Zona Aktualita dan Transformasi Idea Pergerakan


Ayik Ritonga – PMII adalah merupakan suatu organisasi pengkaderan di tingkat mahasiswa yang mempunyai tujuan terbentuknya pribadi muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Sebagai organisasi pengkaderan, PMII posisinya berada di luar (ekstra) kampus, yang secara bertahap terus melakukan proses kaderisasi, baik secara formal, non forma dan informal. Dan kalau dalam organisasi intra kampus, warga atau kader PMII sebagai media ekspresi (action) bagi kader-kader untuk melakukan proses penanaman nilai secara makro pada seluruh mahasiswa.

Sebagai organisasi yang bergerak ditingkat pengkaderan, konsepsi pengkaderan niscaya sangat dibutuhkan. Karena perkembangan PMII, baik dari level Rayon sampai Pengurus besar tidak akan lepas dengan sistem pengkaderan yang tertata rapi baik dalam bentuk konsepsi maupun realisasinya.

Berbicara pengkaderan, berarti berbicara mengenai upaya untuk menciptakan penerus atau generasi-generasi selanjutnya dengan koridor aturan main (baca : konsep pengkaderan). Dalam organisasi PMII, pengkaderan dikenal dengan klasifikasi penkaderan formal, informal dan non formal. Keseluruhan sistem ataupun konsepsi pengkaderan tersebut sudah termaktub dan tertata rapi dalam buku-buku panduan pengkaderan baik ditingkat nasional mapun lokal. Naifnya, bagi penulis, sistem dan konsep pengkaderan yang sudah dicanangkan tersebut mulai luntur dalam tataran aplikasi terutama ditingkatan lokal.

Sebut saja PMII Pasuruan (baca : PMII Cabang Pasuruan), melalui moment KONVERCAB X (22-24/03/2007), PMII Pasuruan memberi cerminan bahwa kaderisasi ditingkat lokal sangatlah lumpuh. Terutama ditingkatan kaderisasi non formal dan informal. Meski sejarah mungkin tidak akan pernah memejamkan mata dengan prestasi yang diperoleh PMII Pasuruan, yaitu ekspansi wilayah garapan ditingkat kampus melalui pembentukan dan pengembangan Komisariat Akper dan Walisongo yang nota benenya merupakan kampus yang berbasis dunia (baca : umum).

Namun, dengan terlihatnya fakta dalam serangkaian prosesi kegiatan KONVERCAB X, niscaya kita (warga PMII Pasuruan) seakan-akan harus dipaksakan untuk meneteskan air mata kebodohan atau meminjam bahasanya Dewi dan Desi Sansan, yaitu air mata buaya.

KONVERCAB X yang seharusnya merupakan forum intstitusi- demokrasi tertinggi di wilayah PMII Pasuruan kini hanya menjadi ‘Game Zone’ layaknya siswa-siswi Play Group yang terus ingin bermain sesuka hatinya. KONVERCAB X juga seharusnya menjadi media dan instrumen pembelajaran terhadap kader-kader PMII yang bernaung di payung PMII Pasuruan. Setidaknya KONVERCAB X haruslah mencerminkan sifat, sikap dan karsa dalam dunia pergerakan, bukan sebaliknya. Tapi kenyataan berbicara lain, KONVERCAB X PMII Pasuruan hanya dijadikan wadah pembodohan struktural dan mesum intelektual.

Pembodohan struktural, terlihat dari sangat kentalnya intervensi dan hegemoni PMII Pasuruan terhadap ranah Komisariat dengan praktek menjumudkan kreatifitas dan kredebillitas serta mematikan dan membakar panji-panji independensi dan demokrasi. Dengan adanya PK (Peninjauan Kembali) terhadap hasil LPJ (Laporan pertanggung Jawaban) PMII Pasuruan masa ibadah 2005-2006, ini merupakan bentuk kebodohan struktural paling tinggi. Dan ditambah dengan menu Pimpinan Sidang LPJ yang sudah merupakan paketan serta pesanan khusus ala PMII Pasuruan ini menambah kebodohan tersendiri dalam tubuh PMII Pasuruan. Kenapa begitu? Karena, forum yang seharusnya merupakan representasi dari kehendak masing-masing Komisariat Pasuruan yang tetap dalam wilayah demokrasi, kini menjadi forum sandiwara yang cukup meraih apresiasi kebodohan, forum intervensi dan hegemoni para Tuhan-Tuhan kecil serta forum drama atau opera yang menuai air mata sebagai kompensasi penilaian bualan tersebut.

Jika mungkin PMII Pasuruan mau sedikit untuk menapaki tangga kedewasaan dengan rasa sense of organitation dan sikap mau belajar dan mengajari, niscaya sandiwara KONVERCAB X tidak akan semurah dan sekacau itu.

Di sisi lain, KONVERCAB X juga merupakan ajang mesum intelektual. Hal ini ditunjukkan dengan realita yang tak terbantahkan, yaitu minimnya profesionalitas kader PMII Pasuruan terutama di wilayah skill forum (baca : persidangan) baik dari sisi PMII Cabang maupun Komisariat yang ada di bawah panji PMII Pasuruan. Forum persidangan yang seharusnya menjadi media tukar pikiran secara bebas (free market ideas) kini hanya menjadi forum memenangkan ego dan kepentingan-kepentingan person ataupun golongan dan bukan atas nama PMII Pasuruan. Di setiap runtutan persidangan KONVERCAB X, selalu dihiasi dengan ketidakseriusan dalam menggarap hal ihwal yang ada dalam persidangan tersebut. Sebagian besar peserta sidang hanya sibuk dengan budaya hipies-nya. Kalau pun ada yang serius dalam menggodok materi persidangan, itupun juga tak terlepas dengan yang disebut penulis sebagai ‘mesum intelektual’, yaitu upaya untuk memenangkan ego dan kepentingan-kepentingan pribadi dengan mengatasnamakan kepentingan organisasi.

Lebih dari itu, mayoritas elemen yang terkait langsung dengan acara KONVERCAB X lebih mementingkan proyek liburan dari pada proses pembelajaran yang seharusnya ini merupakan kesempatan emas bagi mereka (Komisariat-Komisariat) prematur untuk menuai serangkaian ilmu pengetahuan dan skill oraganisasi wa bilkhusus tentang KONVERCAB PMII Pasuruan.

Semuanya sudah terlanjur, ‘air susu sudah tumpah’. Sehingga, kini tidak ada apresiasi yang paling tepat untuk hasil KONVERCAB X PMII Pasuruan, kecuali ‘SELAMAT ATAS TERSELENGGARANYA PEMBODOHAN STRUKTURAL DAN MESUM INTELEKTUAL DALAM KONVERCAB X PMII PASURUAN’, semoga moment ini tidak dicatat oleh Malaikat WONOKIRUN sebagai amal syaiyi’ah.

Namun, tinta KONVERCAB X yang sudah tertoreh di sejarah perjalanan PMII Pasuruan tidak akan mungkin mudah terhapus, seperti mudahnya menghapus papan tulis pasca seorang guru menuliskan mata pelajaran untuk siswa-siswinya. Jadi, harapan penulis, ‘TIDAK ADA KATA RIZKI (PRESTASI) TAK DAPAT DIRAIH DAN MUSIBAH TAK DAPAT DIHINDARI TANPA BERKAT KEKUATAN DOA DAN KETAHANAN JIWA ‘

——————————-
Ayik Ritonga, adalah Mahasiswa Bussiness Administration Univ. Yudharta Pasuruan angkatan 2003 dan Pengurus Komisariat Ngalah Universitas Yudharta Pasuruan yang menjabat sebagai Ketua II (Bidang Eksternal) Masa Ibadah 2006-2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: