Zona Aktualita dan Transformasi Idea Pergerakan


Zein-Ya, memang tidak bisa kita bantah lagi kalau yang namanya pengkaderan itu merupakan proses yang obligated (wajib) pada setiap organisasi sebagai regenerasi dan reposisi fungsionaris (kepengurusan) dalam melanjutkan tugas suci sebuah organisasi (baca: PMII).
Regenerasi sudah merupakan sunnatullah nature of low dalam setiap organisasi dimana perubahan progressifitiy dan warna Collour sebuah organisasi tidak akan pernah terlepas dari generasi yang mengendarai organisasi tersebut. Memang naïf rasanya jika kita berlagak sombong dan mengatakan kalau kader itu tidak penting. Artimya apa, kader merupakan basis kekuatan politik yang nantinya akan memperjuangkan segala Visi dan Misi sebuah organisasi sebagai bayang-bayang cita ideal yang akan selalu diperjuangkan.

Dalam rangka memegang basis kekuatan politik (baca: kader) tersebut, PMII harus bisa bersikap dewasa dalam koridor manajerial dan format penguasaan kendali kekuatan politik. Secara setrategis PMII harus bisa memberikan sebuah surga atau minimal dunia baru lah terhadap The New Generation dengan harapan nantinya akan timbul kepercayaan yang utuh trustfull semangat yang utuh spiritfull dalam mengikuti perputaran roda organisasi. Jika iklim semacam itu terbangun maka sudah dapat dipastikan organisasi akan kokoh dan kuat, namun apabila terjadi sebaliknya, PMII akan runtuh karena mengingat kader merupakan kekuatan potensial dan paling signifikan dalam sebuah organisasi. Baik itu diakui ataupun tidak diakui.

Ada beberapa hal yang perlu PMII lakukan dalam rangka memegang kendali kekuatan politik;

Pertama, PMII harus bisa memberikan perhatian yang utuh completed care terhadap generasi baru dengan berbagai format strategi yang harus diterapkan dan tentunya format tersebut haruslah disesuaikan dengan situasi dan kondisi (sosio-kultural) PMII tersebut berada. Ketika dilingkungan pesantren maka harus disesuaikan dengan atmosfer pesantren, yang kental dengan budaya halal-haramya mungkin, dan ketika berada diluar pesantren maka sudah semestinya mengikuti kultur territorial. Completed care secara sederhana dapat meminimalisir terjadinya passing out (terlempar-nya) beberapa kader yang potensial dan hal ini nantinya ber-impact pada ciutnya dan minimnya kader yang berpotensi dan sudah barang tentu akan membuat bangrut PMII secara fisikal-finansial. Kondisi semacam ini sangat rawan terjadi di tubuh PMII. Apakah kondisi ini akaibat dari ketidak mampuan struktur formal dalam menampung kecenderungan yang beragam dari para kader ? ataukah, ataukah karena yang lain. Cobalah kita flash back pada PMII Komisariat Ngalah, banyak sekali kader-kader yang berpotensi dan harus tersia-siakan. Contoh saja Sahabat Nawawi, Sahabat Ali Musyafa’ dan masih banyak yang lainnya. Tidak kah itu benar?

Kedua, PMII haruslah bisa melihat keinginan dan kepentingan (need and interest) kader serta melakukan sebuah pengamatan mengenai potensi-potensi kader yang harus dibina terus-menerus sehingga nantinya akan tercipta new skill dari kader dan akan dikelola menjadi sebuah lahan nafkah earn for living bagi PMII itu sendiri.
Ketiga, PMII harus peka terhadap masyarakat sekitar. Artinya, PMII harus bisa menempatkan kadernya secara professional dan strategis dalam ber masyarakat. Mengingat PMII juga merupakan entitas dari sebuah masyarakat. Pendek kata PMII harus bisa bersosial (sociable) “pinter bergaul / gaul bangget”. Ketika base camp-nya dekat musholla, ya……. Harus berjama’ah misalnya, walaupun itu mungkin terpaksa.

Berpijak dari kondisi dan pola piker diatas, maka diperlukan sebuah sistem dari pola penaganan basis kekuatan politik (baca: kader) yang lebih beragam, integral dan fungsional. Artinya pengkaderan tidak dilihat sebagai suatu proses pembinaan yang dilakukan secara formal semata, tetapi memerlukan adanya pembukaan akses dan networking dengan kelompok lain yang difasilitasi oleh lembaga formal. Hal ini penting dilakukan karena disamping meminimalisir terjadinya proses passing out (terlempar-nya) kader potensial. PMII juga memberikan kejelasan serta arah dan perluasan gerak dari para kader untuk meningkatkan kualitas diri dan mengembangkan potensi. untuk merumuskan pola tersebut, maka perlu diadakan formulasi-formulasi system yang lebih efektif dan fungsional yang sesuai dengan tuntutan dan kondisi obyek kader PMII saat ini. Mungkin sebagai mana yang saya tuturkan diatas. Kalao itu pas cocok.

Comments on: "KADER SEBAGAI BASIS KEKUATAN POLITIK, PERGERAKAN (PMII) SEBAGAI MEDAN MAKNA POLITIK" (2)

  1. sepakat sekali sahabat.
    akan tetapi implementasi dalam konsep aplikatif yang didalamnya juga berkaitan dengan kreatifitas punggawa struktural sangat perlu untuk didiskusikan lebih lanjut, mengingat percepatan perkembangan dunia dwasa ini……
    karena persoalan tersebut juga ada pada pmii mojokerto terkhusus komisariat majapahit

  2. salam pergerakan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: