Zona Aktualita dan Transformasi Idea Pergerakan

Jpeg

PMII Ngalah Universitas Yudharta Pasuruan bersama Jaringan Lintas Agama Pasuruan, Gelar Aksi turun Jalan untuk peringati Hari toleransi Internasional. Aksi ini diselenggarakan bersama oleh Jaringan lintas agama Pasuruan yang terdiri dari  Komunitas Gitu Saja Kok Repot (KGSKR) Jaringan GUSDURian Pasuruan, Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) “Hosanna”, Stapa Center, PK PMII  Pancawahana Bangil, dan Kelenteng  Tjoe Tik Kiong di Perempatan Taman Dayu, sabtu sore (26/11/2016).

“Puluhan peserta aksi Berbondong-Bondong membagikan sebuah Stiker yang bertuliskan “Semakin Tinggi ilmu seseorang Maka, Semakin Besar Rasa Toleransinya” Kata-Kata tersebut mengutip perkataan dari Bapak Pluralisme (GusDur).” Ungkap Achmad Thoifur Arief selaku peserta aksi di tengah kesibukannya.

Peserta juga membagikan selembaran “Peringatan Hari Toleransi Internasional 2016” kepada para pengguna jalan dengan bertujuan agar semua elemen masyarakat mengerti betapa pentingnya hidup bertoleran dan Menjadi salah satu sarana untuk menciptakan pemahaman antar perbedaan yang ada. “Perdamaian tanpa keadilan adalah ilusi” qoute Gus Dur dalam selembaran tersebut.

“Kami berharap, semakin menguatnya rasa toleransi di kalangan pemuda dan Jalinan silaturrahmi pemuda lintas agama dan budaya semakin menguat. Seperti kata Gus Dur, bahwa Toleransi tidak cukup hanya menjadi wacana, harus menjadi kegiatan nyata. Maka, aksi bersama kami kemarin sore, adalah bagian dari menambah pengalaman kebersamaan lintas agama dan budaya.” Pungkas Makhfud syawaludin selaku penanggung jawab Aksi Kegiatan tersebut.

Tidak berhenti disitu, aksi dilajutkan dengan performance di pameran budaya 2016 di Taman Dayu. “Kami berkesempatan tampil dan menyanyikan lagu Pluralisme bersama-sama dengan judul Pray For The Peace Of Humanity. Kemudian dilanjut pembacaan puisi-puisi bertajuk toleransi oleh Sahabat Muhammad Muzamar Zamzami dan Sahabati Nur Rizky Amania dari PMII Ngalah Universitas Yudharta Pasuruan dengan diiringi musik dari Pendeta Otniel Rossa Setiawan dibantu Yovi Ade Irawan.” Tambah Dede Octamara selaku Sekretaris Komisariat PMII Ngalah Universitas Yudharta Pasuruan tersebut.

Penulis: Tim Pena Ngalah

whatsapp-image-2016-11-22-at-20-11-38

Outbond di acara LDKS SMK Purnama Gempol Bersama PMII Ngalah

Tahun ini, SMK Purnama Gempol menggelar LDKS di Pemandian Tlogo Sewu Pandaan dan melibatkan Pengurus Komisariat PMII Ngalah Universitas Yudharta Pasuruan dengan harapannya menambah suasan baru bagi siswa sehingga menambah semangatnya belajar berorganisasi di sekolah. “Tahun ini, kegiatan LDKS dilaksanakan di Pemamdian Tlogo Sewu Pandaan Kabupaten Pasuruan.” Jelas Saifuddin Anwar selaku Guru dan Panitia LDKS tersebut (22/11/2016).

“Kami juga meggandeng Fasilitator dan Narasumber dari Pengurus Komisariat PMII Ngalah Universitas Yudharta Pasuruan yang sedang dikenal dimana-mana kualitasnya dalam mendampingi kegiatan-kegiatan seperti LDKS. Hasilnya kami sangat puas. Terima kasih ya Adek-Adek Sahabat PMII.” Kenangnya. “Harapannya siswa-siswa mendapatkan suasana baru dan mendorong semangatnya dalam belajar berorganisasi di sekolah.” Tambahnya.

Senada dengan itu, Pembina Osis SMK Purnawa menyatakan bahwa tujuan dari Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) bagi Pengurus OSIS-nya agar mengerti dan memahami pentingnya berorganisasi. “Mengerti dan memahami pentingnya suatu organisasi, menumbuhkan sikap tanggung jawab dan disiplin diri terhadap organisasi, serta memperoleh bekal keterampilan dan pengetahuan dasar-dasar berorganisasi.” Ujar Sevie Oktavia Wulandari selaku pembina OSIS SMK Purnama Gempol tersebut.

Selain itu, Sevie berharap kedepan OSIS SMK Purnama Gempol menjadi Organisasi yang berkualitas, menjadi calon pemimpin yang berkualitas, dan konsisten serta istiqomah dalam menjalankan program kerjanya. “Menjadi organisasi yang berkualitas baik dalam tingkatan kepemimpinan, kedisiplinan, maupun program kerja yang akan diaplikasikan ke dalam bentuk kegiatan siswa.” Lanjutnya.

Hal itu dirasakan oleh peserta bahwa kegiatan yang dilakukan pagi ini sangat seru dan menarik. Ujar M. Halim selaku salah satu peserta LDKS dan M. Irfan Iswahyudi selaku ketua OSIS SMK Purnama Tersebut. Selain itu, sejuknya Pemandian Tlogo Sewu Pandaan menjadi bagian dari kegembiraan tersendiri bagi peserta LDKS. “Hawanya dingin, bagus, dan halamannya luas.” Ujar Rini Rochmawati. Dan berdasarkan pantauan Pasukan Pena PMII, keindahan wisata Pemandian Tlogo Sewu membuat mayoritas peserta selfi diselah-selah istirahat dan selesainya kegiatan formal LDKS tersebut.

Pengurus Rayon Guevara PMII Ngalah Universitas Yudharta Pasuruan bersama Santri di Panti Asuhan Ar-Rahman Purwosari

Pengurus Rayon Guevara PMII Ngalah Universitas Yudharta Pasuruan bersama Santri di Panti Asuhan Ar-Rahman Purwosari

Sengonagung – Pengurus Rayon PMII Guevara, lakukan aksi galang dana untuk memperingati Heroik Santri 2016. “Saya mengusulkan kegiatan Galang Dana dalam memperingati Heroik Santri 2016 ini, dan disepakati oleh sahabat-sahabat dalam Kegiatan Tindak Lanjut MaPABa oleh Pengurus Rayon PMII Guevara.” Ujar Abdul Wahid selaku Anggota Baru Rayon Guevara PMII Komisariat Ngalah Universitas Yudharta Pasuruan tersebut. “Hasil galang dana tersebut akan kami sumbangkan untuk Panti Asuhan Yayasan Ar-Rahman Purwosari.” Tambahnya.

Dalam aksi galang dana tersebut, Yuni Mahmuda berkesempatan menjadi koordinatornya dan mengatakan sudah saatnya aksi galang dana tersebut. “Sudah saatnya dalam memperingati hari heroik santri ini PMII bergerak untuk lebih peduli pada lingkungan sekitar dan mau begerak untuk membantu bagi yang membutuhkan”. Ungkapnya saat diwawancari Pasukan Pena PMII Ngalah pagi tadi (20/11/2016). ”Aksi dilakukan jam 10.00 hingga 11.00 di lembaga Pendidikan Yayasan Darut Taqwa Sengonagung Purwosari. Mulai dari SMP, MTs, SMA, MA, dan SMK. Dan alhamdulillah acara berjalan dengan tertib dan lancar.” Imbuhnya.

Disusul pada pukul 14.30, Anggota Rayon PMII Guevara dan didampingi Pengurus Komisariat PMII Ngalah berangkat menuju Panti Asuhan Ar-Rahman Purwosari. “Sebelum secara simbolis kami menyerahkan Bantuan tersebut, kami bersama-sama berdoa bersama untuk masa depan santri-santri yang ada dipanti asuhan serta untuk keselamatan Agama, Bangsa, dan Negera.” Ungkap Uswatun Hasanah selaku Pengurus Komisariat PMII Ngalah tersebut. “Acara ditutup dengan pemberian bantuan dan tumpeng untuk santri-santri.” Pungkasnya.

 

Ditulis Oleh: Bagus Sulistyawan

Sumber Gambar: Group FB: Forum Diskusi PMII Ngalah

img-20161008-wa0010

Oleh: Muhammad Siha Buddin

(Pengurus Himaprodi PAI 2016-2017 dan Kader PMII Ngalah)

Pada acara OPS (Ospek Progam Studi ) Himaprodi PAI yang di selenggarakan di aula Universitas Yudharta Pasuruan tepatnya tanggal 8-9 oktober 2015 Ketua Himaprodi PAI M. Ainun Najib Mengatakan ”Harapan untuk adek MaBa supaya jangan kuliah saja, jangan hanya kuliah pulang kuliah pulang (mahasiswa kupu-kupu) tapi carilah kesibukan lain seperti ikut organisasi lebih lebih di HIMAPRODI”

Senada Kaprodi PAI mengatakan “Seluruh mahasiswa PAI semester 3 wajib magang”. Ujar Ahmad Ma’ruf yang juga Alumni PMII tersebut. Oleh sebab itu mahasiswa PAI di anjurkan ikut organisasi baik internal maupun external, karena melalui organisasi itulah mahasiswa bisa belajar tentang bagaimana menjadi pionir guru bangsa yang taqwa mandiri dan berakhlakul karimah.

“Menjadi Mahasiswa, Menjadi Aktifis. Menjadi aktifis, tidak cukup hanya kuliah dan mengikuti organisasi intra kampus. Melainkan harus aktif di organisasi ektra kampus, boleh PMII atau GMNI”. Ujar Makhfud syawaludin. S.PdI. selaku Ketua Himaprodi PAI UYP periode 2010-2011 dalam Pembukaan menyampaikan materi seputar Himaprodi dan Organisasi Kampus.

Oleh sebab itu untuk memenuhi dan berkualitasnya Tri Dharma Perguruan Tinggi, Seorang Mahasiswa Menjadi Aktifis Aktif, dengan mengikuti organisasi, banyak membaca, menulis, dan berdiskusi.

(Seputar Progress Report Kepanitiaan Base Camp Permanen Ngalah)

Temu Alumni, Sillaturrahmi Alumni, Laporan Proggress Report Panitia Pembangunan Kantor, dan Potong Tumpeng (31 Juli 2016)

Temu Alumni, Sillaturrahmi Alumni, Laporan Progress Report Panitia Pembangunan Kantor, dan Potong Tumpeng (31 Juli 2016)

 

Oleh: Makhfud Syawaludin*

A. Pengantar Yang Sama, Menggapai Hasil Yang Berbeda

Warisan tekad penggerak PMII Ngalah terdahulu, tanpa ada katalisatornya pun akan sampai pada generasi penggerak selanjutnya. Mengapa itu bisa terjadi? Hemat saja, bahwa PMII mengajarkan kita semua untuk berpikir bebas, bertanggungjawab, visioner, dan tidak mengenal menyerah. Bersyukur sekali bahwa sampai hari ini, tekad penggerak PMII Ngalah terus terwariskan dengan rantai silaturrahmi yang tetap terjaga dan beberapa kali mengilhami generasinya. Satu contoh adalah Gagasan Base Camp Permanen PMII Ngalah.

Sepengetahuan penulis, Gagasan tersebut diimplementasikan untuk pertama kalinya di periode komisariat 2002-2003, yakni saat ketua komisariat PMII Ngalah adalah Sahabat Ahmad Marzuqi dan yang mendapatkan mandat sebagai Ketua Panitianya adalah Sahabat M. Dayat. Hingga tahun 2012, terbesit sebentar dalam diri penulis untuk menggagas Base Camp Permanen. Besitan itu disambut baik waktu itu oleh Sahabat Amang Fathurrohman (Ketua Komisariat 2000-2001). “Golek tanah wes, cilik-cilik, nanti bangun gubuk-gubuk begitu.” Ujarnya.

Penulis tidak pernah melakukan survey, dan kalaupun disurvey, penulis yakin bahwa semua masa akan memikirkan sebuah Base Camp permanen tersebut. Hingga akhirnya, Sahabat A. Afiful Karim Zain menyelenggarakan pertemuan alumni saat pelantikannya (24 Januari 2016) di Aula Pancasila UYP, satu hasilnya adalah implementasi gagasan Base Camp Permanen PMII Ngalah tersebut. Berawal dari itulah, Heri Sutiro selaku Ketua II menggelar pertemuan alumni yang berfokus pada tindak lanjut pertemuan tersebut. Tepat saat Gerhana Matahari (9 Maret 2016) di Base Camp PK PMII Ngalah (kontrakan), berhasil membentuk kepanitiaan pembangunan kantor PMII Ngalah. (Kepanitiaan bisa di lihat di pmiingalah.wordpress.com dengan judul: Jilid I: Catatan Gagasan & Implementasi Base Camp Permanen PK PMII Ngalah Universitas Yudharta Pasuruan).

Selanjutnya, bagaimanakah perjalanan kepanitiaan tersebut? Masih berjalankah? Sejauh mana perjalanannya? Apa hasilnya selama ini? Dan masih banyak sekali pertanyaan-pertanyaan. Setidaknya, gagasan tersebut sudah menggelinding layaknya bola salju yang akan terus membesar. Sedikit bocoran, sampai tanggal 14 September 2016, Donatur sudah mencapai 51 Kader & 38 Alumni (total, 89 Donatur). Berdasarkan data tersebut, akan terkumpul dana sebesar Rp. 24.050.000. Selebihnya, Pasti ada jalan. Kita yakin itu.

 

Gambar I: Data Donatur Alumni

i

 

Gambar II: Data Donatur Kader

ii

 

Gambar III: Grafik Donatur Alumni & Kader

iii

B. Berbagai Teknis Kepanitiaan Suksesi Kantor Pergerakan

Pembagian tugaspun menjadi rentetan dead line yang harus dikerjakan oleh kepanitiaan. Mulai pembuatan proposal, stempel kepanitiaan, rapat-rapat kepanitiaan, survey tanah, dan menjemput alumni & kader sebgai donaturnya. Pertama, pembuatan proposal terkendala terkait Desain Bangunan Kantornya. Yang pada akhirnya, menggunakan desain ala photoshop. Stempel, alhamdulillah, sudah jadi. Survey tanah pun sudah beberapa kali dilakukan, meskipun belum menemukan titik terangnya, tidak jadi persoalan. “Sembari mencari tanah, kita mengumpulkan dana juga.” Keputusan rapat 9 maret 2016 tersebut. Yang pasti, Tanah diusahakan dekat dengan Kampus Yudharta dan harganya pas (sesuai pasar).

Hampir lupa, rapat-rapat berjalan dan terbantu dengan pembuatan Group Khusus WhatApps bernama “TIM ANBU NGALAH”, hanya beranggotakan 11 Kader & Alumni PMII Ngalah. Pembahasan dalam group lebih terfokus, koordinasi serius dan valid, namun sesekali humor pun terjadi. Selanjutnya menjemput Alumni & Kader untuk menjadi Donatur pun dilakukan. “Coba buat formulir online juga.” Gagas Sahabat M. Dayat selaku Ketua SC Kepanitiaan Pembangunan Kantor PMII Ngalah tersebut. Akhirnya, Penulis belajar otodidak di google dan berhasil membuat formulir online tersebut. (Bagi yang belum mengisi, silahkan klik link ini: https://goo.gl/forms/mlttkxNBxJmzgxHJ2 )

Ketika hendak merekap data form online yang masih sebanyak 21 donatur (27 April 2016), penulis mencoba menggunakan cara tradisional. Untungnya, Sahabat Wahyu Hidayatullah sebagai seorang programer, tidak tega dan mengambil alih rekap tersebut. Sejak saat itulah, Sahabat Wahyu menjadi Koordinator Data di kepanitiaan. Dalam beberapa menit saja, data sudah rapi dan dalam presentasinya yang mengagumkan membuat penulis yakin dan bersemangat. Bahwa, gagasan Base Camp Permanen ini akan semakin nyata. Selain itu, untuk kali pertama, PMII Ngalah akan mempunyai data base Alumni & Kader secara online.

Kepanitiaan juga menyiapkan form offline untuk mengakses Kader & Alumni yang tidak memilih mengisi formulir donatur secara online. Pada posisi inilah, kepanitiaan mengalami progress yang lambat. Evaluasi perihal itu disampaikan pada Temu Alumni & Silaturrahmi Alumni PMII Ngalah (31 Juli 2016), hingga menghasilkan salah satu rekomendasinya adalah sosialisasi program door to door harus dimaksimalkan. Hingga saat ini, mencapai kata maksimal masih kelelahan di tengah jalan. Namun, bukan berarti kepanitiaan diam, berbagai upaya sudah dilakukan. Setidaknya, setiap bulan akan ditargetkan 2-3 alumni yang akan dikunjungi.

Selain rekomendasi tersebut, ada bantuan pendataan alumni wilayah kampus akan dikoordinir langsung oleh M. Dayat dan wilayah MA, SMK, dan SMA dipegang oleh Abdur Rohman Amin. Beberapa minggu ini, kepanitiaan akan melakukan kunjungan dengan Beliau berdua terkait progressnya dan apa yang perlu ditindaklanjuti. Kemudian menjaga ritme kaderisasi yang lebih baik juga diperbincangkan dalam forum tersebut. Dalam forum tersebut, juga menambah kekuatan program ini, yang mana beberapa alumni (yang sebelumnya tidak) hadir dan memberikan sumbangsihnya terhadap transportasi kepanitiaan, baik lewat pembuatan selebaran dan penyetoran struk BBM.

Selanjutnya, kepanitiaan mencoba untuk menambah personil dalam pengambilan dan sosialisasi. Alhamdulillah, selalu saja ada Alumni dan Kader yang mau membantu. Hingga saat ini, kepanitiaan masih terus berbenah melalui group TIM ANBU Ngalah tersebut. Masukan-masukan dari kader dan alumni sangat kami tunggu baik saat bertemu dan melalui media sosial (group WA PMII Ngalah dan IKAPMII Ngalah, Group BBM PMII Ngalah, FB PMII Ngalah & Group Forum Diskusi PMII, serta akun twitter @PMIINgalahUYP ). Pada intinya, program ini adalah program bersama. Penulis tidak bisa menulis semuanya, inti dari tulisan ini hanya satu saja. “Percaya dan Berusaha Bersama”.

 

C. Hasil Kerja Kepanitiaan, Bukan Tanpa Kegagalan

Setelah narasi-narasi perjuangan di atas, saatnya gambar-gambar hasil perjuangan kepanitiaan program pembangunan kantor PMII Ngalah kami tampilkan. Diantaranya yaitu: 1). Persentase Pendapatan dari 89 Donatur, 2). Grafik Pertumbuhan Donasi, 3). Rekap Harian Kas, 4). Sumbangan Tidak Mengikat, dan 5). Kas Transportasi Kepanitiaan.

Sebelum itu, Donasi yang masuk di kepanitiaan sebesar Rp. 6.697.000.

 

Gambar IV: Rekapitulasi Umum

iv

 

Gambar V: Persentase Pendapatan dari 89 Donatur

v

 

Gambar VI: Grafik Pertumbuhan Donasi

vi

 

Gambar VII: Rekap Harian Kas

vii

 

Gambar VIII: Sumbangan Tidak Mengikat

viii

 

Gambar IX: Kas Transportasi Kepanitiaan

Bulan Agustus Keanitiaan sudah menyetorkan struk BBM sebesar Rp. 150.000. Bila lancar, kas transportasi akan bertambah sebesar nominal tersebut. Adapun Bulan September diusahakan juga sebanyak itu.

Bulan Agustus Keanitiaan sudah menyetorkan struk BBM sebesar Rp. 150.000. Bila lancar, kas transportasi akan bertambah sebesar nominal tersebut. Adapun Bulan September diusahakan juga sebanyak itu.

 

Dari hasil yang dicapai kepanitiaan, bukan tanpa kegagalan. Misalnya saja soal penarikan donasi, masih ada beberapa alumni yang tidak mau memberikan donasinya sampai ada lokasi tanah yang jelas, meragukan keseriusan kepanitiaan, “ayo kita tunjukkan keseriusan kita.” Ujar Ahmad Thoifur Arif selaku Sekretaris Panitia dan Ketua Komisariat Ngalah 2011-2012 tersebut. Kemudian janji-janji yang pasti ditepati entah kapan, dan lain sebagainya. Itu semua bukanlah halangan bagi kepanitiaan. Hemat panitia, “kita jalani saja sesuai keputusan rapat alumni, mencari tanah sambil mencari dana.” Ujar M. Ismail selaku Bendahara Kepanitiaan. Bahkan, panitia lapangan yang dikomandoi oleh M. Irfan Badri akan menghimpun kisah lucu, sedih, dan menarik saat menghubungi donatur dan mengambil donasi. (tunggu saja, akan terbit di web ini juga kok).

 

D. Penutup

Ini hanya bagian dari janji dan keseriusan kepanitiaan dalam melaporkan kinerjanya sebagai bentuk akuntabilitasnya terhadap Kader & Alumni PMII Ngalah. Semoga, apa yang tertulis ini dapat memberikan kepercayaan semua pihak atas keseriusan kepanitiaan. Mohon Maaf dan Terima Kasih.

“Sekali bendera dikibarkan, hentikan ratapan dan tangisan. Mundur satu langkah adalah penghianatan. SALAM PERGERAKAN.”

 

*Ketua Panitia dan bisa dihubungi di 081252375148

ffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffff1 copy

A. Semacam Pengantar: Indonesia, NU, dan PMII

Semenjak PMII dideklarasikan di Surabaya (17 April 1960), hingga saat ini PMII terus mengalami perkembangan secara kualitas dan kuantitas para anggota, kader-kader, dan pendistribusian alumninya semakin hari semakin menempati posisi-posisi yang strategis. Tercatat PMII memiliki 200 lebih cabang di seluruh Indonesia dan anggotnya mencapai ribuan. Itu artinya, keberadaan PMII mendapatkan tempat dihati para mahasiswa dan dipercaya sebagai alumninya PMII. Sebagai organisasi ideologis, PMII diyakini sebagai tempat belajar. Misalnya mengajarkan pendewasaan dalam berpikir, memilih tindakan, matrikulasi waktu, sekaligus mengantarkan kepada sekelompok pemuda-pemuda yang mempunyai semangat juang tinggi terhadap Islam dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. PMII telah dianggap sebagai organisasi penyebar toleransi, penegak keadilan, dan tunas-tunas perdamaian di Nusantara. Tidak heran saat Harlah PMII Ke-55 di Masjid Agung Al-Akbar Surabaya, Jumat (17/4/2015), Presiden Jokowi mempercayakan kepada PMII untuk pembentengan Radikalisme Agama yang sudah menyerang kaum muda Indonesia. Pada Hakikatnya, kepercayaan atas PMII hanyalah sebagian kecil peran dan tujuan PMII itu ada. “Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.” (AD BAB IV Pasal 4).

Sebelumnya pleno PB IKA PMII soal instruksi/saran bahwa PMII sudah saatnya (harus) kembali ke NU (Jakarta: 18 Maret 2015), tidak terkabulkan saat PB PMII secara Resmi menolak untuk Menjadi Banom NU. Keputusan PB PMII tersebut sirna saat Hasil Muktamar Ke-33 NU di Jombang (1-5 Agustus 2015), PMII telah menjadi Banom NU untuk menangani mahasiswa-mahasiswa NU di seluruh Indonesia. Pada proses sidang komisi tersebut, pihak PB PMII sudah memberikan argumentasi agar tidak menjadi banon struktural di NU, hasilnya PMII hanya bisa menjadi penonton dalam sidang tersebut. Namun, PMII masih bisa menegaskan dengan setuju atau tidak atas hasil Muktamar tersebut pada Kongres PMII mendatang. Yang jelas, PMII dalam Anggaran Dasar (AD) BAB III Pasal 3 bersifat Independen. Namun, hasil Kongres ke-10 PB PMII tetap Independen namun dalam berhubungan dengan NU ditegaskan dengan istilah Interdepedensi.

Penegasan hubungan interdepedensi didasarkan pada pemikiran-pemikiran, yakni a). Interdepedensi PMII-NU ditempatkan dalam konteks keteladanan ulama (pewaris Nabi) dalam kehidupan keagamaan dan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, b). Adanya ikatan kesejarahan PMII-NU. Bagaimana pun, mayoritas warga PMII berasal dari NU, secara langsung maupun tidak, akan mempengaruhi perwatakan PMII secara umum, c). Adanya kesamaan paham keagamaan PMII-NU. Sama-sama mengembangkan Islam Aswaja (Tawassuth, I’tidal, Tasamuh, Tawazun, dan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar) serta menganut pola pikir, pola sikap, dan pola tindak secara selektif, akomodatif, dan integratif (sesuai prinsip dasar almuhafadatu Alal Qadimis Shalih Wal Akhzdu Biljadi al Aslah), d). Adanya kesamaan persamaan kebangsaan, yakni Islam Indonesia, dan e). Adanya persamaan kelompok sasaran, yakni masyarakat kelas menengah kebawah.

Kembali kepada logika sederhana bahwa PMII, akan tetap menjadi Banom NU, meskipun bukan Banom Struktural. Seandainya menjadi Banom Struktural, bukan menjadi persoalan substansi. Namun, ketika PMII tidak lagi mengamalkan NDP, tidak ber-PKT, tidak memahami Aswaja sebagai Manhaj, hilang ruh intelektualitas organiknya, kemudian hanya dibibir soal dzikir, fikir, dan amal saleh, itu lah yang sebenarnya harus dikhawatirkan oleh kita selaku Kader-Kader PMII, termasuk di Pasuruan. Meskipun kemungkinan akan menjadi Banom Struktural NU, PMII diberbagai daerah sudah memiliki kantor sendiri, bahkan itu tidak menyiutkan nyali dan semangat PMII untuk membangun kantor sendiri, seperti yang dilakukan oleh PK (Pengurus Komisariat) PMII Ngalah Universitas Yudharta Pasuruan.

B. Usulan dari Kader, Alumni Mendukung

PMII Ngalah bagian dari Pengerak PC (Pengurus Cabang) PMII di Pasuruan, terbukti bahwa semenjak lahirnya PMII Ngalah pada tahun 1999 sampai 2016, 4 kader PMII Ngalah menjadi Ketua Umum Cabang, lebih dari 5 menjadi Sekretaris Umum Cabang serta menempati posisi-posisi strategis dalam kepengurusan yang lainnya. PK PMII Ngalah juga mempunyai 3 Rayon dan satu-satuya komisariat di Pasuruan yang memiliki Rayon, Pengurus Rayon (PR) Jaka Tingkir (Fakultas Agama Islam), PR Einstein (Fakultas Teknik dan Pertanian), dan PR Guevara (Fakultas sosial politik dan psikologi). Itu artinya, kaderisasi yang PK PMII Ngalah dilaksanakan dengan efektif dan serius. Namun, PK PMII Ngalah dalam beberapa kali evaluasi yang dilakukan oleh pengurus komisariat dan pengurus rayon serta beberapa alumni banyak terkendala belum permanennya kantor PK PMII. Kendalanya antara lain: a). Setengah tenaga kepengurusan energinya terkuras untuk mencari dana membayar kontrakan kantor, b). Semakin mahal dan sulitnya mencari kontrakan disekitar kampus Universitas Yudharta Pasuruan, c).  Tidak maksimal dan sering kehilangan dokumen-dokumen dan buku-buku bacaan pasca pindahan kantor, d). Menjadi semacam ketakutan untuk menjadi ketua komisariat dikarenakan bertanggungjawab membiayai kontrakan kantor, e). Kesusahan ketika pindahan tetapi belum mendapatkan kontrakan kantor, dan f). Terputusnya program kegiatan pengabdian dengan masyarakat sekitar saat pindah kantor.

Melihat kondisi seperti itu, pembangunan kantor PK PMII Ngalah bukan lagi penting, tetapi menjadi sebuah kebutuhan. Selain itu, keberadaan kantor PK PMII Ngalah (permanen) akan memberikan manfaat antara lain: a). Memastikan keberadaan kantor pada satu lokasi yang tetap, ketika tamu ataupun alumni tidak kebingunan ketika akan bersillaturrahmi, b). Kantor (diupayakan) dekat dengan kampus, mengingat banyak anggota dan kader PMII adalah santri Ponpes Ngalah, c). Dapat menjaga dan mengembangan perpustakaan pribadi milik PK PMII Ngalah, dan d). Berkurangnya beban kepengurusan dalam hal pendanaan, sehingga dapat digunakan untuk kederisasi dan program-program yang lebih efektif lainnya. Berdasarkan keterangan di atas, akhirnya pengurus PK PMII Ngalah dan Almuni memutuskan untuk bersama-sama mewujudkan adanya kantor PK PMII Ngalah Universitas Yudharta Pasuruan secara permanen (hasil pertemuan pengurus dan alumni saat pelantikan PK PMII Ngalah 2016-2017 pada hari Minggu, 24 Januari 2016 di Aula Pancasila Universitas Yudharta Pasuruan).

Tidak berhenti disitu, PK PMII Ngalah melalui bidang II mengadakan Pertemuan Alumni untuk menindaklanjutinya. “Setidaknya dalam pertemuan tersebut terbentuklah kepanitiaan pengadaan Base Camp.” Ujar Heri Sutiro yang akrab dipanggil Heri Orituz selaku Ketua II PK PMII Ngalah dalam sambutan acara tersebut. (Minggu, 9 Maret 2016). Sebelumnya ide pengadaan kantor tersebut sudah pernah dilaksanakan, yakni saat masa kepemimpinan ketua komisariat Sahabat Marzuki dan Sahabat Dayat sebagai ketua panitianya. Akan tetapi, program tersebut berhenti dikarenakan beberapa hal. Alhamdulillah, akhirnya terbentuklah kepanitiaan yang mayoritas dikomandani para alumni-alumni sehingga diharapkan tidak menganggu kaderisasi pengurus komisariat. Adapaun susunan kepanitiaan yaitu:

Berikut adalah susunan kepanitiaannya yang terdiri dari Pelindung, Steering Committee, Badan Pengurus Harian, Pengolahan Data, Humas dan Pendanaan, serta Perencanaan Pembangunan. Pelindung terdiri dari: 1). Salamin, M.Pd., 2). Achmad Mubarak, M.Pd., 3). Sutrisno, S.Pd.I., 4). Amang Fathurrahman, M.Pd., 5). Jauharul Lutfi, 6). Saiful Ma’ruf, S.Pd.I., 7). Hambali, M.Si., 8). Masykur Edo, 9). Abdul Qohar, M.Pd.I., dan 10). Lutfi, MM. Kemudian Steering Committee yang pimpin oleh M. Dayat, M.Pd., anggotanya antara lain: 1). Achmad Marzuki, M.Pd.I., 2). Khoirul Anwar, ME., 3). Wahyuni, S.Pd.I., 4). Syafi’uddin Thohir, ST., 5). Khafidz Rosyidi, MT., 6). Muhlishin, S.Pd.I., 7). Achmad Idrus al-Hakim, 8). Zainal Akhwan, M.Kom., 9). Arif Hidayatullah, S.Sos., 10). Sucipto, MT., 11). Heri Sunarno, M.Kom., 12). Aminuddin, M. Kom., 13). Lukman Hakim, M. Kom., 14). Resdi Hadi Prayoga, M. Kom., 15). Anang Sholehuddin, M.Pd.I., 16). Achmad Ma’ruf, M.Pd.I., 17). Ahmad Nur Rohmatullah, M.Pd.I., 18). Abdurrahman Amin, S.I.Kom., 19). Syaifuddin, S.Pd.I., dan 20). Syihabuddin, S.Pd.I.

Selanjutnya Penanggung Jawab adalah Ketua Komisariat (A. Afiful Karim Z/2016-2017), Ketua Panitia Sahabat Makhfud Syawaludin, S.Pd.I., Sekretarisnya Sahabat A. Thoifur Arif, S.Sos., dan dibantu sebagai Bendahara adalah M. Ismail, S.Pd.I. “Selain menggalang dana, kita juga mengupayakan adanya data base kader dan alumni PMII Ngalah.” Ujar A. Thoifur Arif selaku Sekretaris Kepanitiaan dalam rapat internal kepanitiaan. Itulah yang mendasari diperlukan adanya TIM Khusus Data. Terpilihlah Sahabat Wahyu Hidayatullah, S.Kom. sebagai Koordinator dan Ahmad Tajuddin, S.Kom sebagai anggotanya.

Adapun devisi Humas dan Pendanaan di koordinatori oleh M Irfan Badri S.Pd.I. Anggotanya meliputi: 1). As’ad Zainuddin S.Sos., 2). Agus Saifullah ST., 3). Abdul Ghofar M.Pd.I., 4). M. Nizar ME., 5). Syaifuddin S.Kom., 6). Anisaus Sholihah, S.Psi., 7). Subadar, ST., 8). M. Qibti Ismail, S.Pd.I., Misbahus Sudur ST., 9). Aminullah S.Pd.I., 10). Nurul Qomariyah Sp., 11). M. Taufiq S.Pd.I., 12). M. Saiful Rizal S.Pd.I., 13). Afif Fuadi, S.Sos., 14). Taufiq. S.Kom, dan 15). Mahin A, S.Kom. Sedangkan devisi Perencanaan Pembangunan M Irsyad ST. Sebagai Koordinator dan dibantu beberapa anggota, yakni: 1). Lukman Hakim S.Pd.I., 2). Mahmud, S.Sos., 3). Abdul Jalil, S.Pd.I., 4). Asan Sazali, ST., dan 5). Nur Hadi, ST.

C. Tujuan, Target, dan Pendanaan

Kepanitiaan yang terbentuk belum mempunyai periode kepanitiaan. Namun, tetap mempunyai batasan waktu, bukan karena tidak ingin mengurusi lagi, hanya sebagai bagian dari kebersamaan dan belajar bersama, serta memperbarui semangat dalam mengimplementasikan gagasan pengadaan kantor permanen tersebut.

Adapun tujuan program pembangunan kantor PMII Ngalah sebagai berikut:

  1. Berdirinya kantor PMII Komisariat Ngalah secara permanen dan strategis
  2. Adanya pusat informasi dan pusat koordinasi yang berkelanjutan
  3. Mampu menata kebutuhan dasar organisasi dalam hal administrasi, pengarsipan, dan penyimpanan dokumen-dokumen
  4. Mewujudkan sentral studi bagi kader, anggota, dan masyarakat sekitar
  5. Memudahkan alumni untuk bersillaturrahmi dan konsolidasi dengan para pengurus dan anggota PMII
  6. Memudahkan dan mempererat hubungan komunikasi dengan organisasi-organisasi diluar PMII
  7. Sebagai tempat tinggal para pengurus komisariat dan rayon.
  8. Mempunyai data base alumni dan kader secara lengkap dan online

Selanjutnya target direncanakan sampai tahun 2022. Dengan rincian sebagai berikut: 1). Tahun 2016-2019 dapat membeli tanah (jangka pendek), 2). Tahun 2019-2021 dapat membangun kantor PMII (jangka menengah), dan 3). Tahun 2021-2022 dapat menata kantor dengan baik (jangka panjang). Untuk pendanaan pembangunan kantor PMII Ngalah melalui beberapa sumber, antara lain: 1). Iuran kader PMII Komisariat Ngalah Universitas Yudharta Pasuruan. “Kader dan Anggota PMII dari tahun 2012-2015 sebanyak 200 Mahasiswa. Berdasarkan data tersebut, kami menargetkan 1 Mahasiswa menabung Rp 100.000 selama tahun 2016, sehingga dalam tahun 2016 dapat mengumpulkan dana sebanyak Rp 20.000.000.” Ujar A. Afiful Karim selaku ketua Komisariat Ngalah 2016-2017 dalam rapat bersama alumni tanggal 9 Maret 2016 tersebut. 2). Sumbangan alumni PMII Ngalah, 3). Bantuan instansi pemerintah atau swasta yang tidak mengikat, dan 4). Usaha-usaha lain yang halal dan tidak mengikat.

D. Penutup

Banyak hal yang belum ditulis dalam tulisan ini, itulah kenapa judulnya “Jilid I”. Hehehe. Semoga apa yang telah direncanakan mendapatkan Ridho Allah SWT. Amin.

Ditulis dan terlambat oleh Makhfud Syawaludin.

Dari Kiri: Amin (Moderator), Agus Sunyoto, Sakban Rosidi, dan Fadillah Putra

Dari Kiri: Amin (Moderator), Agus Sunyoto,                          Sakban Rosidi, dan Fadillah Putra

 

“Tuhan tidak perlu dibela, Dia sudah Maha Segalanya.

Belalah mereka yang diperlakukan tidak adil.” (Gus Dur)

 

Oleh: Makhfud Syawaludin*

 

Adanya Agama dan Negara, harusnya menegakkan Kebajikan dan Keadilan

Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.” Kalimat dari Gus Dur tersebut, selayaknya sudah diarusutamakan. Berbuat kebajikan harus diutamakan, bukan hanya beragamanya. “Beragama saja tidak dipaksakan, lantas apa yang membuat penting kita beragama? Tujuan agama itu apa? Tujuan agama pada hakikatnya adalah bagaimana kita bisa berbuat baik dan adil. ‘Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru pada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung (QS. Ali Imran: 104)’.” Ujar Dr. Sakban Rosidi, M.Si., dalam kegiatan yang diselenggarakan kelompok Diskusi Ngaji Bareng di SMP Bhineka Tunggal Ika Sengonagung Purwosari Pasuruan (14/02/2016).

Kegiatan bertemakan “Bela Negara dalam Wacana Kontemporer” tersebut, Rosidi kemudian mempertanyakan, “Mengapa butuh Negara? Kalau tidak ada Negara, siapa yang menjamin hak-hak kita sebagai manusia?.” keberadaan Negara dipertanyakan eksistensinya dalam melakukan kebajikan dan keadilan itu sendiri. Bukan soal Negara tersebut harus Islam atau tidak, yang penting menegakkan keadilan dan kebajikan. “Ibnu Taimiyah dalam al-Hisbah fi al-Islam (1967) berani mengatakan bahwa negara yang adil –meskipun kafir- lebih disukai Allah daripada negara yang tidak adil –meskipun beriman. Dunia akan bertahan dengan keadilan meskipun tidak beriman, tetapi tidak akan bertahan dengan ketidakadilan meskipun Islam.” Tegas Sakban Rosidi selaku Sekretaris Eksekutif Universitas Islam Majapahit tersebut.

Berbicara soal kesunnahan Nabi Muhammad yang dijadikan kunci keberhasilan sebuah ruh beragama, Rosidi menganggapnya sebagai sebuah kesempitan pemahaman saja. “Soal sunnah Nabi, substansinya ada tiga, yaitu: a). Menghargai tradisi, bukan semata memakai atribut tradisi (sunnah arabi), b). Berperilaku yang baik, sebab Nabi Muhammad sebagai seorang penerima risalah. Misalnya al-Amin, jujur, dan lain-lain (sunnah muhammadi), dan c). Sunnah Nabi, yakni perilaku Muhammad setelah menerima wahyu dari Allah.” Terang Sakban Rosidi, selaku mantan aktifis PMII tersebut.

 

Islam Nusantara; Benteng NKRI dan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin

Kekerasan atas nama agama setidaknya jangan terlalu serius dianggap sebagai sebuah akar permasalahan. Berkemungkinan, radikalisme agama hanya merupakan cabang dari lingkaran konflik yang dikonstruk untuk kepentingan kejahatan yang lebih besar. “Isu perdebatan antar dan inter umat beragama, menjadi peluang suburnya kapitalisme.” Papar KH. Agus Sunyoto selaku penulis buku Atlas Walisongo dalam diskusi tersebut. Meski demikian, radikalisme agama tidak bisa dipandang sebelah mata begitu saja. Memperkuat pemahaman agama yang inklusif sekaligus bercengkrama dengan kebudayaan menjadi penting dan merupakan kebutuhan dalam beragama dalam konteks kebangsaan dan kenegaraan saat ini. “Salah satu solusinya adalah kita harus menguatkan pemahaman agama dengan benar dan menjadikan kebudayaan atau kearifan lokal sebagai benteng persatuan.” Tegas Agus Sunyoto selaku ketua Lesbumi PBNU 2015-2020 tersebut.

Semenjak digulirkannya istilah “Islam Nusantara”, sebenarnya merupakan sebuah keberhasilan dalam mengawal Islam Ramah dalam arus internasional. Mengapa demikian, sebab “Islam Timur Tengah” bukan lagi menjadi kiblat satu-satunya dalam memandang dan memahami bagaimana agama Islam itu hidup dan berkembang. Selain itu, “Islam Nusantara” dapat memperkuat hubungan Islam dengan negara (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dan tradisi keislaman yang ramah serta mengakomodasi tradisi lokal yang dianggap baik. “Islam Nusantara sama dengan NU/Nahdlatul Ulama setingkat dunia sebagai sebuah proses memperkuat tradisi kesilaman yang dijalankan umat Islam di Indonesia.” Ujar Agus Sunyoto, aktifis kelahiran Surabaya, 21 Agustus 1959 tersebut.

Bukannya mengedepankan NU, itulah faktanya. NU bukan lagi organisasi nasional, namun organisasi setingkat internasional. Dengan bergaungnya “Islam Nusantara”, telah “memperkuat tradisi NU dan memperkuat lokalitas” lanjut Agus Sunyoto. Ketika lokalitas mendapatkan kekuatan, Islam akan hidup dan berkembang seperti pada masa-masa para walisongo. Sebuah kehidupan Islam yang santun, ramah, toleran, dan sarat dengan nilai-nilai kebajikan. “Kalau Islam ingin dijadikan mencusuar nusantara dan dunia, tergantung bagaimana kita (Islam) melihat keberagaman.” Tegas Prof. H. Hariyono dalam Seminar dan Bahtsul Masail dengan tema “Islam Nusantara: Meneguhkan Moderatisme dan Mengikis Ekstrimisme dalam Kehidupan Beragama” yang diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jawa Timur di Universitas Negeri Malang (13/02/2016).

 

Bela Negara dalam Paradigma Kritis Transformatif

Bela negara saat ini, dapat menjadi sebuah peluang sekaligus tantangan kita bersama sebagaimana kita harus lebih kritis dalam memahaminya. Bisa saja dimungkinkan, bela negara hanya akan menjadi alat oleh negara atau militer untuk melakukan dominasi terhadap kehidupan warga negara atau masyarakat sipil. “Kita menghadapi banyak lawan dan kontestasi wacana, seperti globalisasi dan gerakan ultra kanan. Kemudian Isu (Bela Negara) adalah isu sensitif atau halus, bila sampai robek bisa kemana-mana.” Ujar Fadillah Putra, M.Si., M. PAff., selaku Ketua DRD (Dewan Riset Daerah) Kabupaten Pasuruan dalam kegiatan Ngaji Bareng yang didukung pula oleh Pondok Pesantren Ngalah Purwosari tersebut (14/02/2016).

Lebih lanjut, Fadillah Putra mengutarakan pertanyaan “Negera seperti apa yang harus dibela?” Inilah yang harus kita kritisi bersama. Sebab menurut Putra, perilaku negara dapat berbeda-beda selama ini, setidaknya terdapat empat kategorinya. “Perilaku negara ‘Pluralis’, negara hanya mengakomodasi semua kepentingan. Kemudian negara ‘Maxis’, negara didominasi kelompok mayoritas. Selanjutnya negara ‘Leviathan’, negara mempunyai kepentingan untuk mendominasi masyarakatnya. Terakhir, negara ‘Patriarkal’, negara didominasi oleh jenis kelamin tertentu.” Jelas Alumnus Universitas Texas USA tersebut.

Sebelumnya Ahmad Hidayatullah dalam diskusi rutinan “Ngabar” (Ngaji Bareng) di MI Darut Taqwa (08/02/2016), masih terselip sebuah keraguan. “Ada apa dan mengapa “Bela Negara” digaungkan saat ini? Akankah ini hanya bagian dari politik kekuasaan saja?” Tanya aktifis GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) Pasuruan tersebut. Hingga pada akhir diskusi, keraguan akan adanya hidden agenda Bela Negara tidaklah menjadikan kita terbebas dari membela negara agar negara tetap memperjuangkan persatuan dan keadilan sosial. “Pemenangan wacana yang tepat bagaimana Bela Negara menjadi penting untuk digalakkan, agar implementasi Bela Negara benar-benar substansial.” Ujar Abdurrahman Amin selaku ketua MATAN (Mahasiswa Ahlut Thariqah) Pasuruan tersebut.

Pada kesempatan yang sama, Makhfud Syawaludin dalam diskusi rutinan “Ngabar” (08/02/2016), beranggapan bahwa gagasan Bela Negara merupakan sebuah Manhaj al-Fikr atau sebuah Paradigma Berpikir. Argumentasi tersebut diilhami dari buku “Jawaban dari Pondok Pesantren Ngalah Sengonagung Purwosari Pasuruan” untuk kegiatan Konferensi Ulama Thariqah dalam rangka Bela Negara, NKRI, Pancasila, dan UUD 1945 Harga Mati di Pekalongan (15-17/01/2016). “Bela Negara merupakan sebuah Manhaj al-Fikr, yakni dengan empat prinsipnya memupuk semangat religius (Ruh al-Tadayyun), memupuk dan menumbuhkan semangat nasionalisme (Ruh al-Wathaniyah), memupuk semangat pluralitas (Ruh al-Ta’addudiyah), dan memupuk semangat humanitas (Ruh al-Insaniyah).” Ujar Makhfud Syawaludin selaku Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Yudharta Pasuruan tersebut. Secara lebih sederhana menurut Fadillah Putra, dengan kita berparadigma kritis juga termasuk bela negara. “Melawan Negara yang tidak adil, termasuk Bela Negara.” Tegas anggota Averroes Community tersebut (14/02/2016).

Tektualitas pasal 27 ayat 3 dalam UUD 1945 adalah setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara. Dalam konteksnya, entah apa yang harus kita dahulukan, melawan radikalisme agama kah? Atau kita hanya terjebak dalam memperdebatkan kebenaran atas agama tertentu? Mungkin kah melawan kapitalisme dan kemiskinan didahulukan? Atau mungkin saja melawan korupsi dan narkoba yang lebih didahulukan? Bisa jadi ada permasalahan lain yang lebih penting untuk diselesaikan. Singkatnya, Negara harus hadir sebagai sebuah kekuatan dalam membela ketidakadilan dan menegakkan kebajikan. Bila tidak demikian, melawan dan mengajak Negara membela ketidakadilan dan menegakkan kebajikan adalah bagian dari “Bela Negara”. Setidaknya itu lah yang mereka dan penulis sebut sebagai sebuah “Bela Negara”. (MakhfudSy).

*Penulis adalah aktifis PMII Pasuruan dan Jamaah Ngabar (Ngaji Bareng) di Republik Ngalah.