Zona Aktualita dan Transformasi Idea Pergerakan


[FreeTalk] Berbagai cara telah ditempuh, berbagai diskusi mulai dari slengean sampai tenanan telah dilakukan guna mendapatkan konsepsi pemahaman akurat terkait dengan berbagai problematika internal organisasi di Universitas Yudharta yang kian menjadi-jadi. Segala upaya preventif telah diusahakan guna melokalisir dan meminimalisir permasalahan biar tidak menjalar tidak karuan. Banyak juga hipotesa yang mengatakan dan bahkan mengkalim akan poligamilah yang menjadi primare-causality atas berbagai stagnasi di setiap lini  organisasi intar kampus (OMIK) up-date ini.  Akankah memang semacam itu real happening-nya?Â

Menelusuri Relaitas Empirik Memanglah tidak mudah bagi kita untuk mensinyalir secara langsung indikator penyebab stagnasi. Setiap orang mempunyai pandangan dan perspektif yang berbeda-beda dalam memberikan interpretasi seputar permasalahan dan hal itu tentunya didasari dengan realitas yang pernah dirasakan dan dialaminya. Ok-lah Si A mengatakan poligamilah yang bersalah. Si B mengatakan semangat keorganisasian temen-temen mahasiswa saja yang tidak ada. Dan Si C mengatakan kesadaran dalam berproses di organisasi yang mati. Dan seterusnya dan seterusnya. Menatap problema sistemik diatas memang membuat kita dizzy over (pusing tuju keliling), dan sudah pasti hal tersebut akan menyedot energi yang luar biasa dalam menemukan strategi over coming-nya (penyelesaiannya). Terlepas mana yang benar dan mana yang salah atas statement dan klaim diatas, namun yang perlu kita pahami dan kita nalisis secara mendalam terkait dengan permasalahan stagnasi yang terjadi di organisasi intra kampus saat ini adalah:Â

Pertama. Minimya kuwantitas mahasiswa Universitas Yudharata.Kedua, Minimya minat mahasiswa dalam berorganisasi.Ketiga, Banyaknya organisasi mahasiswa yang ada. Â

Sangat mendasar sekali untuk kita pahami dan kita sadari bahwasannya tiga kondisi diatas mempunyai implikasi negatif yang luar biasa terhadap gerak dan laju organisasi. Kuwantitas mahasiswa misalnya bisa dikatakan sebagai tonggak kekuatan dalam organisasi. Bisa dibayangkan mahasiswa yang minim dengan segitu banyak organisasi maka yang akan terjadi adalah dualisme bahkan threelisme organisasi. Jadi jangan disalahkan kalau Si X menjadi ketua diorganisasi yang ini kemudian ia juga menjadi pengurus di organisasi yang itu. Dan seterusnya dan seterusnya. Kondisi yang semacam inilah yang memaksa individu dalam organisasi harus memilih dari berbagai pilihan dilematik antara konsentrasi di organisasi ini ataukah beban tanggung jawab yang lebih besar di organisasi yang
sana. Base Case semacam inilah yang sering mengkontaminasi konstanta ideal dalam berorganisasi menjadi terdistorsi dari konsepsi primernya. Oragnisasi yang pada dasarnya sebagai medan training (zone of training), medan aktulisasi diri (zone of self actualitation), medan kerjasama (work on togetherness zone),
medan penggapain visi dan misi bersama (zone of getting organitation’s vision and mission) malah berubah menjadi stage of popularity (panggung popularitas) sebagaimana yang ditangkap oleh sensasi indrawi kita selama ini. Dunia organisasi kita saat ini seringkali kali hanya sebagai proses formalisasi belaka tanpa adanya tindak lanjut kegiatan yang nyata.
Ada strukturnya secara lengkap namun tidak ada kerjanya, ada raganya manun tidak ada sukma-ayunya. Akan tetapi kondisi semacam itu tidak secara kolektif terjadi di organisasi Universitas Yudharta Pasuruan, ya…… hanya sekitar satu, dua, tiga organisasi dan seterusnya dan seterusnya.
Â

Berbicara OrganisasiSeringkali teori tidak semudah apa yang kita bayangkan. “Ah, tidak masalah bagi saya untuk masuk lebih dari satu organisasi, Semuanya bias diatur…”. Celotehan diatas memang perlu maklum adanya untuk kita terima di atmosfir organisasi kampus Universitas Yudharta kita ini. Low quantity-lah sebenarnya yang memaksa sebagian mahasiswa untuk harus berbicara semacam itu. Akan tetapi celotehan semacam itu akan lebih bijaksana dan prayogi bila subjek paham akan beberapa hal yang terkait dengan organisasi.   pertama,  Paham Paradigma Berorganisasi.Dalam literatur komunikasi dikatakan “Organication is united people who has emotional relation and work together to gain their intention and distination” Jadi organisasi adalah asosiasi manusia-manusi yang mempunyai keterikatan secara emosional dan bekerja secara bersama-sama guna tercapainya tujuan bersama. Sangat ironis sekali ketika individu-individu yang ada dalam sebuah organisasi harus bekerja secara parsial dan tanpa adanya soliditas kerja kolektif. Kalau kondisi semacam ini terjadi maka organisasi akan mengalami disorintasi. Secara sederhana paham paradigama berorganisasi adalah kesanggupan individu akan assignment (tugas), responsibility (tanggung jawab), komitmen dan konsekwen. (karl Has Hofl). Hal ini senada dengan adagium Qurani “udhulu fissilmi kaffah”.Â

kedua, Â Paham Akan Prinsip Diri Dalam Berorganisasi.Organisasi merupakan
medan training bagi mahasiswa dalam mengenbangkan diri menuju pada mahasiswa yang ideal. Berbicara mahasiswa yang ideal adalah berbicara mahaiswa yang sadar akan dirinya sebagai agent of social change, agent of social control, agent of social dinamisator serta mengetahui tujuannya dalam melakukan setiap tindakan demi tercapainya sebuah tujuan (jhon max well).

Ada beberapa hal yang perlu kita pahami dan kita renungkan kembali akan pentingnya tujuan diri (self purpose) dalam mengikuti organisasi. Self purpose inilah yang akan meleburkan diri seseorang (ngrogo sukmo) pada institusi yang dimasukinya. Akan tetapi self purpose itu pun belumlah cukup memberi dampak yang signifikan selama individu dalam organisasi tersebut belum mengintegrasikan soft ware (piranti-piranti self purpose) itu sendiri. Adapun pirantri-piranti itu antara lain adalah sebagai mana berikut:
Self AwarenessSelf Awareness adalah kesadaran diri dalam berorganisasi. Individu secara sadar akan dirinya dalam organisasi serta paham akan organisasi yang diikutinya. Secara simplistik paham akan tugas dan tanggung jawab yang di embannya. Self LoyalitySelf Loyality adalah rasa kecintaan dan kesetiaan yang dimiliki oleh individu terhadap organisasi yang dimasukinya. Self loyality inilah nantinya yang akan memupuk sense of belonging (rasa memiliki) terhadap organisasi.
Ada sebuah ucapan “karena cinta segalanya akan dilakukan”.
Â
Self DedicationSelf Dedication adalah ruh pengabdian diri secara genuine yang dimiliki oleh individu-individu dalam organisasi. Sikap tulus akan segala daya upaya demi kemajuan organisasi tanpa adanya motif saya dapat apa dengan siapa kapan dan bagaimana.Ketiga,Paham Akan Visi Dan Misi Bersama.Dalam sebuah organisasi pasti tidak akan pernah terlepas dengan visi dan misi. Visi merupakan cita-cita general yang akan dicapai dimasa yang akan datang. Visi merupakan rell berpijak bagi organisasi dalam bergerak. Sedangkan misi adalah orientasi spesifik dari tujuan global. Jadi seorang organisatoris sejati haruslah paham akan visi dan misi organisasi yang diikutinya. Paham akan visi dan misi organisasi berarti paham akan kerja kolektif dan kooperatif serta paham akan adanya tujuan bersama. Orang ikut dalam organisasi dan tidak paham akan visi dan misi bersama ibarat sang pecinta yang tidak tahu akan perlabuhan cintanya [Zainul Akhwan Assgia Shobry]

Comments on: "POLIGAMI DAN SEGUDANG MISTIK BERORGANISASI" (1)

  1. laila el-izzah said:

    aq g tw mo ngmong ap.aq cuma ank ngalah ndiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: