Zona Aktualita dan Transformasi Idea Pergerakan


[zein.jpg]Zainal Ahwan Assgia Shobry – Bagaimana mengawal masyarakat kalau kinerjanya dalam setiap kegiatan compang-camping g’ karuan semacam itu. Dari mana dikatakan sebagai agen perubahan sosial (agen social change), agen kontrol sosial (agen sosial control) dan agen dinamisator kalau mengurus dirinya saja tidak berdaya. Ah tak pikir itu semua hanyalah jargon non makna, simbulisasi dan lip service belaka. Wah malu rasanya menjadi warga pergerakan yang notabene mempunyai segudang misi perbaikan dan perubahan namun toh realitasnya hanya anggur-angguran dan geguyonan belaka dan jangan salahkan kalau terjadi konversi ideologi di tubuh PMII akhir-akhir ini.

Itulah sedikit ungkapan kegundahan dan kekecewaan yang mendalam dari salah satu dari sekian banyak kader PMII yang melihat betapa tidak profesionalnya senior PMII dalam koridor manajerial penghendelan kegiatan. Sebut saja MUSPIMNAS ‘06 kemarin misalnya. Citra yang jelek yang menggurita sekian lama di tubuh PMII semacam ini jelas akan menjadi destroyer lokal yang paling ampuh dalam memporak-porandakan PMII baik ditingkatan gress root maupun up root struktural. Budaya senioritas-indifidualistik, elitis, eksklusivis, non-egalitarian dan apatis terhadap kader merupakan bukti nyata arogansi struktural yang tidak bisa kita elak didepan kita. Kalau realitasnya semacam itu Ya janagan disalahkan kalau sampai terjadi konversi ideologi dari tubuh PMII ke ideologi lain akhir-akhir ini.

Pertarungan dalam pergerakan dekade ini semakin santer. Perebutan kader, persaingan intelektualitas dan perebutan penguasaan medan seharusnya menjadi hal yang perlu kita tangani secara serius dan profesional demi survive, eksis serta futuritas PMII kedepan. gelanggang tarung persaingan tersebut tidaklah mudah untuk kita menangkan kalau PMII tidak melakukan perbaikan-perbaikan di wilayah internal (inside organ) dari berbagai lini organisasi. Banyak warga pergerakan yang terlena dan tak pernah khawatir terhadap eksistensi PMII dalam kancah pergerakan mengingat kuwantitasnya yang lumayan dibandingkan dengan yang lainnya.  

Memang diakui Kuwantitas yang banyak seharusnya menjadi self power dalam rangka penggapaian target oriental dibandingkan dengan yang low quantity. Namun tidak jarang juga low quantity memperoleh target oriental yang maksimal. Kuwantitas memang tidak bisa dijadikan sebagai sebuah parameter kesuksesan. Tetapi paling tidak kuwantitas bisa dijadikan sebagai basik kekuatan yang bisa dimanfaatkan dan ditumbuhkembangkan. PMII yang secara kuwantitas tergolong dalam high quantity seharusnya bisa menunjukkan performatif kualitynya dibandingkan dengan pergerakan yang lainnya.

Namun high quwantity juga tak jarang menjadi sebuah problema dalam sebuah organisasi ketika penghendelannya tidak profesional. Kuwantitas yang banyak pasti akan menimbulkan kecenderungan yang beragam dari berbagai sudut pandang. Disharmoni internal di tubuh PMII up date ini disinyalir juga merupakan perwujudan dari kecenderungan yang beragam dan tidak terorganisir secara maksimal. Sehingga banyak seakali warga pergerakan PMII yang terjebak berbagai kepentingan politik dan sifatnya individualistik-pragmatis. Orientasi pragmatisme individual ini memang sering kali membawa dampak pada disorientasi tugas-program, stagnasi dan mengarah pada polarisasi organisasi. Organisasi dipandang sebagai sebuah simbul kemapanan belaka.

Orientasi saya mendapat apa, dengan siapa, kapan dan dimana nampaknya menjadi faktor fundamental yang membekingi kekroposan organ internal baik mulai ditingkatan Komisariat, Cabang, Korcab dan PB. Makanya tak heran ketika seringkali dijumpai dalam setiap kepengurusan hanya terdiri dari ketua umum sekretaris bendahara dan ketua bidang. Tak jarang mereka juga tidak akur alias tidak kompak. Itulah faktanya…………wah parah banget dong!

Tak ayal memang banyak organisai yang secara kuwantitas mempunyai high quwantity dan berdiri sudah puluhan tahun namun akhirnya harus bankcrub secara fisikal-finansial-ideologikal. Hal kasuistis semacam ini seringkali dilatarbelakangi oleh ketidak harmonisan di wilayah internal dari organisasi tersebut. rasanya memang benar adanya pribahasa (proverb) “united we stand desperated we fall” (Bersatu Kita Teguh Bercerai Kita Runtuh).

Dalam rangka memenangkan persaingan kedepan PMII haruslah mempunyai semangat kebersamaan (spirit on togetherness) yang utuh, kekompakan, serta semangat egalitarian tanpa adanya elitisme struktural. Dalam pribasa Indinesia dikatakan “Duduk sama rendah berdiri sama tinggi” Perebutan kader, persaingan intelektualitas dan perebutan penguasaan medan akan sangat mudah kita genggam di tangan kita yang kecil ini asalkan komitmen, konsekwen, respondsible, dedikasi, loyalitas serta keharmonisan di tubuh PMII kita bangun bersama-sama. Selamat berjuang sahabat/I Q
Jaya dan selalu jaya PMII Q

Comments on: "PROFESIONALISME DALAM PERTANYAAN" (1)

  1. Selamat Sahabat… Kader-kader PMII Ngalah udah bisa buktikan. klo bisa di update terus yaa… Ada profil PMII, Struktur, Agenda Kegiatan atau segalanya yang terjadi di PK. PMII Ngalah.
    Sekali Lagi SELAMAT…!!!!
    Wallahul Muwafiq Ila Aqwamitthoriq.
    Tangan Terkepal Dan Maju Kemuka
    Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: