Zona Aktualita dan Transformasi Idea Pergerakan


ZeinBeberapa kawan saya yang sering berdiskisi ria, ber-chatting dan cangkruan ngopi dengan saya , melontarkan sebuah pertanyaan yang berbau menggugat. kenapa sih pemikir-pemikir Islam di Indonesia justru tidak lahir dari dunia yang selama ini mengklaim sebagai pusat pengkajian intelektual klasik, yakni pesantran? Dalam diskursus intelektual Islam di Indonesia selama ini, orang-orang pesantren justru malah termangu-mangu di pojok pentas (on the edge of the stage).

Kawan saya itu lalu menderetkan nama-nama seperti Amien Rais, Nurcholis Majid, Jalaluddin Rahmad, dan masih banyak nama-nama yang lain yang selama ini malang melintang diberbagai media massa. Tapi protes saya Gus dur justru produk pesantren klasik dan kecendekiwanannya tidak diragukan lagi. Tapi, Gus dur kan alumni mesir yang sudah makan berkati-kati literatur barat, sanggah kawan saya. Saya diam, lalu beberapa saat saya tidak bisa mengelak dari fakta yang disodorkan teman saya.

Harus diakui memang saat ini kiblat studi-studi Islam lebih banyak dikuasai oleh kelas cendekia bukan oleh kelas santri. Daerah kekuasaan kelas yang terlahir ini, yakni kelas santri, hanya terbatas di pesantren-pesantren serta desa-desa yang ada disekitarnya. Dalam kata lain basis social dari kelas santri adalah masyarakat desa (The natural community).

Sementara basis kelas cendekia justru ada di kota-kota. Padahal seperti yang kita tahu bahwasannya kiblat kebudayaan saat ini hampir secara total ber-orientasi ke kota atau dalam kata lain, kebudayaan saat ini yang mulai mendominasi rakyat Indonesia adalah kebudayaan kota (urban cultura). Dominasi kebudayaan kota itu sangat didukung oleh kekuatan ekonomi (economic force) yang saat ini juga berpusat di kota. Kelas cendekia pada hakekatnya adalah bagian saja dari kelas social yang diuntungkan oleh dominasi kebudayaan kota tersebut. Sementara keuntungan-keuntungan semacam itu tidak diperoleh sama sekali oleh kelas santri. Sehingga kelas ini menjadi kelas yang terjajah (colonialized class).

Dengan demikian kekalahan kelas santri dari kelas cendekia sebenarnya merupakan bagian kecil saja dari kekalahan-kekalahan yang diderita oleh “desa” terhadap “kota”. Dalam proses urbanisasi (proses menuju masyarakat dan budaya), desa-desa terus akan tergusur dan digantikan oleh kota-kota. Tetapi pertanyaannya adalah: Apakah tergusurnya desa seperti Pandaan dan Lawang misalnya, masih kita ratapi dan kita tangisi? Apakah kita mesti meneteskan air mata, ketika lampu sentir kita mesti diganti dengan lampu Neon dan Mercury yang canggih ?

Banyak sekali orang yang meratap begitu rupa melihat kekalahan desa berikut lembaga-lembaganya serta orientasi budaya tradisionalnya. Karena bagi mereka desa adalah segala-galanya. Pada hemat kita, sikap semacam itu menunjukkan sikap
eksklusivisme yang justru akan membawa lonceng kematian dengan tradisi desa itu sendiri. Permasalahannya tentu bukan pada upaya untuk bertahan total melawan serbuan kota, agar desa tetap lestari. Kalau perkembangan masyarakat sudah sampai pada suatu tahap dimana desa mesti digusur atau dirobah mengapa itu ditolak. Toh itu sudah proses sejarah.

Namun tentu kurang arif jika kebudayaan desa itu dibuang begitu saja. Toh ketika masyarakat ingin membangun tata budaya yang baru, mereka tidak bisa berangkat dari titik nol. Kebudayaan bukanlah sebuah proses yang terfregmentaris, tetapi selalu terus menerus berkesinambungan. Meminjam bahasanya Cak Noer, kebudayaan tanpa proses corelated continuity “ibarat sumur tanpa dasar”.

Lalu, apa korelasinya dengan persoalan antara kelas santri Vs kelas cendekia yang sedang kita kaji saat ini ?

Pada hemat kita, persoalannya bukan pada soal “kalah menang” antara dua kelas tersebut, tetapi bagaimana kita bisa membangun jembatan komunikasi yang baik antar keduanya, sehingga akan lahir sebuah perkawinan yang indah antara kebudayaan modern dan kebudayaan tradisional. Kelas santri sebagai bagian dari kebudayaan tradisional atau desa, tentu amat kaya dengan kearifan tradisional yang dibutuhkan oleh kelas cendekia yang menjadi bagian dari wajah kebudayaan kota atau “modern”. Kelas cendekia ini mempunyai akar-akar intelektual pada budaya barat yang bertumpu pada kekuatan rasio. (rationality paradigm).

Akan tetapi “perkawinan komunikasi” semacam itu tidak akan pernah terjadi seandainya tidak ada keterbukaan antar kedua belah pihak. Selama ini yang terjadi adalah insinuate communication (hubungan saling menyindir) antara kedua belah pihak. Kelas santri mengejek kelas cendekia karena penguasaannya yang dangkal terhadap tradisi kitab kuning. Kelas ini juga mengklaim sebagai “lembaga intelektual” yang paling berhak untuk berbicara atas nama Islam. Sementara kelas cendekia menyindir kelas santri sebagai kelas terbelakang yang dipenjarakan oleh masa lalu. Sudah saatnya memang kelas ini menyadari kekurangannya masing-masing. Kelas cendekia harus diakui lahir dari kebudayaan kota yang kental dengan nuansa kemajuan dan intelektualnya yang berporos pada dunia barat. Sedangkan kelas santri adalah perkembangan dari kelas tradisional, sehingga harus terbuka dalam rangka meluruskan kembali orientasi kebudayaannya, sehingga tidak tertinggal oleh waktu. Dari situ barangkali kita boleh berharap munculnya kelas blesteran sebagai produk dari hasil kawin silang antara kedua kelas tersebut.

*“Layaknya tunas kelapa”. Itu mungkin yang akan ada dibenak kita, saat kita telah mengenal cah pati yang cakep ini. Sebab tidak hanya ketampanan secara dhohir saja yang menjadi jurus ampuhnya namun kepiawaiannya merangkai kata serta wawasannya yang mumpuni sepenuhnya adalah miliknya. Maka tak heran ketika telah mengenalnya anda akan mengacungkan jempol terhadapnya dan kalau anda adalah cewek mungkin anda akan langsung tertarik padanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: