakat kehilangan mata pencahariannya.              

          Dibandingkan dengan negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia misalnya, Indonesia jauh tertinggal. Memang Indonesia berhasil mengukir prestasi indah dalam beberapa olimpiade sains belum lama ini. Namun itu hanya sebatas menunjukkan, bahwa Indonesia memiliki potensi yang besar.

          Padahal bila kita melihat pada alenia ke empat dalam Pembukaan UUD tahun 1945 tentang cita-cita bangsa Indonesia yang ingin dicapai, terdapat salah satu point yang menyebutkan “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Selain itu dalam batang tubuh UUD tahun 1945 dalam Pasal 31 menyebutkan “setiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran yang layak”. Kedua point tersebut tidak pernah terealisasi dan hanya menjadi angan-angan belaka. Kalimat-kalimat yang indah itu hanya menjadi bahasa-bahasa langit yang sulit sekali untuk dapat diterjemahkan dalam bahasa yang membumi, khususnya pada masyarakat yang ingin sekali merasakan nikmatnya dunia pendidikan.

 

PENDIDIKANKU MALANG

         Pemerintah sebagai wujud dari organisasi bangsa, tidak pernah serius dalam membangun salah satu unsur terpenting dari sebuah negara, yaitu pendidikan dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada. Ketidakseriusan ini nampak jelas, ketika kita mencoba merefleksikan dalam kurun waktu hampir 62 tahun Indonesia merdeka, sektor pendidikan tidak pernah menjadi prioritas lahan garap pemerintah. Pendidikan hanya menjadi nomer sekian setelah sektor-sektor yang lain. Padahal, ketika sebuah bangsa ingin maju dan mampu untuk sampai pada tahap tinggal landas sektor inilah yang harus menjadi perhatian utama. Dengan pendidikan dan kecerdasan, bangsa Indonesia akan mampu tampil dan menunjukkan eksistensinya kepada dunia, bukan hanya menjadi bangsa pengekor serta tunduk dan patuh pada bangsa lain.

         Tetapi bila kita melihat kondisi sekarang, kelihatnnya masyarakat memang harus menahan keinginannnya itu dan terus bersabar. Karena terdapat indikasi bahwa anggaran pendidikan untuk tahun 2008 akan dikurangi, padahal seharusnya naik (sebagai realisasi anggaran pendidikan 20 %). Bagaimana mungkin kita mendapatkan mendidikan yang berkualitas ketika anggaran pendidikan terus-menerus dipangkas. Dan dalih pemerintah dalam pengambilan kebijkan ini adalah untuk membayar bunga hutang luar negeri. Padahal hutang tersebut hanya dinikmati oleh segelintir orang akan tetapi rakyat yang harus menanggung deritanya.

         Permasalahan selanjutnya adalah mengenai kesejahteraan guru negeri apalagi swasta juga kurang diperhatikan. Guru sebagai seorang pendidik seharusnya mendapat penghormatan dan penghargaan mulia. Bagaimana mungkin para guru dapat memberikan kinerjanya yang optimal dalam mendidik dan mengajar para siswanya, ketika disatu sisi mereka masih repot untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Realita yang ada mereka selalu terpinggirkan dalam masalah kesejahteraan dan tidak pernah diperhatikan. Walaupun para guru melakukan semua pengabdian itu dengan tulus ikhlas, seharusnya pemerintah juga harus memperhatikan nasib mereka dan memberikan penghargaan yang layak atas kerja keras yang telah mereka lakukan.

         Beberapa kondisi tersebut menunjukkan bahwa memang nasib bangsa ini memang sungguh tragis. Tidak pernah henti-hentinya mereka terus ‘dijajah’. Proklamasi kemerdekaan memang telah berkumandang 62 tahun silam, tetapi panjajahan-penjajahan dalam bentuk dan wujud yang lain tetap berlangsung di negeri ini.

         Kemerdekaan di negeri ini belumlah dapat dinikmati seluruh bangsa. Mengutip syair W.S Rendra: “…bukankah kemerdekaan yang sempurna itu adalah kemerdekaan negara dan bangsa? Negara anda sudah merdeka, tetapi apakah bangsa anda juga sudah merdeka?”

         Anda mungkin telah merdeka. Negara ini telah merdeka. Tapi yang pasti bangsa Indonesia belum merdeka. Saya tidak memiliki kompetensi untuk menggurui, tetapi kita semua bisa belajar dari para pejuang kemerdekaan negeri ini. Ketika harapan bersanding dengan kenyataan? Saya hanya mampu hormat setengah tiang.

Akhirnya Indonesia yang sudah enam puluh dua tahun merdeka ternyata seringkali tergelincir dalam lubang hitam yang salah satu faktornya ialah adanya ketidakpahaman dan kekeliruan terhadap sejarah. Berkaitan dengan ini cukup dibuktikan melalui banyaknya kebijakan-kebijakan publik yang cenderung mengulang-ulang kesalahan. Atas dasar itu Pramoedya Ananta Toer menyebut bangsa Indonesia sebagai bangsa yang mudah melupakan sejarah.

 

*) Ayik Ritonga adalah Khodam Pengkaderan PC PMII Pasuruan 2007-2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: