Zona Aktualita dan Transformasi Idea Pergerakan


Syafiuddin Tohir – Mahasiswa merupakan struktur tertinggi dalam bagan penimba ilmu pengetahuan (pelajar, student), dengan berbagai bekal pengalaman empiris dan kemampuannya mendayagunakan kognitifme berpikir-baca rasionalitas-maka maka mahasiswa dipandang mempunyai kelebihan dan kedewasaan dalam bersikap maupun bertindak disetiap persoalan. Hal inilah yang menurut penulis sebagai modal mahasiswa menunjukkan identitas dan eksistensinya dengan berbagai model gerak dan kiprah dimasyarakat maupun bangsa dan Negara. Padahal tidak ada aturan yang yang membedakan antara mahasiswa dan pelajar dalam gerak maupun kiprahnya dalam masyarakat secara aktif semisal advokasi, demo dan sebagainya.

Perwujudan eksistensi inilah yang menimbulkan berbagai macam bentuk peran yang dilakukan oleh mahasiswa yang tentu saja peran itu sesuai dengan kapasitas pikiran mereka. Tak dapat kita pungkiri berbagai macam organisasi yang ada ditingkat mahasiswa baik intra maupun ekstra kampus merupakan salah satu dampak dari polarisasi pikiran mereka.

Setiap mahasiswa mempunyai kemampuan berpikir dan bertindak yang berbeda dalam pribadi mahasiswa. Sebagaimana oleh Malik Fajar (mantan menteri pendidikan cabinet gotong royong di era pemerintahan Megawati Soekarno Putri) model mahasiswa di klasifikasikan menjadi 3 macam. Pertama, Mahasiswa Utun. Tipologi mahasiswa yang seperti ini adalah mahasiswa yang tekun dalam bangku perkuliahan. Kedua, Mahasiswa Unjuk Diri. Sebagian besar mahasiswa adalah generasi pertama yang mengenyam pendidikan Tinggi artinya kebanyakan dari orang tua mereka adalah lulusan SLTA maupun di bawahnya sehingga hal ini menimbulkan kesadaran dalam diri mereka untuk berubah di kalangan keluarga mereka meskipun kondisi ini kadang harus berbenturan dengan faktor ekonomi,dan ketiga, Mahasiswa Asal Katut, Tipologi mahasiswa yang seperti ini adalah model mahasiswa duduk di bangku perkuliahan apa adanya bisa kita katakan sebagai pemburu nilai C

Mahasiswa adalah kalangan terpandang dalam sruktur pendidikan yang perannya sangat diperhitungkan oleh banyak kalangan. Hal ini sebenarnya modal yang sangat berharga yang harus dapat di dayagunakan oleh mahasiswa sebagai wujud dari eksistensinya. Lalu permasalahan yang timbul sekarang adalah sikap seperti apa yang harus di kedepankan oleh mahasiswa melihat realitas yang sedang berkembang. Jawaban dari pertanyaan ini adalah sebagaimana disepakati oleh banyak kalangan mahasiswa, Sikap Kritis. Sikap kritislah layak di pakai mahasiswa demi menjawab tantangan kedepan. Kritis ini akan membawa mahasiswa menuju cita-cita bangsa, mewujudkan kemakmuran dan keadilan masyarakat.

Kritis adalah sikap yang tegas/tanggap dan teliti yang dikaji secara mendalam dalam menanggapi setiap persoalan. Sikap ini akan mendorong perubahan secara bertahap karena dengan sikap ini mahasiswa dapat menjadi oposisi idealis-progresif yang selalu bergerak dalam jalur kebenaran, tidak mudah di tunggangi setiap gerakannya oleh oknum-oknum yang merusak citra mahasiswa, selalu melakukan perlawanan terhadap kesewenang-wenangan dan penindasan. Jadi sikap yang harus dibumikan oleh mahasiswa sekarang ini adalah Kritis Progresif bukan Apatis (sikap yang tidak mau peduli) ataupun Radikal (keras dalam menyikapi persoalan, tidak fleksibel). Sikap apatis sangat bertentangan dengan nilai-nilai kemerdekaan berpikir (freedom,hifdzul al-aql), juga nilai yang termaktub dalam tridharma perguruan tinggi yaitu pembelajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Nilai ini mengandung makna yang sangat mulia bila dapat terejawantahkan oleh mahasiswa secara proporsional dan progresif.

Sikap radikal atau ekstrim akan dapat kita pastikan membawa mahasiswa pada pemikiran dan gerakan yang mencerminkan klaim kebenaran (truth claim),yang cenderung anarkis dan semena-mena. Masalah yang seharusnya dapat di ambil solusi malah menjadi bias sehingga dapat melunturkan nilai humanisme maupun pluralisme, meskipun kita tidak dapat serta merta memberikan sikap yang cenderung punitive(menghakimi) terhadap sikap radikal ini, tetapi dengan jelas dapat kita ambil kesimpulan bahwa dalam berpikir ataupun memecahkan sebuah persoalan jika tidak kita tempatkan masalah itu sebagaimna mestinya (proporsional) dan di kaji secara obyektif dan mendalam dari berbagai sudut pandang maka bukannya solusi yang kita dapatkan justru akan terjadi penyimpangan tajam terhadap persoalan tersebut.

Dari bebagai dua sikap yang kita analisa secara general maka sikap yang paling cocok dan representative terhadap dunia mahasiswa sebagai jawaban atas relitas yang berkembang adalah sikap kritis. Sikap inipun harus diberi batasan atau penjelasan menyeluruh mengenai bangunan terminologinya karena jika kritis tanpa aturan maka justru akan menjerumuskan kita pada ektrimisme pemikiran. Sikap kritis tidak akan menjeruskan diri kita pada degradasi pemikiran malah justru hal ini akan membawa kita pada proses penempatan masalah secara proporsional dan mendapatkan hasil maksimal. Sikap kritis ini membtuhkan kesabaran progresif revolusioner, artinya dalam menyikapi permasalahan kita kaji dulu dengan berbagai prespektif, alasan yang menjadi dasar permasalahan, siapa aktor dibalik permasalahan itu(baground atau ideologinya) dan seterusnya tetapi kita tetap berusaha dengan keras dan membaca secara serius serta mempertimbangkan dampak (ekses) atas permasalahan tersebut dan juga kita analisa ekses permasalahan tersebut ditangani dengan sikap kita. Permasalahnnya sekarang mampukah kita menahan diri kita untuk tidak bersikap reaktif radikal sebelum kita cukup bukti dan mengkaji lebih mendalam terhadap suatu permasalahan. Dewasa ini kita harus jeli dalam melihat realitas yang berkembang karena adanya globalisasi yang membuat sermakin tak ada batas antara suatu negara dengan negara lain yang dengan sendirinya apapun kebijakan yang diambil oleh suatu negara tak bisa dilepaskan begitu saja oleh pengaruh(lebih jauh intervensi) negara lain. Kalau kondisinya sekarang seperti ini. Bukankah kita membutuhkan kesabaran dalam melihat persoalan yang terbaca oleh pikiran kita yang harus mengarahkan pola pikir kita lebih luas (global) sehingga kita tidak tertsigma dalam berpikir hanya untuk hedonisme belaka apalagi jika solusi yang kita tawarkan justru menmojokkian diri kita sendiri apalagi bangsa kita. Kalau seperti ini kita coba introspeksi dalam diri kita mampukah kita bersikap sabar yang progresif revolusioner padahal sabar saja itu sangat sulit dilakukan, bukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: