Zona Aktualita dan Transformasi Idea Pergerakan


Syafiuddin Tohir – Senin, 24 April 2006 merupakan hari dimana penulis mendapat kesempatan yang istimewa karena pada hari itu penulis dikunjungi oleh kepala asrama A Ust Yasser Arafat di base came PMII Ngalah. Ust Yasser mencoba membawa wacana yang menurut penulis sudah sering sekali terjadi dan mungkin oleh sebagian masyarakat itu sudah dianggap sebagai suatu kebiasaan (taken for granted). Pokok permasalahan diskusi itu adalah menyangkut pengaduan seorang pendeta di Pandaan Pasuruan yang mendapat intimidasi dan bahkan mereka mendapkan ancaman akan dilakukan agresi (penyerangan) atas tempat ibadah mereka oleh salah satu ormas islam ekstrimis-konservatif, FPI (Front Pembela Islam) pimpinan Habib Rizieq kepada Top Leader Ngalah KH. Sholeh Bahruddin dan sang kyai memberikan tugas kepada ust yasser agar segera didiskusikan kepada mahasiswa khususnya PMII sekaligus mencoba mencari solusi permasalahan tersebut. Setelah beberapa waktu kita mencoba membahas fenomena yang terjadi itu maka penulis sadar akan manfaat/hikmah yang jauh lebih besar daripada sebatas mendapatkan solusi saja. Karena nilai itulah yang justru lebih memperdalam jiwa penulis dari segi religiusitas, karakter maupun mainstream berpikir. alasannya kenapa?

Manfaat itu adalah pertama, penulis merasa ada tantangan besar kita dalam menjaga kerukunan antar ummat beragama dalam bingkai negara kesatuan Republik Indonesia sedang berdiri di depan kita yang harus selalu kita analisa secara kritis-proporsional dan kita diskusikan bersama untuk mencari sebuah solusi yang brilian yang didasarkan pada kearifan kita dalam meneropong sebuah permasalahan. Adanya rencana penyerangan tempat ibadah itu membuktikan kepada kita bahwa dalam hidup berbangsa dan bernegara kita masih tidak dapat menerima keberadaan ummat yang berbeda keyakinan (baca: agama). Bila kita mau mencoba mengkaji lebih jauh permasalahan ini dengan multi perspektif (dari berbagai sudut pandang) maka pasti kita dapat memberikan solusi yang bijak dan akan memperteguh kesatuan umat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam hidup bernegara kita tidak dibenarkan menggangu aktivitas sesama warga negara dalam menjalankan ibadahnya apalagi merusak tempat ibadah karena dalam UUD(Undang-Undang Dasar) negara kita kehidupan umat beragama sangat di hormati dan dijunjung tinggi sebagaimana yang termaktub dalam UUD pasal 29 dan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila. Hal ini jelas tindakan mengganggu apalagi merusak tempat ibadah umat beragama tidak dibenarkan dihadapan hukum negara kita.

Bagi kita umat islam selayaknya instrospeksi terhadap diri kita, artinya umat islam harus mengkaji lebih mendalam terhadap nilai keislaman universal menyangkut kehidupan yang bertumpu pada perspektif histories, mengkaji secara kritis (critical analyzies) tentang sejarah nabi SAW yang telah memberikan kita tauladan dan jalan yang lurus pada kebenaran. Semasa hidup nabi bila kita mau mengkaji dengan teliti, mengajarkan nilai yang justru sangat menjunjung tingi terhadap orang yang berbeda agama selama mereka tidak mengganggu dan menyerang kita. ini terbukti sebagaimana pesan Nabi sewaktu sahabat berangkat berperang. Jadi dalam islam jelas sangat menghormati orang lain yang berbeda agama (pluralisme) dan tidak mengajarkan kekerasan terhadap umat non muslim. Oleh karena itu kita sekarang seharusnya dapat mengembangkan sikap yang toleran terhadap umat beragama dengan mengambil dialog sebagai sarana mempertemukan perbedaan yang dapat meningkatkan kualitas keagamaan dalam diskursus aktif progresif bukan kekerasan dalam menyelesaikan persolan.

Kedua, dalam masalah ini kita harus membaca ulang mengenai asal usul diciptakannya manusia, tujuan penciptaanya, proses yang harus dilewatinya dan seterusnya. Penulis mengambil kesimpulan bahwa sejak penciptaannya kita memang diciptakan berbeda-beda dalam segi apapun sesuai dengan kondisi yang melatarbelakangi dan disertakan kelebihan dan kekurangannya tetapi perbedaan itu bukan berarti harus selalu kita pertentangkan dan sebagai legitimasi atas arogansi kita terhadap orang lain. Bukankah Allah memang menciptakan manusia berbeda-beda agar kita dapat saling mengenal? Dan siapakah yang mampu memberikan hidayah selain Allah?

Bagi penulis yang beragama islam, Manusia memang harus berusaha menolong manusia lainnya dari kesesatan sebagai mana ajaran islam tetapi end of effort tersebut terletak pada Allah SWT. Yang mempunyai hak preogratif untuk memberi hidayah ataupun tidak. Singkatnya bagi penulis sikap seseorang dalam menghadapi persoalan hidup tergantung dari sikap bijaknya atas pemahaman hidup beragama. Persoalan ini yang bagi kelompok FPI harus diselesaikan dengan agresi sebagaimana masa awal islam tetapi lain halnya dengan sikap kita yang mencoba menyelesaikan dengan damai karena memang bagi mainset kita “lain zaman lain pendekatan”-mengambil istilahnya Gus Dur. Kultur bangsa kita yang majemuk dengan segala macam perbedaanya, maka tidak lantas setiap persoalan kita tawarkan solusi kekerasan. Justru seandainya kita bijak dan berusaha mengikuti kultur dan memodifikasinya agar sesuai dengan ajaran islam maka tentu kita akan mendapatkan solusi yang brilian karena terbukti dengan penyebaran agama islam yang dilakukan oleh sang maestro walisongo memakai jalan damai dan mencoba ber-Tawassuth dalam menyebarkan agama dengan tidak merubah kultur masyarakat bahkan kultur tersebut di modifikasi sehingga tidak bertentangan dengan ajaran islam, alhasil islam di Indonesia tersebar luas dan sekarang menjadi negara yang mempunyai penduduk muslim terbesar didunia.

Came PMII Ngalah, 27 April 2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: