Zona Aktualita dan Transformasi Idea Pergerakan


Wachyuni – Tidak sedikit kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia ( PMII ) yang merasa kebingungan atas dirinya sebagai warga pergerakan. Rasa ini timbul karena memang mereka belum mengenal dirinya terlebih dahulu, sehingga tidak heran ketika mereka harus linglung saat berhadapan dengan komunitas gerakan yang mereka pilih, dan juga mereka tidak mempelajari sebenarnya posisi kita dimana, kenapa sampai ada sebuah program?, untuk apa semua itu?. Tidak mudah untuk menjadi seorang kader yang diharapkan kiprahnya untuk berlangsungnya kehidupan komunitas pergerakan kita, serta tidak juga dengan cara yang sangat instan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia ( PMII ) belajar dan mempelajari posisi kita sebagai warga, mahasiswa, manusia, dan hamba. Tidak jarang juga kita jumpai warga pergerakan yang seharusnya melakukan tanggung jawab moral sebagai kader hanya terpanggil disebabkan karena jabatan atau struktur.

Jajaran struktur kepengurusan yang kian cukup personilnya juga terkadang menambah beban problem pengurus yang lain, tidak malah pengurus yang memikirkan bagaimana seharusnya organisasi ini tetap eksis. Belum lagi ditambah dengan beban daya kader yang ogah-ogahan, sekedar ikut-ikutan, tidak mengenali bahwa sesungguhnya dalam komunitas gerakan itu bisa dimanfaatkan untuk berlangsungnya menambah khazanah ke-ilmu-an sesuai dengan jurusan yang dipilihnya, bahwa dalam komunitas gerakan sesungguhnya kita akan diarahkan kemana,? Mereka tidak pernah mencari pertanyaan yang sangat mendasar ini, hanya beberapa orang saja yang memahami lantas memberitahukan posisi tersebut, semoga juga akan menjadi kesadaran yang sempurna, dan menjadi kader yang diharapkan bisa mengawal segala jejak langkah siklus putaran alam ini dengan nilai-nilai keadilan, kesejahteraan, moderat dan keseimbangan.

Posisi yang pertama adalah jelas kita sebagai hamba yang mengabdikan diri sepenuhnya untuk tunduk dan pasrah kepada Sang Maha segalanya. Hubungan kita dengan sang Kholiq juga semestinya kita benahi, karena tidak ada kesejatian selain atas Ridho-Nya. Semua hamba diwajibkan untuk tunduk atas pe-rintahnya, dan ketundukan kita terha-dap-Nya juga mempunyai banyak bentuk, baik ibadah yang langsung ber-hubungan dengan Sang Maha Esa, dan ibadah yang bersifat sosial kemasyarakatan. Hal ini semestinya dimengerti oleh warga Pergerakan Mahasiswa Islam Indo-nesia (PMII), apakah selama ini hubungan kita terhadap Tuhan sudahkah sesuai? Ataukah malah kita jadi sok kritis atas segala perintahnya?, mencoba menafsiri yang itu sebetulnya adalah bentuk ketidaktahuan kita untuk mengenal-Nya. Posisi kita yang pertama ini jika mengalami cidera, maka cacat pula sesungguhnya kita sebagai warga pergerakan yang merupakan bagian dari manusia/makhluk untuk tunduk atas segala perintah-Nya.

Berbuat baik dengan sesama manusia juga merupakan posisi yang tidak bisa ditawar lagi dalam segala lini kehidupan, termasuk juga kita (warga pergerakan) salah satunya. Dan ini juga merupakan perintah-Nya, tidak mudah juga dalam mengarungi pergaulan dengan sesama manusia. Dibutuhkan kecakapan ilmu untuk bisa berinteraksi dengan bagus.

Manusia juga merupakan wakil Tuhan di bumi ini, yang dipercaya untuk mengelolah bumi beserta segala isi putaran siklus sosial. Oleh karenanya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) juga mengawal dalam pengelolahan bumi ini. Dengan banyaknya kader PMII di berbagai jurusan study di sekolah tingginya/universitas, maka sebenarnya ini semakin terjawab, bahwa nantinya sebuah harapan besar PMII terhadap kadernya untuk dapat masuk pada semua sistem sesuai dengan spesifikasi keilmuan dan keahlian mereka. Sehingga PMII tidak hanya menumpuk-numpuk kader yang banyak ceramah soal ibadah-ibadah mahdhoh saja, akan tetapi ibadah-ibadah sosial juga tercermin dengan disertai ketundukan dirinya terhadap Tuhan dengan sepenuhnya ( Ulul Albab ). Karena sesungguhnya mengaji itu tidak hanya membaca Al-Qur’an, akan tetapi membaca dan aplikasi apa sebenarnya pesan yang terkandung di dalamnya, baik secara implisit dan eksplisit, maka semua bisa bertebaran sesuai jurusannya.

Ternyata tidak hanya alam yang harus kita jalin dengan baik, alam juga harus kita kenal dan senggama dengan baik. Dan dalam berhubungan dengan alam ini kita memanfaatkan kader PMII sesuai bidangnya. Di sinilah sebenarnya PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) itu tidak hanya sekedar membesarkan wadah gerakannya saja, namun bagaimana upaya PMII bisa menjadi garda depan dalam perubahan alam ini, dikarenakan kita juga dipercaya Tuhan untuk dapat merubah alam ini sesuai dengan kemampuan kita.

Dan upaya-upaya yang dilakukan PMII untuk mewujudkan hal tersebut adalah adanya bentuk-bentuk Rayon sebagai media struktur terkecil untuk mematangkan basic keilmuan jurusannya, serta Komisariat sebagai struktur lebih tinggi diatasnya menambah lagi kekuatan agar bagaimana kemudian kader PMII memahami ideologi PMII yang dibangun dan menguatkan skill-skill yang dimiliki oleh kader PMII, begitu juga dengan Cabang, Koordinator Cabang, Pengurus Besar, mereka sudah seharusnya mengawal keadilan sosial. Ketika ada hutan yang ditebang tanpa permisi secara legal apa akibatnya? Lautan yang tercemar? anggota dewan yang mengeluarkan kebijakan tanpa mempertimbangkan keadaan rakyat kecil? dan serangan-serangan musuh yang terlihat manis? semua itu yang menjadi tugas PMII untuk menjawab dan menyelesaikan atas segala ketimpangan- ketimpangan yang ada.

Demikian ini semoga bisa dijadikan semangat belajar dan berjuang dalam wadah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, beberapa tahun yang akan datang kamulah kader-kader PMII yang sanggup berani berproses dinantikan oleh orang orang tua yang kian hari tulang rusuknya perlu digantikan oleh kita sebagai penerus perjuangan kebaikan dan keadilan, anak – anak kecil yang mengharapkan orang-orang yang dipercaya sebagai penentu kebijakan menantikan kiprahmu. Segala keputus asa-an segera ditepis, perjuangan yang telah berlangsung jangan pernah kikis.

* Kader Putri PMII yang satu ini tidak dapat dipungkiri kiprahnya, tercatat dalam sejarah Komisariat PMII Ngalah, dialah satu-satunya kader putri yang pertama secara demokratis dipercayai dan dipilih untuk menjadi ketua Komisariat Ngalah. Dan dalam hal menulis dia juga jago.

Comments on: "SEKUNTUM PARADIGMA ( Tela’ah kritis terhadap posisi kader PMII)" (4)

  1. hani PMII UNESA said:

    Sebuah Proses Untuk menjadi terbaik sebagai seorang anak bangsa!!!sahabat2 percayalah di PMII kita berproses menjadi yang terbaik PMII bukan memberi sesuatu tapi kita yang akan memberikan tenaga kita buat PMII dan hasilnya akan kita rasakan kelak baik di dunia maupun di dunia. TANGAN TERKEPAL DAN MAJU KEMUKAN SEKALI BEM\NDERA PERJUANGAN DIKIBARKAN PANTANG UNTUK DITURUNKAN(“,)

  2. dari tokoh muslim mengatakan (syeh Al-Banna)”la budda lilqoo’idi an yakuuna ahlam, wa illa la yashluhu an yakuuna qooidan. jadi seorang pemimpin itu harus mempunyai impian, apabila tidak mempunyai impian, maka dia tidak layak jadiseorang pemimpin. di sini saya menegaskan, semangatlah dalam membela kebenaran dalam organisasi PMII ini dan ada lagi dalam Ibnu Athoilah dalam kitab Al-Hikamnya ar-rojaau ma qooronahu illa fahuwa umniyyatun. jadi seseorang yang hanya mempunyai harapan, akan tetapi dia hanya berharap, maka itu hanya sebuah angan-angan, maka syeh atoillah: agar kita tidak hanya berangan-angan tapi marilah kita perjuangkan apa yang benar sesuai dengan syariat islam. semangat………..,o ya salam untuk kakaku Amir hidayat yah! dan adikku Nazilatul maghfiroh yang udah keluar thanks

  3. semangat ya booooooooook janganlupa salamnya saya ya!

  4. Koq ngalah bang ???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: