Bredel Paradigma….
7 Februari, 2009 at 9:17 pm | In PMII | Leave a CommentBEREDEL PARADIGMA KRITIS-TRANSFORMATIF
VERSI PENGKADERAN PMII[1]
Oleh Ach. Ma’ruf[2]
LANDASAN FILOSOFI
Paradigma merupakan sesuatu yang vital bagi pergerakan organisasi. Karena paradigma merupakan titik pijak dalam membangun konstruksi pemikiran dan cara memandang sebuah persoalan yang akan termanifestasikan dalam sikap dan prilaku social. Disamping itu, dengan paradigma ini pula sebuah organisasi akan menentukan dan memilih nilai-nilai yang universal,abstrak menjadi khusus dan praksis operasional yang akhirnya menjadi karakteristik sebuah organisasi dan gaya berpikir seseorang.
Proses pengkaderan baik formal maupun non formal memiliki kontribusi penting dalam melegitimasi dan melanggengkan system dan struktur social yang ada. Namun, pengkaderan juga merupakan medan perjuangan dan bagian dari proses untuk menggerakkan perubahan social menuju kontruksi social yang adil. Apakah pengkaderan akan mengabdi pada tatanan yang menindas ataukah justru menjadi medan perjuangan, sangat bergantung pada paradigma pengkaderan yang menjadi kerangka kerjanya. Karena itu dibutuhkan pemahaman mengenai berbagai paradigma baik yang melegimitasi system maupun yang memiliki fungsi liberisasi, serta implikasinya dalam praksis pengkaderan. Continue reading Bredel Paradigma…….
Bincang PMII Ngalah Untuk Kader “tentang Teologi Gerakan Pengkaderan”
4 Desember, 2007 at 4:50 pm | In PMII | 1 CommentDalam konteks ini, maka bagaimana Teologi (Tauhid) Gerakan PMII dimaknai sebagai tidak saja menekankan pendekatan intelektual terhadap iman, ditekankan pula pada iman yang penuh dengan kepasrahan, melainkan yang lebih penting adalah bagaimana menekankan iman pada tindakan, dalam dunia dan sejarahnya yang memberi motivasi terhadap kader PMII dan sejarah dunia ini. Seiring dengan itu pemahaman mengenai Tuhan harus dimulai dari fakta historis. Tauhid hendaknya diletakkan sebagai tindakan. Kalau tidak, dikhawatirkan seperti apa yang terjadi sekarang ini, agama hanya terletak pada simbol dan institusi belaka.
Teologi PMII harus mampu mengarahkan kita untuk mengupayakan lahirnya sebuah konstruksi masyarakat ideal, masyarakat yang tidak dijamin oleh kekerasan, melainkan kehidupan bersama yang dijamin oleh nilai-nilai universal keilahian, tanpa kekerasan. Sebenarnya, Islam Ahlussunnah wal jama’ah (Aswaja) sebagai manhajulfikr, menuntut pentingnya perumusan ulang terhadap posisi manusia, baik di hadapan Tuhan maupun di sisi manusia serta makhluk lainnya. Karenanya, rumusan Teologi PMII tidak saja membicarakan Tuhan beserta sifat-sifatnya ataupun terlalu sibuk membela Tuhan, baik yang terkait dengan keesaan, keadilan, maupun sifat-sifat ketuhanan lainnya. Tetapi, yang lebih penting adalah bagaimana teologi juga memberi cakrawala yang lebih luas dari aplikasi sifat-sifat Tuahn tersebut. Dus, rumusan Teologi PMII tidak saja membela Tuhan ‘di sana’ melainkan juga membela manusia dan alam yang ‘di sini’, sebab bukankah membela manusia dan alam seisinya merupakan bagian utama dari membela Tuhan? Continue reading Bincang PMII Ngalah Untuk Kader “tentang Teologi Gerakan Pengkaderan”…
TEROPONG WANITA
4 Agustus, 2007 at 4:31 am | In PMII | 8 CommentsKhoirun Nisak – Kajian gender telah di dengungkan di setiap lorong kota sebagai aksi pengangkatan wanita. Pola pikir wanita telah di seret untuk berefikir secara logis tanpa harus meninggalkan “fitrah”nya sebagai wanita, itu semua yang telah di lakukan oleh sebagaian aktifis gender.
Generasi dari kaun hawa gerakan PMII apa cukup sekedar sebagai penonton yang akan bertepuk tangan ketika bola sudah sampai pada sasaran atau ikut berteriak kecewa ketika bola itu meleset.Semoga ini tak akan pernah terjadi pada generasi kita.
Dalam setiap “persekolahan “ yang di adakan oleh PMII baik di MAPABA,PKD, bahkan di tingkat PKL bahasan kewanitaan selalu di sertakan sebagai bentuk “pengingat”bagi kader PMII khususnya bagi kaum hawa.Ketika dalam persekolahan sudah pernah di ajarkan apa itu hanya sebatas wacana?. Tanpa bergerak sebagai bentuk realisasi ilmu yang kita dapat. Kapan kita harus melangkah atau mengawal dari berbagai elemenen hawa yang tersisihkan?Tentunya jawaban itu tergantung diri kita sendiri,seberapa jauh kita mamapu respek terhadap lingkungan kita atau kaum kita.Mengingat kembali kita sebagai mahasiswa yang bertugas sebagai pengawal masyarakat dan terlebih lagi kita sebagai anggota pergerakan yang tak lepas dari cita-cita luhur PMII. Pengamalan ilmu kita terhadap bangsa dan negara telah di tunggu sebagai bentuk pengabdian. Continue reading TEROPONG WANITA…
Aswaja SEBAGAI MANHAJUL FIKR
24 Juli, 2007 at 3:36 pm | In PMII | 16 CommentsSalamin-Dikalangan anak muda NU, terutama yang tergabung dalam wadah organisasi kemahasiswaan PMII, diawal tahun 1990-an mulai ramai membicarakan “Aswaja”.
Pada mulanya perbincangan baru seputar pertanyaan, mengapa aswaja menghambat perkembangan intelektual masyarakat ? diskusi terhadap doktrin ini lalu sampai kesimpulan, bahwa kemandegan berfikir ini karena kita mengadopsi mentah-mentah bahwa aswaja secara “Qod’I” (kemasan praktis pemikiran aswaja). Lalu dicobalah membongkar sisi metodologi berfikirnya (Manhaj Al-fikr): Yakni cara berfikir yang menganggap prinsip Tawasuth (moderat), Tawazun (keseimbangan), dan Ta’adul (keadilan). Setidaknya prinsip ini bisa mengantarkan pada sikap keberagaman yang non tatharruf atau ekstrim kiri dan kanan. Continue reading Aswaja SEBAGAI MANHAJUL FIKR…
Kaderisasi Putri Ngalah
16 Juni, 2007 at 3:25 pm | In PMII | 13 CommentsWachyuni - Entah berapa kali saya pribadi sering brebes mili ketika ingat kalau dulu kader putri PMII Ngalah itu sering kali berkumpul, walau hanya sekedar guyonan, yang lanjutnya dapat membentuk rapatan barisan untuk menyolidkan kondisi struktural. Namun akhir-akhir ini belum lagi kujumpai hal-hal semacam itu, kuharap ini bukan hanya sekedar kenangan, akan tetapi kenangan yang bisa diwariskan. Hari ini kesekian kalinya saya silaturrohim ke Ngalah, dan melihat saat ini kader putri lagi disibukkan dengan ngaji di pesantren. Continue reading Kaderisasi Putri Ngalah…
POLITIK KAMPUS SEBAGAI MEDAN DISTRIBUSI KADER; Sebuah Tinjauan Perspektif Pengkaderan
21 Mei, 2007 at 11:28 am | In PMII, Pena | 14 Comments
Syafiuddin Tohir – Dalam institusi (PMII) kita terdapat sebuah system yang mengatur pola pembinaan pengembangan kader yang biasa kita sebut dengan P4 PMII. Hal ini diharapkan dalam pematangan kapasitas dan kapabilitas sebagai seorang kader PMII dapat terlaksana secara komprehensif dan simultan sehingga kader PMII menjadi kader yang tangguh di segala bidang seperti halnya yang telah di cita-citakan oleh PMII,menjadi kader yang ulul albab. Continue reading POLITIK KAMPUS SEBAGAI MEDAN DISTRIBUSI KADER; Sebuah Tinjauan Perspektif Pengkaderan…
PEMBODOHAN STRUKTURAL DAN MESUM INTELEKTUAL
10 Mei, 2007 at 8:08 am | In PMII, Pena | Leave a CommentAyik Ritonga – PMII adalah merupakan suatu organisasi pengkaderan di tingkat mahasiswa yang mempunyai tujuan terbentuknya pribadi muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Sebagai organisasi pengkaderan, PMII posisinya berada di luar (ekstra) kampus, yang secara bertahap terus melakukan proses kaderisasi, baik secara formal, non forma dan informal. Dan kalau dalam organisasi intra kampus, warga atau kader PMII sebagai media ekspresi (action) bagi kader-kader untuk melakukan proses penanaman nilai secara makro pada seluruh mahasiswa. Continue reading PEMBODOHAN STRUKTURAL DAN MESUM INTELEKTUAL…
MUSPIMNAS’06 : Ajang “REKREASI PETINGGI PMII”
10 Mei, 2007 at 7:20 am | In PMII, Pena | 2 CommentsChandra Wilwatikta Pandaan-Pasuruan adalah lokasi yang telah disepakati oleh Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) sebagai tempat dilaksanakannya Muspimnas (Musyawarah Pimpinan Nasional) PMII pada 14-16 Desember 2006. Terlepas dari tendensi politik dibalik keputusan PB PMII menempatkan Muspimnas 2006 di jawa timur khususnya kabupaten Pasuruan, ada beberapa hal yang perlu kita cermati bersama karena sebagai kader PMII selayaknya kita memberi penilaian terhadap “petinggi PMII” dengan harapan kontribusi kita sebagai kader PMII membawa perubahan pada diri PMII dimasa yang akan datang. Dus, apa yang telah terjadi di arena muspimnas oleh sebagian kalangan dinilai bahwa PMII semakin kehilangan jati diri dan citranya. Continue reading MUSPIMNAS’06 : Ajang “REKREASI PETINGGI PMII”…
SEKUNTUM PARADIGMA ( Tela’ah kritis terhadap posisi kader PMII)
2 Mei, 2007 at 9:00 pm | In PMII, Pena | 4 Comments
Wachyuni - Tidak sedikit kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia ( PMII ) yang merasa kebingungan atas dirinya sebagai warga pergerakan. Rasa ini timbul karena memang mereka belum mengenal dirinya terlebih dahulu, sehingga tidak heran ketika mereka harus linglung saat berhadapan dengan komunitas gerakan yang mereka pilih, dan juga mereka tidak mempelajari sebenarnya posisi kita dimana, kenapa sampai ada sebuah program?, untuk apa semua itu?. Tidak mudah untuk menjadi seorang kader yang diharapkan kiprahnya untuk berlangsungnya kehidupan komunitas pergerakan kita, serta tidak juga dengan cara yang sangat instan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia ( PMII ) belajar dan mempelajari posisi kita sebagai warga, mahasiswa, manusia, dan hamba. Tidak jarang juga kita jumpai warga pergerakan yang seharusnya melakukan tanggung jawab moral sebagai kader hanya terpanggil disebabkan karena jabatan atau struktur.
Jajaran struktur kepengurusan yang kian cukup personilnya juga terkadang menambah beban problem pengurus yang lain, tidak malah pengurus yang memikirkan bagaimana seharusnya organisasi ini tetap eksis. Belum lagi ditambah dengan beban daya kader yang ogah-ogahan, sekedar ikut-ikutan, tidak mengenali bahwa sesungguhnya dalam komunitas gerakan itu bisa dimanfaatkan untuk berlangsungnya menambah khazanah ke-ilmu-an sesuai dengan jurusan yang dipilihnya, bahwa dalam komunitas gerakan sesungguhnya kita akan diarahkan kemana,? Mereka tidak pernah mencari pertanyaan yang sangat mendasar ini, hanya beberapa orang saja yang memahami lantas memberitahukan posisi tersebut, semoga juga akan menjadi kesadaran yang sempurna, dan menjadi kader yang diharapkan bisa mengawal segala jejak langkah siklus putaran alam ini dengan nilai-nilai keadilan, kesejahteraan, moderat dan keseimbangan.
Posisi yang pertama adalah jelas kita sebagai hamba yang mengabdikan diri sepenuhnya untuk tunduk dan pasrah kepada Sang Maha segalanya. Hubungan kita dengan sang Kholiq juga semestinya kita benahi, karena tidak ada kesejatian selain atas Ridho-Nya. Semua hamba diwajibkan untuk tunduk atas pe-rintahnya, dan ketundukan kita terha-dap-Nya juga mempunyai banyak bentuk, baik ibadah yang langsung ber-hubungan dengan Sang Maha Esa, dan ibadah yang bersifat sosial kemasyarakatan. Hal ini semestinya dimengerti oleh warga Pergerakan Mahasiswa Islam Indo-nesia (PMII), apakah selama ini hubungan kita terhadap Tuhan sudahkah sesuai? Ataukah malah kita jadi sok kritis atas segala perintahnya?, mencoba menafsiri yang itu sebetulnya adalah bentuk ketidaktahuan kita untuk mengenal-Nya. Posisi kita yang pertama ini jika mengalami cidera, maka cacat pula sesungguhnya kita sebagai warga pergerakan yang merupakan bagian dari manusia/makhluk untuk tunduk atas segala perintah-Nya.
Berbuat baik dengan sesama manusia juga merupakan posisi yang tidak bisa ditawar lagi dalam segala lini kehidupan, termasuk juga kita (warga pergerakan) salah satunya. Dan ini juga merupakan perintah-Nya, tidak mudah juga dalam mengarungi pergaulan dengan sesama manusia. Dibutuhkan kecakapan ilmu untuk bisa berinteraksi dengan bagus.
Manusia juga merupakan wakil Tuhan di bumi ini, yang dipercaya untuk mengelolah bumi beserta segala isi putaran siklus sosial. Oleh karenanya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) juga mengawal dalam pengelolahan bumi ini. Dengan banyaknya kader PMII di berbagai jurusan study di sekolah tingginya/universitas, maka sebenarnya ini semakin terjawab, bahwa nantinya sebuah harapan besar PMII terhadap kadernya untuk dapat masuk pada semua sistem sesuai dengan spesifikasi keilmuan dan keahlian mereka. Sehingga PMII tidak hanya menumpuk-numpuk kader yang banyak ceramah soal ibadah-ibadah mahdhoh saja, akan tetapi ibadah-ibadah sosial juga tercermin dengan disertai ketundukan dirinya terhadap Tuhan dengan sepenuhnya ( Ulul Albab ). Karena sesungguhnya mengaji itu tidak hanya membaca Al-Qur’an, akan tetapi membaca dan aplikasi apa sebenarnya pesan yang terkandung di dalamnya, baik secara implisit dan eksplisit, maka semua bisa bertebaran sesuai jurusannya.
Ternyata tidak hanya alam yang harus kita jalin dengan baik, alam juga harus kita kenal dan senggama dengan baik. Dan dalam berhubungan dengan alam ini kita memanfaatkan kader PMII sesuai bidangnya. Di sinilah sebenarnya PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) itu tidak hanya sekedar membesarkan wadah gerakannya saja, namun bagaimana upaya PMII bisa menjadi garda depan dalam perubahan alam ini, dikarenakan kita juga dipercaya Tuhan untuk dapat merubah alam ini sesuai dengan kemampuan kita.
Dan upaya-upaya yang dilakukan PMII untuk mewujudkan hal tersebut adalah adanya bentuk-bentuk Rayon sebagai media struktur terkecil untuk mematangkan basic keilmuan jurusannya, serta Komisariat sebagai struktur lebih tinggi diatasnya menambah lagi kekuatan agar bagaimana kemudian kader PMII memahami ideologi PMII yang dibangun dan menguatkan skill-skill yang dimiliki oleh kader PMII, begitu juga dengan Cabang, Koordinator Cabang, Pengurus Besar, mereka sudah seharusnya mengawal keadilan sosial. Ketika ada hutan yang ditebang tanpa permisi secara legal apa akibatnya? Lautan yang tercemar? anggota dewan yang mengeluarkan kebijakan tanpa mempertimbangkan keadaan rakyat kecil? dan serangan-serangan musuh yang terlihat manis? semua itu yang menjadi tugas PMII untuk menjawab dan menyelesaikan atas segala ketimpangan- ketimpangan yang ada.
Demikian ini semoga bisa dijadikan semangat belajar dan berjuang dalam wadah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, beberapa tahun yang akan datang kamulah kader-kader PMII yang sanggup berani berproses dinantikan oleh orang orang tua yang kian hari tulang rusuknya perlu digantikan oleh kita sebagai penerus perjuangan kebaikan dan keadilan, anak – anak kecil yang mengharapkan orang-orang yang dipercaya sebagai penentu kebijakan menantikan kiprahmu. Segala keputus asa-an segera ditepis, perjuangan yang telah berlangsung jangan pernah kikis.
* Kader Putri PMII yang satu ini tidak dapat dipungkiri kiprahnya, tercatat dalam sejarah Komisariat PMII Ngalah, dialah satu-satunya kader putri yang pertama secara demokratis dipercayai dan dipilih untuk menjadi ketua Komisariat Ngalah. Dan dalam hal menulis dia juga jago.
PMII ANTARA REALITA DAN MIMPI Dan Sekedar Komentar
2 Mei, 2007 at 8:56 pm | In PMII, Pena | 4 Comments
Al-Nur, Apabila ada tulisan yang kurang sesuai dengan realita di ruang mikro cosmos PMII atau ruang public (public sphere), karena penulis hanyalah mahasiswa yang tidak pernah masuk kuliah selama 4,5 semester.
Berawal dari kabut kecemasan dan kegelisahan, awan-awan ketidak mampuan bergelayutan di atas tampuk tanggungjawab dalam memberdayakan potensi yang ada. Penulis ingin menyampaikan ke-gamang-an selama menjabat sekretaris komisariat PMII Ngalah periode 2005. hal ini bukanlah kritik yang ingin menjustifikasi atau mengklaim ketidak mampuan dan ketidak kompakan pengurus, tapi ini lebih merupakan refleksi yang harus dilakukan bagi setiap individu yang terlibat dalam kepengurusan untuk bisa lebih menata, merawat dan mengembangkan potensi personalnya (personal sesources) menjadi potensi bersama (common resources) untuk mengembangkan organisasi sesuai dengan visi-misi hasil kesepakatan bersama dalam raker.
PMII merupakan salah satu organisasi sebagai wadah bagi kader-kadernya untuk mencari, mengembangkan dan mengaktualisasikan keilmuan, pengalaman, dan wawasannya dalam membangun konstruksi ideallisme, sebagai mahasiswa yang menjunjung tinggi idealis selama meneriakkan kebenaran (la verite), keadilan (la justice) dan pencerahan (la raison) dalam memperjuangkan tatanan masyarakat ideal yang demokratis, namun hal itu nampaknya belum ada pada organisasi PMII (komisariat Ngalah), hal ini bukan karena ketidak mampuan organisasi, tapi kebetulan kepengurusan periode kali ini mengalami migren yang secara sepintas belum ditemukan penyebab dan obatnya.
Secuil dari hasil cangkruan ngopi, ngobrol santai dan diskusi kecil-kecilan dengan beberapa anggota pengurus. Kepengurusan periode ini tidak akan pernah sembuh dari migren yang diderita selama system kepemimpinan dan komunikasi antar pengurus dapat diatasi dan diselesaikan, kemudian membangun formulasi baru yang lebih terbuka (order management) dan pola interaksi yang lebih komunikatif dengan paradigma keterbukaan (order paradigem) yang berhaluan aswaja, NDP dan paradigma PMII perpaduan inilah yang harus dilakukan oleh warga pergerakan PMII komisariat dan Rayon di Universitas Yudharta.
PMII (komisariat Ngalah) hari ini masih belum mampu mencetak dan mewujudkan leader-hanya mampu memilih ketua yang dianggap mampu mengakomodir ide-ide dan potensi-potensi kader PMII (komisariat Ngalah) untuk bersama-sama dengan pengurus dan anggota membangun kualitas intelektual.
Ruang-ruang pengembangan intelektual dilakukan dengan pola diskusi, seminar, bedah buku, sharing dan hearing besama untuk menciptakan milliu (tradisi) mahasiswa yang menjunjung tinggi intelektualitas dan kreatifitas yang inovatif, namun selalu saja yang datang hanya 2 atau 3 orang saja, belum lagi kegiatan-kegiatan yang sifatnya ruti dan wajib seperti MAPABA dan PKD yang orientasi dasarnya adalah penanaman doktrin dan penguatan loyalitas agar kader memahami keberadaan dirinya dan tanggungjawabnya sebagai anggota organisasi, realitanya kegiatan itu menjadi hanya sekedar menggugurkan kewajiban agar organisasi tidak dikatakan stagnan dan akan dibekukan legalitasnya jika ampai tidak mampu mengadakan MAPABA dan PKD selama 2 periode (jaim), belum lagi kegiatan-kegiatan lain yang sering kali hanya dikerjakan oleh segilintir dua gelintir orang-meski- secara structural telah dibentuk panitia kegiatan, konflik yang tak henti-hentinya bahkan sampai menjadi pola dan system dalam menyelesaikan permasalahan (manajemen konflik katanya) tapi bukan menyelesaikan masalah malah menambah masalah (ke-tidak-ter-buka-an) antara pengurus yang satu dengan yang lain, terlepas dari salah atau benar yang jelas ini bukan hanya kesalahan ketua saja, melainkan sekretaris, juga jajaran kepengurusan yang lain pun juga ikut bertanggungjawab dan wajib untuk segera mencarikan solusi atas ketidak stabilan organisasi.
Karena pada dasarnya PMII kaya, potensi-potensi yang variatif, intelektualitas kader yang tinggi, alumninya juga banyak. Ini merupakan asset besar yang dimiliki PMII dan harus dikelola dengan baik agar menjadi sesuatu yang sangat berguna bagi pengembangan organisasi.
Building karakter yang berkesadaran organisasi harus ditanamkan, loyalitas terhadap organisasi slalu didendangkan, intelektual slalu diasah, wawasan dan sikap tanggungjawab selalu dipupuk agar sense belonging terhadap organisasi tumbuh dan berkembang dalam ladang pikiran dan hati setiap kader sehingga mereka menjadi kadir yang berkesadaran “apa yang dapat saya lakukandan berikan pada organisasi bukan kader yang brpikiran apa yang dapat saya ambil dari organisasi”. Tidak hanya itu kebersamaan dan keterbukaan dalam organisasi juga harus digalang, karena organisasi bukan milik ketua, perorangan atau kelompok tertentu dalam organisasi-tapi milik bersama anggota dan warga, benarkan seperti itu?
Management merupakan satu kemutlakan bagi ketua untuk menguasainya tanpa menagement organisasi akan kacau, program akan amburadul, kader akan semrawut,jenuh dan kecewa karena organisasi yang diikutinya tidak dapat memberikan apa yang diinginkan sehingga lari dan kelua dari organisasi atau minimal tidak pernah aktif. Leader bukan ketua jelas mampu mengakomodir seluruh ide-ide dan mengalokasikan sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh masing-masing kader, susah ya jadi leader!, ya, memang susah! Jadi seorang pemimpin harus lebih bisa memahami kondisi kader dan mengarahkan pada tujuan organisasi yang dipimpinnya apakah ini yang kita harapkan?
Sahabat ayo bangun dari mimpi-mimpi kita utopi, hedonis, populis, dan pragmatis dimalam purnama hadapi realitas pagi yang lebih cerah dan indah dengan benang-benang saraf intelektual dan rajutan wawasan serta pengalaman yang telah terpasang rapi pada pigora bersketsa di tembok pikiran dan dinding hati kita, jangan hanya menyanyikan kritik dan klaim tanpa mempersiapkan baju solusi yang layak, ayo sahabat dengan tangan terkepa dan tetap maju kemuka singsingkan lengan baju, ambil pena singkirkan gelombang konflik yang ada yang membuat kepala kita sakit dan migren. Bangun PMII dengan system kebersamaan (common system), dan manajement keterbukaan (order management) dalam koridor profesionalis dan proporsionalitas yang terbingkai dalam kado visi dan misi perjuangan.
Maaf, tulisan ini hanya sekedar hasil refleksi penulis yang gamang dan bingung tapi, tidak mampu melakukan dan memberikan apa-apa pada organisasi.
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.








