Zona Aktualita dan Transformasi Idea Pergerakan


Al-Nur, Apabila ada tulisan yang kurang sesuai dengan realita di ruang mikro cosmos PMII atau ruang public (public sphere), karena penulis hanyalah mahasiswa yang tidak pernah masuk kuliah selama 4,5 semester.
Berawal dari kabut kecemasan dan kegelisahan, awan-awan ketidak mampuan bergelayutan di atas tampuk tanggungjawab dalam memberdayakan potensi yang ada. Penulis ingin menyampaikan ke-gamang-an selama menjabat sekretaris komisariat PMII Ngalah periode 2005. hal ini bukanlah kritik yang ingin menjustifikasi atau mengklaim ketidak mampuan dan ketidak kompakan pengurus, tapi ini lebih merupakan refleksi yang harus dilakukan bagi setiap individu yang terlibat dalam kepengurusan untuk bisa lebih menata, merawat dan mengembangkan potensi personalnya (personal sesources) menjadi potensi bersama (common resources) untuk mengembangkan organisasi sesuai dengan visi-misi hasil kesepakatan bersama dalam raker.
PMII merupakan salah satu organisasi sebagai wadah bagi kader-kadernya untuk mencari, mengembangkan dan mengaktualisasikan keilmuan, pengalaman, dan wawasannya dalam membangun konstruksi ideallisme, sebagai mahasiswa yang menjunjung tinggi idealis selama meneriakkan kebenaran (la verite), keadilan (la justice) dan pencerahan (la raison) dalam memperjuangkan tatanan masyarakat ideal yang demokratis, namun hal itu nampaknya belum ada pada organisasi PMII (komisariat Ngalah), hal ini bukan karena ketidak mampuan organisasi, tapi kebetulan kepengurusan periode kali ini mengalami migren yang secara sepintas belum ditemukan penyebab dan obatnya.
Secuil dari hasil cangkruan ngopi, ngobrol santai dan diskusi kecil-kecilan dengan beberapa anggota pengurus. Kepengurusan periode ini tidak akan pernah sembuh dari migren yang diderita selama system kepemimpinan dan komunikasi antar pengurus dapat diatasi dan diselesaikan, kemudian membangun formulasi baru yang lebih terbuka (order management) dan pola interaksi yang lebih komunikatif dengan paradigma keterbukaan (order paradigem) yang berhaluan aswaja, NDP dan paradigma PMII perpaduan inilah yang harus dilakukan oleh warga pergerakan PMII komisariat dan Rayon di Universitas Yudharta.
PMII (komisariat Ngalah) hari ini masih belum mampu mencetak dan mewujudkan leader-hanya mampu memilih ketua yang dianggap mampu mengakomodir ide-ide dan potensi-potensi kader PMII (komisariat Ngalah) untuk bersama-sama dengan pengurus dan anggota membangun kualitas intelektual.
Ruang-ruang pengembangan intelektual dilakukan dengan pola diskusi, seminar, bedah buku, sharing dan hearing besama untuk menciptakan milliu (tradisi) mahasiswa yang menjunjung tinggi intelektualitas dan kreatifitas yang inovatif, namun selalu saja yang datang hanya 2 atau 3 orang saja, belum lagi kegiatan-kegiatan yang sifatnya ruti dan wajib seperti MAPABA dan PKD yang orientasi dasarnya adalah penanaman doktrin dan penguatan loyalitas agar kader memahami keberadaan dirinya dan tanggungjawabnya sebagai anggota organisasi, realitanya kegiatan itu menjadi hanya sekedar menggugurkan kewajiban agar organisasi tidak dikatakan stagnan dan akan dibekukan legalitasnya jika ampai tidak mampu mengadakan MAPABA dan PKD selama 2 periode (jaim), belum lagi kegiatan-kegiatan lain yang sering kali hanya dikerjakan oleh segilintir dua gelintir orang-meski- secara structural telah dibentuk panitia kegiatan, konflik yang tak henti-hentinya bahkan sampai menjadi pola dan system dalam menyelesaikan permasalahan (manajemen konflik katanya) tapi bukan menyelesaikan masalah malah menambah masalah (ke-tidak-ter-buka-an) antara pengurus yang satu dengan yang lain, terlepas dari salah atau benar yang jelas ini bukan hanya kesalahan ketua saja, melainkan sekretaris, juga jajaran kepengurusan yang lain pun juga ikut bertanggungjawab dan wajib untuk segera mencarikan solusi atas ketidak stabilan organisasi.
Karena pada dasarnya PMII kaya, potensi-potensi yang variatif, intelektualitas kader yang tinggi, alumninya juga banyak. Ini merupakan asset besar yang dimiliki PMII dan harus dikelola dengan baik agar menjadi sesuatu yang sangat berguna bagi pengembangan organisasi.
Building karakter yang berkesadaran organisasi harus ditanamkan, loyalitas terhadap organisasi slalu didendangkan, intelektual slalu diasah, wawasan dan sikap tanggungjawab selalu dipupuk agar sense belonging terhadap organisasi tumbuh dan berkembang dalam ladang pikiran dan hati setiap kader sehingga mereka menjadi kadir yang berkesadaran “apa yang dapat saya lakukandan berikan pada organisasi bukan kader yang brpikiran apa yang dapat saya ambil dari organisasi”. Tidak hanya itu kebersamaan dan keterbukaan dalam organisasi juga harus digalang, karena organisasi bukan milik ketua, perorangan atau kelompok tertentu dalam organisasi-tapi milik bersama anggota dan warga, benarkan seperti itu?
Management merupakan satu kemutlakan bagi ketua untuk menguasainya tanpa menagement organisasi akan kacau, program akan amburadul, kader akan semrawut,jenuh dan kecewa karena organisasi yang diikutinya tidak dapat memberikan apa yang diinginkan sehingga lari dan kelua dari organisasi atau minimal tidak pernah aktif. Leader bukan ketua jelas mampu mengakomodir seluruh ide-ide dan mengalokasikan sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh masing-masing kader, susah ya jadi leader!, ya, memang susah! Jadi seorang pemimpin harus lebih bisa memahami kondisi kader dan mengarahkan pada tujuan organisasi yang dipimpinnya apakah ini yang kita harapkan?
Sahabat ayo bangun dari mimpi-mimpi kita utopi, hedonis, populis, dan pragmatis dimalam purnama hadapi realitas pagi yang lebih cerah dan indah dengan benang-benang saraf intelektual dan rajutan wawasan serta pengalaman yang telah terpasang rapi pada pigora bersketsa di tembok pikiran dan dinding hati kita, jangan hanya menyanyikan kritik dan klaim tanpa mempersiapkan baju solusi yang layak, ayo sahabat dengan tangan terkepa dan tetap maju kemuka singsingkan lengan baju, ambil pena singkirkan gelombang konflik yang ada yang membuat kepala kita sakit dan migren. Bangun PMII dengan system kebersamaan (common system), dan manajement keterbukaan (order management) dalam koridor profesionalis dan proporsionalitas yang terbingkai dalam kado visi dan misi perjuangan.

Maaf, tulisan ini hanya sekedar hasil refleksi penulis yang gamang dan bingung tapi, tidak mampu melakukan dan memberikan apa-apa pada organisasi.

Comments on: "PMII ANTARA REALITA DAN MIMPI Dan Sekedar Komentar" (4)

  1. and then i came out, mommy move me down sout. Stacy Fabian.

  2. Eka Kristino said:

    Sebuah dinamisme benar-benar harus terwujud dalam setiap pergerakan PMII. Semua itu demi melambungkan eksistensi PMII. Dalam konteksnya sebagai “pergerakan mahasiswa”,maka jelaslah semua itu merupakan tanggung jawab mahasiswa “kader PMII” yang di pundaknya-lah terdapat semua tanggung jawab tersebut.
    Pemikiran-pemikiran yang membawa pada arah “eksistensi sejati” harus di formulasi oleh setiap kader. Tentunya pemikiran-pemikiran realistis dan faktualis yang aflikatif. Ayo sahabat…kita lakukan pergerakan yang nyata bukan sekedar tuntutan organisasi, tapi sebagai kewajiban kita untuk memperbaiki sistem tatanan kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara.

  3. your way to beautiful gir. Frederik Kyleigh.

  4. setiap pergerakan membutuhkan perjuangan yang mudah seperti membalikkan kedua telapak tangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: