Zona Aktualita dan Transformasi Idea Pergerakan


Dalam konteks ini, maka bagaimana Teologi (Tauhid) Gerakan PMII dimaknai sebagai tidak saja menekankan pendekatan intelektual terhadap iman, ditekankan pula pada iman yang penuh dengan kepasrahan, melainkan yang lebih penting adalah bagaimana menekankan iman pada tindakan, dalam dunia dan sejarahnya yang memberi motivasi terhadap kader PMII dan sejarah dunia ini. Seiring dengan itu pemahaman mengenai Tuhan harus dimulai dari fakta historis. Tauhid hendaknya diletakkan sebagai tindakan. Kalau tidak, dikhawatirkan seperti apa yang terjadi sekarang ini, agama hanya terletak pada simbol dan institusi belaka.

Teologi PMII harus mampu mengarahkan kita untuk mengupayakan lahirnya sebuah konstruksi masyarakat ideal, masyarakat yang tidak dijamin oleh kekerasan, melainkan kehidupan bersama yang dijamin oleh nilai-nilai universal keilahian, tanpa kekerasan. Sebenarnya, Islam Ahlussunnah wal jama’ah (Aswaja) sebagai manhajulfikr, menuntut pentingnya perumusan ulang terhadap posisi manusia, baik di hadapan Tuhan maupun di sisi manusia serta makhluk lainnya. Karenanya, rumusan Teologi PMII tidak saja membicarakan Tuhan beserta sifat-sifatnya ataupun terlalu sibuk membela Tuhan, baik yang terkait dengan keesaan, keadilan, maupun sifat-sifat ketuhanan lainnya. Tetapi, yang lebih penting adalah bagaimana teologi juga memberi cakrawala yang lebih luas dari aplikasi sifat-sifat Tuahn tersebut. Dus, rumusan Teologi PMII tidak saja membela Tuhan ‘di sana’ melainkan juga membela manusia dan alam yang ‘di sini’, sebab bukankah membela manusia dan alam seisinya merupakan bagian utama dari membela Tuhan?

Mengenal Tuhan bukanlah hal yang jauh dari diri manusia (Ana aqrabu min hablilwarid?), sebab Tuhan ada pada diri kemanusiaan itu sendiri, sifat-sifat Tuhan ada dalam diri manusia sebagai wakil dari Allah (khalifatullah). Hanya yang diperlukan oleh kita adalah bagaimana semua kelengkapan keilahian ini mampu diimplementasikan untuk mewujudkan nilai-nilai uniersal Islam di seluruh muka bumi ini dan sekaligus menegakkan HAM, demokrasi dan keadilan sosial. Dengan begitu, setiap kader PMII itu selalu ‘saleh ritual’ sekaligus ‘saleh sosial’. Secara individual, kader PMII melalui perjuangan melahirkan kreatifitas, mencipta, menebarkan kesejahteraan maupun menciptakan masyarakat yang otonom, dan tidak mudah digiring oleh kekuatan hegemonik, baik antar sesama manusia ataupun dalam bentuk kebendaan.

Rumusan sederhana di atas di konsepsikan di PMII sebagai Teologi antroposentrisme-transendental sebuah teologi yang meletakkan manusia sebagai subyek utama yang mewakili tugas-tugas ketuhanan di bumi yang berjalan dan berproses hidup dalam sumbu poros keilahian. Ingat, bahwa manusia memiliki kemerdekaan dan kekuatan untuk menentukan nasib dirinya berdasarkan amanah Tuhan. Tugas kekhalifahan ini dalam rekayasa sosial bukanlah reduksi melalui kemajuan tatanan material-temporal, melainkan suatu tata cara yang dinamis dan spiritual. Tugas ini harus berlangsung secara ‘ajeg’ tidak boleh dimutlakkan atau di-mandek-kan. Ia merupakan gerak yang tidak pernah terhenti, berlangsung terus (istiqomah) menuju kepenuhan (insan kamil). Memang proses pencerahan terjadi dalam relung sejarah, namun hal ini tidak boleh terhenti di sana, dan terus-menerus harus dikritik agar kekhalifahan kita tidak menjadi penuhanan atas manusia dan kebendaan.

Pemahaman Islam sebagai agama tauhid tidak bisa dilepaskan dari konteks sosio-historis, sosio-kultural dan motivasinya sebagai “agama pembebas”. Islam datang untuk menegakkan kalimat Laa ilaaha illaahu. Suatu kepercayaan (aqidah) yang meletakkan kepercayaan kepada Allah SWT. secara transendental, dengan menisbikan tuntutan ketaatan kepada manusia dengan berbagai jenis kelamin, ras, etnis, warna kulit maupun status sosialnya. Ia merupakan teologi yang tidaklah teocentris (ana abdullah) yang menjadikan manusia hanya semata obyek ketuhanan, maupun antropocentris (ana insan), yang memposisikan sebagai penentu segalanya, termasuk menentukan ‘jenis keyakinan’ seperti apa yang harus dipeluk. Teologi ini juga tidak menempatkan manusia pada posisi kontradiktif antara manusia sebagai khalifatullah yang bertugas memakmurkan bumi maupun manusia sebagai abdullah yang berkewajiban mengabdi dan menyembah Allah sepenuhnya. Justru yang hendak di raih adalah totalitas khalifatullah sekaligus dalam proses abdullah, seperti yang pernah ditauladankan dengan baik oleh Muhammad SAW.

Karena itu, tauhid gerakan PMII harus dimulai dengan meredefinisi (dekonstruksi jika perlu) konsep tentang teologi, berteologi, serta kaitannya dengan realitas umat, negara, sosial, ekonomi, budaya dan lain sebagainya. Teologi dan tauhid gerakan yang harus dilahirkan nantinya adalah teologi yang mampu menerjemahkan misi liberasi dan transformasi agama dalam konteks pemuliaan terhadap harkat kemanusiaan, penghilangan dikhotomi gerakan politico-struktural dan socio-kultural dalam khidmat berbangsa dan bernegara Indonesia. Pembebasan teologi di PMII dimaksudkan agar pemikiran dan gerakan tauhid (teologi) yang sedang terjadi di Indonesia kembali menemukan elan revolusionernya seperti yang pernah ditunjukkan Muhammad Rasulullah, untuk mewujudkan misi liberasi dan transformasi agama sehingga melahirkan motivasi dan etos kerja yang nantinya akan memberikan tawaran sistem tauhid dan teologi yang mampu menyadarkan dan memotivasi manusia untuk berpartisipasi membebaskan diri mereka dari belenggu kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan baik secara spiritual maupun material.

Sebagai teologi gerakan, ia tidak hanya berisi tauhid, namun juga berisi prinsip-prinsip dasar syari’ah dan sekaligus akhlaq, sebab teologi dalam hal ini dimaknai sebagai world of view umat Islam.

1. -Sebagai teologi gerakan yang meng-ejawantah-kan nilai dasar kehidupan manusia yang sesuai dengan martabatnya: pelestarian hak asasi secara individual maupun kolektif, pelestarian hak mengembangkan pemikiran sendiri, takut terhadap ancaman pengekangan, Hak mengemukakan pendapat secara terbuka, dan pengokohan kepribadian tanpa campur tangan dari orang lain.

2. Sebagai teologi yang mengharuskan manusia menjadi subyek perdamaian, kasih sayang, saling kasih, asih asah asuh dengan sesamanya tanpa mempertimbangkan perbedaan apapun secara lintas agama, kultur dan lintas etnis.

3. Sebagai teologi yang mendapatkan manusia sebagai makhluq yang mempunyai kemampuan fitri, akali dan persepsi kejiwaan untuk tidak hanya mementingkan masalah-masalah dasar kemanusiaan belaka.

4. Sebagai teologi yang menawarkan kesadaran, Motivasi untuk selalu berpartisipasi dalam usaha membebaskan diri mereka sendiri dari kemiskinan, kebodohan, penindasan, keterbelakangan dan ketidakadilan untuk memperoleh kehidupan yang layak dan mulia sebagai manusia.

Syarat untuk melakukan itu tentunya kader Pesantren kecil seperti PMII Ngalah harus terus melakukan pembacaan dan kritik sejarah, akumulasi pengetahuan, memperluas networking. Semua ini harus dilakukan secara konsisten, dalam gerak ritmis disiplin diri dan organisasi dengan kesadaran kritis. Perubahan ini semua diarahkan hanya untuk menegakkan kalimatun Sawa’ dalam konteks keislaman dan keindonesiaan

Lantas pertanyaannya adalah bagaimanakah rumusan ini menjadi mudah dipahami (di-internalisasi) oleh kader, konstektual, dan aplikatif-operable? Tentulah membutuhkan campur tangan banyak pihak di PMII untuk mencarikan rumusan operasionalnya dari teologi di atas yang sekali lagi tidak hanya dalam bentuk kertas kerja, konsep paper atau buku-buku kaderisasi dan ideologi maupun paradigma di PMII melainkan dalam bentuk sistem menyeluruh yang tertuang di atas kertas, terendapkan dalam nalar dan batin kader serta ternyatakan dalam setiap tindakan kader dan organisasi. Last but not least, Bersediakah sahabat-sahabat semua bersama-sama memikirkan dan menerapkan itu semua dalam bentuk nyata? Bersediakah sahabat-sehabat semua untuk tidak saja melakukan pendekatan intelektual dan spiritual terhadap iman melainkan juga menekankan iman pada tindakan, iman yang melahirkan motivasi dan etos kerja yang mampu memaksa diri pribadi kader maupun organisasi menjadi lebih baik lagi ? wallahu’alam bisshowab…

Comments on: "Bincang PMII Ngalah Untuk Kader “tentang Teologi Gerakan Pengkaderan”" (1)

  1. bagus juga tulisannya, tapi supaya font dalam blog ini bagus, sebelum posting buang dulu tulisanmu di program noteped biar font dalam web ini jelas!
    Selamat berjuang para santrinya Pak Sholeh!!!
    tangan terkepal maju ke muka.
    kunjungi kami di
    http://www.averroes.or.id,
    http://www.jendelapemikiran.wordpress.com

    salam,

    edhenk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: