Zona Aktualita dan Transformasi Idea Pergerakan

Menatap Cermin Perempuan


Wachyuni – Kalau ngaji balaghoh itu kita pasti ketemu dengan uraian kalam yang terhimpun dalam rangkaian sanad, ,musnad ilaih. Dalam musnad musnad ilaih itu terkadang berupa kalam masdariyyah, fi’liyyah atau juga khobariyyah. Karena saking beragamnya manusia dalam menangkap pembicaraan, maka berbagai cara juga dilakukan untuk menanggulangi kesalahpahaman. Begitu juga gerakan kita ini ada kalanya merupakan gerakan yang masih membutuhkan penjelasan ulang tentang keberadaan perempuan itu sendiri, sehingga sudah jelas bahwa perempuan itu juga mempunyai peran yang signifikan, namun kita ini sering kali lalai dengan potensi yang sama yang diberikan oleh Alloh SWT sebagai manusia yang sama-sama memikul amanat kholifah fil ardhi, perempuan itu juga mempunyai banyak cermin yang bisa dimapak tilasi, tapi kenapa masih saja kadang perempuan terjebak pada sekat yang tidak konstruktif.

Inilah mungkin ternyata nusnad ilaih itu harus dijelaskan, di balagho itu disebutkan bahwa ketika musnad ilaih itu dijelaskan secara gamblang karena mempunyai sebab, diantaranya yaitu untuk memantapkan jiwa. Barangkali dengan kita membaca lagi sejarah atau membaca peran perempuan yang bisa meluangkan segala potensinya akan bisa menjadi semangat kita dan menjadi jiwa kita ini mantap. Sehingga gerakan kita ini tidak hanya sekedar hal yang muhmal, akan tetapi gerakan yang berfaedah, seperti halnya kalau kita mempelajari ilmu nahwu, bahwa ketika kita hanya pandai berbicara maka kita masih bisa disebut ahli lugho yang mana pembicaraan kita ini ngalor ngidul tanpa punya makna atau hanya sedikit maknanya, akan tetapi jika kita sudah termasuk golongan nahwiyyin, maka pembicaraan kita ini akan seimbang dengan gerakan kita, dalam arti luas bahwa keilmuan kita ini akan seimbang dengan implementatif kita sebagai pengejawantahan ilmu yang bermanfaat.

Sebetulnya kalau kita cermati secara teliti, ternyata perempuan itu adalah otak, siapa kemudian yang mengatakan bahwa perempuan itu adalah masuk dalam kategori perasaan, hanya orang yang tidak mempunyai pengetahuan saja yang akan mengatakan hal tersebut, atau mereka berpengetahuan akan tetapi tidak bisa meneropong pesan yang tersirat dalam kandungan firman-firman Alloh. Cobalah sekarang kita membaca sejarah lagi secara singkat. Tarikh Islam sudah sangat fasih sekali menyebutkan kisah-kisah perempuan, kita baca Bilqis, siapa yang tidak kenal dengan namanya, tapi gerakannya apa kader PMII sudah lebih kenal? Tafsir manapun menyebutkan bahwa Bilqis adalah wanita yang sangat cerdas dan pinter, seorang diplomatis yang dikagumi oleh seluruh rakyat bahkan bangsa lain yang menjadi tawanannya, sampai sampai nabi Sulaiman juga simpatik karena kecerdasan Bilqis yang cukup komplek, mulai dari cerdas pikirannnya, hatinya, konsep keseimbangan kepandaian hati dan pikiran inilah yang kemudian dijadikan alat analisa atas mukjizat yang diberikan Allah kepada Sulaiman alaihissalam bahwa istana Bilqis yang berada di naungannya adalah karena itu benar-benar mukjizat yang tidak diberikan oleh siapapun manusia, kecuali utusan (nabi Alloh).

Sikap pasrah Bilqis tidak serta merta tunduk karena kekuasaan yang ditampilkan oleh nabi Sulaiman, akan tetapi lewat proses analisa yang cukup tajam, bahwa dia adalah pemimpin perempuan yang tidak mudah dibohongi. Begitu nabi Sulaiman mengirimkan surat pada Bilqis yang berbunyi Innahu min Sulaimana Wa Innahu Bismillahirrohmanirrohin alla ta’lu ‘alayya wa’tuni muslimin, meski Bilqis grogi bagaimana haus menyikapi itu, akan tetapi improvisasainya sebagai pemimpin yang cerdas menutupi segala ketakutan yang menikamnya, lalu diutuslah beberapa pengawal yang amat cerdas-cerdas kepada Sulaiman dengan membawa beberapa hadiah-hadiah yang mewah, sebelun berangkat selayaknya pemimpin yang cerdik tidak membiarkan utusannya tanpa bekal pengetahuan, maka Bilqis berkata : ketika Sulaiman menerima hadiah ini maka jelas bahwa dia adalah raja, tapi jika Sulaiman tidak menerima apapun yang dibawa berarti jelas bahwa dia adalah nabi. Ternyata Sulaiman tidak menerima apapun yang dibawakan Bilqis, majulah Bilqis untuk menyaksikan siapa sebenarnya Sulaiman alaihissalam, begitu sampai di Istananya, Bilqis ditanya oleh mabi Sulaiman : Apakah seperti ini istana kamu? Ya seperti itu jawabnya.

Inilah kemudian yang menjadi acungan jempol seluruh siapapun yang menyaksikan waktu itu, gaya diplomatis Bilqis yang membuat seluruhnya ta’ajjub, seandainya Bilqis ditanya: apakah ini istanamu, maka jelas Bilqis akan menjawab bahwa ya ini istanaku, begitulah Bilqis beretorika, begitu dia mengucapkan sesuatu pastilah yang dikeluarkan itu adalah bermanfaat (kalam mufid menurut ahli nahwu), dan dalam setiap yang dilakukan dia tidak pernah lepas dalam gaya mantiq (ilmu badhihi dan ilmu dlorury), juga dalam setiap pembicaraannya terlapisi oleh balaghoh (ilmu ma’ani, ilmu bayan, dan ilmu badi’). Pada jawaban Bilqis itu ulama’ tafsir telah mengeluarkan analisa bahwa Bilqis adalah wanita cerdas, bahwa Bilqis mengerti bahwa segala apapun yang terdapat dalam kekuasaan Sulaiman adalah hak dan miliknya. Semua yang dihadirkan Sulaiman olehnya (istana Bilqis yang dipindah pada istana sulaiman) adalah semata kekuasaan Alloh yang anugeahkan padanya, analisa itulah yang membuat hati Bilqis semakin cerdas bahwa ternyata selama ini dia salah menyembah Tuhannya, kecerdasan yang seimbang antara hati dan pikiran itulah akhirnya citra diri ulul albab menjadi bagian dari hiasan dia, dari kecerdasan hati serta pikiran itu pula Bilqis menyerah dan berkata Qolat robby inni dlolamtu nafsi wa aslamyu ma’a Sulaimana lillahi robbil ‘alamin. Tidak heran jika akhirnya beberapa bulan yang lalu PB Kopri PMII menulis tentang advokasi Bilqis untuk menapak tilasi bahwa sesungguhnya dalam jiwa Bilqis itulah cermin ulul albab. Masih banyak lagi tokoh perempuan yang fasih disebut dalam sejarah, bagaimana kita melihat Siti Hajar yang amat teguh dalam kondisi kekeringan untuk mencari seteguk air untuk buah hati tercinta Ismail, Mariyam sebagai wanita yang amat khusu’ sekali menjali pertapaannya, belum lagi Nyai Channah (ibu mariyam) yang punya jiwa tegar luar biasa menyerahkan anaknya yang didambakan selama bertahun-tahun untuk menjalankan pertapaan suci.

Adalagi perempuan yang mempunyai mental kuat membiarkan anaknya terhanyut dalan sungai nil agar lepas dari cengkraman Fir’aun dia adalah Yuhanidz (ibu nabi Musa), dalam masa yang sama pula tampil wanita yang tidak pernah goyah dalam menyuarakan gerakan yang haq yaitu Mashitoh (gugur dalam kwali panas fir’aun) juga dibarengi oleh Siti Asiyah yang tetap membenarkan ajaran nabi Musa, mereka adalah perempuan yang tegar dan tidak bodoh sama sekali memandang segala yang haq, dan terus lurus menyuarakan kebenaran. Juga masih ada cerita bagus yang disediakan Al-Qur’an yang disebut sebagai “ahsanal qosos”, ini adalah cermin perempuan yang realistis, sejarah tidak asing menyebutnya dengan asma Zalikho’/Zulaikho’, dia adalah wanita cukup realistis dalam menganalisa segala keadaan, yang dalam kisahnya tertulis bahwa ketampanan nabi Yusuf tidak hanya atas pandangan mata Zalikho’ semata, akan tetapi seluruh warga kota juga menyaksikan kenyataan yang terjadi itu, sampai pada akhirnya Zalikho’ meskipun ibu angkat dari nabi Yusuf sepeninggal raja Mesir Zalikho’ menjadi istri nabi Yusuf, inilah yang akhirnya ditarik benang merah oleh konstitusi syari’ah bahwa dalam urusan munakahat tidak ada kaplingan usia, bahwa urusan pernikahan adalah aqil, baligh, adapun ketentuan dan syarat rukun yang lain adalah sesuai dengan ketentuan agama dan kepercayaan masing-masing, ini juga akhirnya dikuatkan oleh pernikahannya nabi dan Khodijah al kubro.

Menyinggung nama Khodijah al kubro kita pasti terbesit dalam angan tarikh yang kita pelajari beberapa tahun silam, beliau tidak hanya sekedar wanita satu satunya yang termasuk golongan assabiqunal awwalun, akan tetapi sialah mu’minat yang mendampingi nabi dalam tahap pertama tugas kenabian, tentunya masih segar ingatan kita ketika nabi bertahannuts di gua hiro’ lalu tiba tiba ada Jibril menyampaikan wachyu yang pertama, kondisi mabi waktu itu tidaklah setegar seperti memimpin perang badar, dan saat pulang dari pertapaan di gua hiro’ pun nabi langsung meminta perlindungan pada Khodijah dan berkata zammiluni zammiluni, bukan hanya sekedar selimut badan yang diharpkan oleh nabi, namun juga selimut hati sebagai pendukung psikilogisnya untuk menerima perintah Iqro’, dengan kesiapan mental Khodijah yang cukup (tentunya karena kedewasaan khodijah) maka bertahanlah nabi untuk menghadapi Jibril, inilah perempuan mukminat yang senantiasa menuangkan harta bendanya, memberikan semangat besar untuk perjuangan revolusioner akbar. Cermin cermin yang lain juga menunjukkan ternyata juga ada perempuan yang spektakuler dalam kajian sufistik dengan gemerlap konsep machabbah nya dalam menggayungi tangga taqorrub ilallohi.

Baiklah sekarang kita beralih pada cermin perempuan pribumi, sudah masyhur dalam sejarah bahwa Islamisasi di Indonesia tidak lain karena disebarkan oleh wali songo. Dalamnya juga terdapat perempuan perempuan yang tangguh demi mendukung support perjuangan semuanya, Nyai Dewi candrawati misalnya, beliau adalah istri sunan ampel yang amat super melaksanakan continuitas ibadahnya, kuat dalam tirakatnya, hingga tidak heran jika beliau melahirkan para wali besar di jawa ini ( sunan bonang & sunan drajat adalah putranya, sunan kalijogo & sunan giri adalah menantunya, sunan muria adalah cucunya), juga masih ada lagi ibu yang sangat kaya raya dalam urusan perdagangan, beliau adalah Nyi Ageng Manila, perempuan yang membesarkan sunan giri sebelun sunan giri menemukan orang tua kandungnya yaitu Maulana Ishaq&putri raja Blambangan (ibu kandungnya), tidak hanya itu ternyata masih ada lagi yaitu Nyai Rara Santang, istri sunan Gunung Jati, perempuan keturunan Cina ini cukup ahli dalam bidang arsitektur, tidak heran jika dalam pembangunan masjid gunung jati itu juga merupakan bagian dari urun desain beliau, dam untuk menampakkan bahwa Nyi Rara Santang ini adalah keturunan Cina, dipasanglah dalam masjid-masjid itu piring-piring Cina.

Masa pra kemerdekaan Indonesia juga sangat kental dengan nama Cut Nyak Dien, turut perang melawan penjajah dengan senjata rencongnya, yang akhirnya dibantu oleh Cut muti’ah, belum lagi kita mengenal pejuang perempuan yang aktif membangun kesetaraan pendidikan antara laki-laki dan perempuan, antara kaum miskin dan kaya, antara anak pejabat dan rakyat, tentunya dia adalah RA. Kartini dengan Dewi Kartika.

Terang bukan? Bahwa perempuan itu dari dulu sudah berkiprah aktif, meski keadaan terjepit oleh budaya misalnya, yang dicontohkan oleh RA. Kartini, namun simbul-simbul jari’an tidaklah menjadi langkah serimpet untuk berpartisipasi membangun bangsa ini. Tapi juga lihatlah Bilqis yang sangat punya langkah lebar dalam melangkah sebagai pemimpin, diplomat, cerdas, pinter. Hanya apakah kita berani melangkah ataukah malas melangkah? Beginilah kiranya munad ilaih gerakan perempuan yang diterangkan ulang lewat historis riil, dalam buku kuasa wanita jawa itu juga ditulis bahwa perempuan itu cukup punya andil besar dalam pembangunan meski dia tidak duduk dalam kursi publik, karena kebijakan pikirannya bisa disalurkan lewat orang orang terdekat yang duduk di kursi publik, begitu juga john F. Kennedy menyebutkan bahwa dibalik kesuksesan laki-laki ada seorang perempuan, begitulah perempuan harus sangatlah cerdas antara hati dan pikirannya, karena perempuan adalah madrosatul ummah yang mendidik seluruh manusia, lebih lebih ketika masih di kandungan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: