KEMENANGAN DI BULAN RAMADHAN, Tela’ah Kritis Sejarah Fath al-Makkah Sebagai Landasan Spirit Perjuangan

21 September, 2008 at 12:56 pm | In Islam | Leave a Comment

ramadan-prayingEntah berapa SMS yang telah masuk dalam HP saya tentang kata-kata mutiara dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan, saya beranggapan mungkin ini adalah bagian dari ekspresi kebahagiaan saudara-saudara dan sahabat saya baik yang dekat maupun yang jauh untuk saling berbagi keindahan dan saling memaafkan di bulan penuh dengan ampunan.
Peringatan Malaikat Jibril ternyata tidak sia-sia. Do’a Malaikat Jibril menjelang Ramadhan; “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut: * Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada); * Tidak berma’afan terlebih dahulu antara suami isteri; * Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya. Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin sebanyak 3 kali. Dapatkah kita bayangkan, yang berdo’a adalah Malaikat dan yang meng-amiinkan adalah Rasullullah dan para sahabat , dan dilakukan pada hari Jumaat.
Puluhan bahkan ratusan pesan ramadhan baik lewat SMS, E-Mail, ataupu Web Blog, Sungguh fenomena islami yang amat menarik bukan????. Tetapi seindah apapun pesan Ramadhan yang biasanya disampaikan lewat kata-kata mutiara oleh sebagian anak muda masih belum representatif untuk dapat mengilustrasikan makna bulan Ramadhan secara komperhensif. Continue reading KEMENANGAN DI BULAN RAMADHAN, Tela’ah Kritis Sejarah Fath al-Makkah Sebagai Landasan Spirit Perjuangan…

Tasyakuran: Kiai Sholeh Dakwah di Mimbar Gereja

4 April, 2008 at 5:36 pm | In Islam | Leave a Comment
PENGASUH PONDOK PESANTREN NGALAH

bapakku.jpg

Sehubungan dengan rencana acara syukuran dalam rangka renovasi Gereja Katholik di Pandaan Pasuruan pada 15 April 2008 mendatang, berikut adalah uraian singkat dari isi naskah pidato yang akan disampaikan KH. Sholeh Bahruddin (yang akrab dipanggil Yai Sholeh), Pengasuh Pondok Pesantren Ngalah Pasuruan.

Agama merupakan nilai yang diajarkan kepada manusia sebagai pemimipin dimuka bumi agar tercipta kehidupan yang damai dan sejuk yang tercermin pada kehidupan yang saling manghargai dan menghormati yang didasari dengan penuh kasih sayang.

Nilai-nilai ajaran Islam yang begitu tinggi tersebut terus di kembangkan dari generasi ke generasi, hal ini ditunjukkan dalam sikap teposeliro pada tokoh dunia yang dicerminkan oleh Sayyidina Umar Bin Khattab ra.terhadap Uskup Sophronius dihadapan kaum Nasrani dan muslim di baitul maqdis, kota Yerussalem. Pertemuan kedua tokoh besar tersebut menghasilkan nota kesepakatan untuk mewujudkan masyarakat damai, yang dikenal dengan perjanjian Aelia (istilah lain Yerussalem) yang berbunyi Continue reading Tasyakuran: Kiai Sholeh Dakwah di Mimbar Gereja…

Sekilas Tentang Maulid Nabi Muhammad Saw

20 Maret, 2008 at 4:07 pm | In Islam | Leave a Comment

bw_madinah.gif

Bulan ini, tepatnya pada tanggal 20 Maret 2008, adalah tepat 12 Rabi-Al-Awwal 1428H pada penanggalan Islam (Hijriah). Pada hari tersebut, Nabi junjungan kita Muhammad saw dilahirkan. Semoga shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada beliau beserta keluarga dan sahabatnya.


Hari tersebut, di Indonesia dikenal dengan Maulid Nabi (Milad an Nabi). Maulid Nabi memang bukan hari besar Islam kalau dilihat dari pandangan al Quran dan Hadis. Juga, Nabi sendiri pun tidak menganjurkan harinya diperingati. Tetapi, merujuk pada sejarah, di era kekhalifan juga pernah diadakan peringatan kelahiran Nabi. Untuk itu, sebagai penghormatan, pada hari itulah, kita setidaknya mengingat hari lahirnya Nabi yang kita cintai. Seseorang yang diberi hidayah Allah sebagai penerang dengan membawa ajaran hinggan akhir jaman.

 

Di kehidupan masa kini, kita telah mafhum dan mengenal berbagai macam peringatan hari-hari, baik itu hari kenegaraan (nasional) seperti Hari Kemerdekaan, mungkin juga hari Ulang Tahun perusahaan tempat kita bekerja, dan juga sangat banyak yang memperingati hari Ulang Tahun diri sendiri. Peringatan itu tidak harus mewah, besar, dengan mengundang puluhan hingga ratusan orang. Banyak pula yang sekedar merenung, mengulang seluruh kegiatan, baik kegiatan bangsa, kegiatan di perusahaan, atau juga seluruh pekerjaan yang telah dilakukan selama setahun. Dan seluruh renungan itu tidak haram, karena dengan merenung dan mengevaluasi segala pekerjaan kita, kita menjadi manusia yang selalu ingat. Dan apa karunia bagi orang yang ingat? Yaitu diberikan penerang dan hidayah baginya.


Oleh karena itu, sebagai suatu momen penting 12 Rabiul Awwal H, seperti di kampung-kampung, bahkan dijadikan sebagai hari penting—dan Indonesia sendiri pun menjadikan tanggal tersebut sebagai hari libur nasional. Harapan kita, di hari libur itu, juga hari-hari selanjut, bulan selanjut, dan di seluruh hidup kita selanjutnya, kita seterusnya dapat meneladani dan menyikapi hidup kita berdasarkan apa yang diajarkan dan dicontohkan Sang Nabi Kekasih Allah Swt.


(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raa 7:157)

TEPO SELIRO MARANG LIYO

3 Februari, 2008 at 12:45 am | In Islam | Leave a Comment

 

1. Perintah Untuk Saling Kenal-mengenal.

Manusia diciptakan dengan berbagai ragam bangsa, ras, suku, agama, dan budaya adalah untuk saling kenal-mengenal. Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam surat Al-Hujuraat ayat 13 Juz 26:

1.jpg

Artinya : “Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu, disisi Allah, ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”.(QS. Al – Hujuraat : 13 juz 26)

2. Perintah Hidup Rukun didasari Saling Mengasihi Antar Sesama.

Allah tidak pernah melarang manusia yang berbeda agama untuk hidup berdampingan, rukun saling mengasihi dan menghormati. Hal ini diperintahkan dalam QS. Al – Mumtahanah 08-09 Juz 28 :

2.jpg

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama, dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama, dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Mumtahanah ayat 08-09 Juz 28).

Rasulullah SAW juga memerintahkan kita untuk saling mengasihi dan menyayangi antar sesama, baik berbeda agama, ras, suku, bangsa, dan budaya. Seperti yang diterangkan dalam hadist shahih yang di riwayatkan oleh Imam Thabrani dalam kitab Mujamma’ az-Zawaid hal 340 juz 8:

3.jpg

“Dari Abi Musa ra. sesungguhnya dia mendengar bahwa Nabi Muhammad SAW berkata: Tidak dikatakan orang beriman diantara kamu sekalian, sehingga kalian saling mengasihi/menyayangi. Sahabat berkata: Wahai Rasulullah kita semuanya (komunitas sahabat) sudah saling mengasihi. Rasulullah bersabda: Sesungguhnya kasih sayang itu bukan hanya diantara kamu saja, tetapi kasih sayang kepada seluruh umat manusia dan alam semesta” (HR. Thabrani, hadits shoheh. Mujamma’ Az Zawaid hal: 340 juz: 8).

Begitu besar dan luas wawasan cerminan sikap kasih sayang yang diajarkan kepada manusia tidak hanya untuk golongan sendiri, tetapi untuk seluruh makhluk di muka bumi ini. Sebagaimana diterangkan Nabi dalam hadist lain yang diriwayatkan oleh At-Thabrani:

4.jpg

Nabi Muhammad bersabda “ Tebarkanlah kasih sayang kepada semua orang maka engkau akan dikasihi seluruh makhluk langit (para malaikat)” (HR. At-Thabrani dalam kitab Jami’ as-Shaghir)

Nilai-nilai ajaran Islam yang begitu tinggi terus dikembangkan dari generasi ke generasi, hal ini ditunjukkan dalam sikap teposeliro sang tokoh dunia, Sayyidina Umar Bin Khattab ra. terhadap Uskup Sophronius dihadapan kaum nasrani dan muslim di Baitul Maqdis, Yerussalem. Pertemuan kedua tokoh besar tersebut menghasilkan sebuah piagam perdamaian yang dikenal dengan perjanjian Aelia yang berbunyi;
“Inilah perdamaian yang diberikan oleh hamba Allah ‘Umar Amirul Mukminin, kepada rakyat Aelia : dia menjamin keamanan diri, harta benda, gereja-gereja, salib-salib mereka, yang sakit maupun yang sehat, dan semua aliran agama mereka. Tidak boleh mengganggu gereja mereka baik membongkarnya, mengurangi, maupun menghilangkanya sama sekali, demikian pula tidak boleh memaksa mereka meninggalkan agama mereka, dan tidak boleh mengganggu mereka. Dan tidak boleh bagi penduduk Aelia untuk memberi tempat tinggal kepada orang Yahudi”.

Setelah itu, di depan The Holy Sepulchure (Gereja Makam Suci Yesus) Uskup Sophronius menyerahkan kunci kota Yerussalem kepada kholifah Umar Bin Khattab ra. Kemudian khalifah Umar menyatakan ingin diantarkan ke suatu tempat untuk menunaikan sholat. Oleh Uskup Sophronius, khalifah Umar diantarkan ke dalam gereja tersebut untuk melaksanakan sholat. Tetapi Umar menolak kehormatan tersebut sembari mengatakan bahwa dirinya khawatir hal itu akan menjadi suatu dasar bagi kaum muslimin generasi berikutnya untuk mengubah gereja-gereja menjadi masjid. Akhirnya, Umar melaksanakan sholat (munfaridan) diluar/diteras gereja tersebut. Kisah ini dijelaskan dalam kitab Samahatul Islam Hal. 34 – 37 :

5.jpg

Dari kutipan cerita tersebut, kita dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa begitu besar rasa toleransi (teposeliro) khalifah Umar terhadap sesama.


3. Nabi Muhammad SAW sangat menghormati dan melindungi Non-Muslim.
Ajaran luhur dan sangat mulia yang diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW pada umat manusia terutama terhadap umat agama lain terasa indah dan menyejukkan setiap hati manusia. Hal ini tercermin ketika Nabi Muhammad SAW menyambut kedatangan tamu kristen dari Najran. Beliau memperlakukan mereka dengan sangat hormat, bahkan surban beliau dibentangkan dan mereka dipersilakan duduk diatasnya sambil berbincang-bincang.
Pada saat mendengar terjadi pembunuhan terhadap orang non-muslim yang dilakukan oleh orang Islam. Nabi Muhammad SAW marah besar dan mengeluarkan statemen;

6.jpg

Nabi bersabda “Barang siapa yang menyakiti nonmuslim (yang berdamai dengan muslim) maka akulah musuhnya, dan orang yang memusuhinya (memusuhi nonmuslim) maka aku memusuhinya dihari kiamat.” (HR. Ibnu Mas’ud dalam kitab Jami’us Shaghir hal. 158)

7.jpg

Dari Abdullah bin Umar, nabi bersabda “Orang yang membunuh nonmuslim maka dia tidak akan pernah merasakan bau harumnya surga, padahal bau harum surga itu sudah bisa dicium baunya dari jarak perjalanan empat puluh tahun” (Sunan Ibnu Majah, juz 2 hal.97)

Selanjutnya Nabi Muhammad SAW mempertegas sikap orang muslim yang memperlakukan nonmuslim secara semena-mena dengan mengatakan :
8.jpg

Nabi bersabda; “Barang siapa yang telah membunuh nonmuslim tanpa alasan yang benar, maka Allah benar-benar melarang baginya masuk surga”. (HR. Ibnu Umar; Jami’us Shaghir hal. 177)

4. Perlindungan Pada Tempat-Tempat Ibadah.
Selain melindungi nonmuslim, al-Qur’an juga memerintahkan kepada umat Islam untuk melindungi tempat-tempat ibadah agama lain dalam arti tidak merusak, membakar, apalagi sampai menghancurkan tempat ibadah agama lain sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an Surat Al-Hajj : 40 Juz 17 ;
9.jpg
(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi, dan masjid- masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. “Matur Suwun”

RADIKALSIME AGAMA (FPI, FKAWJ, MMI, DAN HAMMAS) DAN PERUBAHAN SOSIAL DI NEGARA INDONESIA

27 Desember, 2007 at 6:23 am | In Islam | 3 Comments

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang Masalah

Ribuan mata, tertuju pada lautan laskar berjubah putih yang membanjiri Stadion Utama Senayan Jakarta dalam sebuah perhelatan tabligh akbar. Laskar berjubah putih itu tergabung di dalam kekuatan besar yang bernama Laskar Jihad. Di dalam tabligh akbar tersebut mereka meneriakkan kegetiran atas tragedi yang sedang menimpa umat Islam di Maluku, dan secara tegas mereka menyatakan kesiapan untuk terjun ke medan pertempuran di sana. Mereka juga “menyerang” Presiden Abdurrahman Wahid yang mereka anggap telah gagal mengemban tugas sebagai pemimpin umat Islam dan membiarkan negerinya terjebak dalam permainan konspirasi Barat dengan Zionis Israel. Continue reading RADIKALSIME AGAMA (FPI, FKAWJ, MMI, DAN HAMMAS) DAN PERUBAHAN SOSIAL DI NEGARA INDONESIA…

ISLAM RAHMATAN LIL ALAMIN

27 Desember, 2007 at 6:14 am | In Islam | 5 Comments

by : Ayik Ritonga 

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Globalisasi, orang menyambutnya dengan gemuruh keceriaan, harapan tentang terangnya masa depan. Namun disisi lain memunculkan perdebatan dan bahkan pesimisme tentang kemuraman masa depan manusia. Setumpuk pandangan, perdebatan yang terangkum dalam ribuan tulisan, baik berupa buku, catatan-catatan kecil telah banyak terbit. Ada yang optimis, ada yang pesimis dengan globalisasi. Globalisasi bukan sekedar suatu kenyataan yang mengisi sebuah ruang dan waktu, dalam arti realitas perkembangan kehidupan manusia. Lebih dari itu globalisasi, adalah setumpuk ide yang melampaui ruang dan waktu tertentu. Namun yang pasti banyak orang meyakini globalisasi, sebagai fase perkembangan kehidupan sosial yang mesti di terima. Continue reading ISLAM RAHMATAN LIL ALAMIN…

ISLAM DAN DASAR NEGARA INDONESIA “PANCASILA”

24 Juli, 2007 at 9:10 am | In Islam | 19 Comments

 

Ada sebagian golongan masyarakat Indonesia yang terus berusaha merongrong dan menolak Pancasila sebagai dasar negara, karena tidak sesuai dengan ajaran Islam. Mereka menginginkan negara ini berdasarkan agama, bahkan memberlakukan hukum berdasarkan syari’at Islam menggantikan dasar negara Indonesia “Pancasila”.

Benarkah Pancasila sebagai dasar negara Indonesia itu bertentangan dengan ajaran Islam?

Continue reading ISLAM DAN DASAR NEGARA INDONESIA “PANCASILA”…

PERBEDAAN MEMBAWA RAHMAT

10 Mei, 2007 at 8:12 am | In Islam, Pena | Leave a Comment

Syafiuddin Tohir – Senin, 24 April 2006 merupakan hari dimana penulis mendapat kesempatan yang istimewa karena pada hari itu penulis dikunjungi oleh kepala asrama A Ust Yasser Arafat di base came PMII Ngalah. Ust Yasser mencoba membawa wacana yang menurut penulis sudah sering sekali terjadi dan mungkin oleh sebagian masyarakat itu sudah dianggap sebagai suatu kebiasaan (taken for granted). Pokok permasalahan diskusi itu adalah menyangkut pengaduan seorang pendeta di Pandaan Pasuruan yang mendapat intimidasi dan bahkan mereka mendapkan ancaman akan dilakukan agresi (penyerangan) atas tempat ibadah mereka oleh salah satu ormas islam ekstrimis-konservatif, FPI (Front Pembela Islam) pimpinan Habib Rizieq kepada Top Leader Ngalah KH. Sholeh Bahruddin dan sang kyai memberikan tugas kepada ust yasser agar segera didiskusikan kepada mahasiswa khususnya PMII sekaligus mencoba mencari solusi permasalahan tersebut. Setelah beberapa waktu kita mencoba membahas fenomena yang terjadi itu maka penulis sadar akan manfaat/hikmah yang jauh lebih besar daripada sebatas mendapatkan solusi saja. Karena nilai itulah yang justru lebih memperdalam jiwa penulis dari segi religiusitas, karakter maupun mainstream berpikir. alasannya kenapa? Continue reading PERBEDAAN MEMBAWA RAHMAT…

KELAS SANTRI VS KELAS CENDEKIA, Entitas Sebuah Bangsa

2 Mei, 2007 at 8:58 pm | In Islam, Pena | Leave a Comment

ZeinBeberapa kawan saya yang sering berdiskisi ria, ber-chatting dan cangkruan ngopi dengan saya , melontarkan sebuah pertanyaan yang berbau menggugat. kenapa sih pemikir-pemikir Islam di Indonesia justru tidak lahir dari dunia yang selama ini mengklaim sebagai pusat pengkajian intelektual klasik, yakni pesantran? Dalam diskursus intelektual Islam di Indonesia selama ini, orang-orang pesantren justru malah termangu-mangu di pojok pentas (on the edge of the stage).

Kawan saya itu lalu menderetkan nama-nama seperti Amien Rais, Nurcholis Majid, Jalaluddin Rahmad, dan masih banyak nama-nama yang lain yang selama ini malang melintang diberbagai media massa. Tapi protes saya Gus dur justru produk pesantren klasik dan kecendekiwanannya tidak diragukan lagi. Tapi, Gus dur kan alumni mesir yang sudah makan berkati-kati literatur barat, sanggah kawan saya. Saya diam, lalu beberapa saat saya tidak bisa mengelak dari fakta yang disodorkan teman saya.

Harus diakui memang saat ini kiblat studi-studi Islam lebih banyak dikuasai oleh kelas cendekia bukan oleh kelas santri. Daerah kekuasaan kelas yang terlahir ini, yakni kelas santri, hanya terbatas di pesantren-pesantren serta desa-desa yang ada disekitarnya. Dalam kata lain basis social dari kelas santri adalah masyarakat desa (The natural community).

Sementara basis kelas cendekia justru ada di kota-kota. Padahal seperti yang kita tahu bahwasannya kiblat kebudayaan saat ini hampir secara total ber-orientasi ke kota atau dalam kata lain, kebudayaan saat ini yang mulai mendominasi rakyat Indonesia adalah kebudayaan kota (urban cultura). Dominasi kebudayaan kota itu sangat didukung oleh kekuatan ekonomi (economic force) yang saat ini juga berpusat di kota. Kelas cendekia pada hakekatnya adalah bagian saja dari kelas social yang diuntungkan oleh dominasi kebudayaan kota tersebut. Sementara keuntungan-keuntungan semacam itu tidak diperoleh sama sekali oleh kelas santri. Sehingga kelas ini menjadi kelas yang terjajah (colonialized class).

Dengan demikian kekalahan kelas santri dari kelas cendekia sebenarnya merupakan bagian kecil saja dari kekalahan-kekalahan yang diderita oleh “desa” terhadap “kota”. Dalam proses urbanisasi (proses menuju masyarakat dan budaya), desa-desa terus akan tergusur dan digantikan oleh kota-kota. Tetapi pertanyaannya adalah: Apakah tergusurnya desa seperti Pandaan dan Lawang misalnya, masih kita ratapi dan kita tangisi? Apakah kita mesti meneteskan air mata, ketika lampu sentir kita mesti diganti dengan lampu Neon dan Mercury yang canggih ?

Banyak sekali orang yang meratap begitu rupa melihat kekalahan desa berikut lembaga-lembaganya serta orientasi budaya tradisionalnya. Karena bagi mereka desa adalah segala-galanya. Pada hemat kita, sikap semacam itu menunjukkan sikap
eksklusivisme yang justru akan membawa lonceng kematian dengan tradisi desa itu sendiri. Permasalahannya tentu bukan pada upaya untuk bertahan total melawan serbuan kota, agar desa tetap lestari. Kalau perkembangan masyarakat sudah sampai pada suatu tahap dimana desa mesti digusur atau dirobah mengapa itu ditolak. Toh itu sudah proses sejarah.

Namun tentu kurang arif jika kebudayaan desa itu dibuang begitu saja. Toh ketika masyarakat ingin membangun tata budaya yang baru, mereka tidak bisa berangkat dari titik nol. Kebudayaan bukanlah sebuah proses yang terfregmentaris, tetapi selalu terus menerus berkesinambungan. Meminjam bahasanya Cak Noer, kebudayaan tanpa proses corelated continuity “ibarat sumur tanpa dasar”.

Lalu, apa korelasinya dengan persoalan antara kelas santri Vs kelas cendekia yang sedang kita kaji saat ini ?

Pada hemat kita, persoalannya bukan pada soal “kalah menang” antara dua kelas tersebut, tetapi bagaimana kita bisa membangun jembatan komunikasi yang baik antar keduanya, sehingga akan lahir sebuah perkawinan yang indah antara kebudayaan modern dan kebudayaan tradisional. Kelas santri sebagai bagian dari kebudayaan tradisional atau desa, tentu amat kaya dengan kearifan tradisional yang dibutuhkan oleh kelas cendekia yang menjadi bagian dari wajah kebudayaan kota atau “modern”. Kelas cendekia ini mempunyai akar-akar intelektual pada budaya barat yang bertumpu pada kekuatan rasio. (rationality paradigm).

Akan tetapi “perkawinan komunikasi” semacam itu tidak akan pernah terjadi seandainya tidak ada keterbukaan antar kedua belah pihak. Selama ini yang terjadi adalah insinuate communication (hubungan saling menyindir) antara kedua belah pihak. Kelas santri mengejek kelas cendekia karena penguasaannya yang dangkal terhadap tradisi kitab kuning. Kelas ini juga mengklaim sebagai “lembaga intelektual” yang paling berhak untuk berbicara atas nama Islam. Sementara kelas cendekia menyindir kelas santri sebagai kelas terbelakang yang dipenjarakan oleh masa lalu. Sudah saatnya memang kelas ini menyadari kekurangannya masing-masing. Kelas cendekia harus diakui lahir dari kebudayaan kota yang kental dengan nuansa kemajuan dan intelektualnya yang berporos pada dunia barat. Sedangkan kelas santri adalah perkembangan dari kelas tradisional, sehingga harus terbuka dalam rangka meluruskan kembali orientasi kebudayaannya, sehingga tidak tertinggal oleh waktu. Dari situ barangkali kita boleh berharap munculnya kelas blesteran sebagai produk dari hasil kawin silang antara kedua kelas tersebut.

*“Layaknya tunas kelapa”. Itu mungkin yang akan ada dibenak kita, saat kita telah mengenal cah pati yang cakep ini. Sebab tidak hanya ketampanan secara dhohir saja yang menjadi jurus ampuhnya namun kepiawaiannya merangkai kata serta wawasannya yang mumpuni sepenuhnya adalah miliknya. Maka tak heran ketika telah mengenalnya anda akan mengacungkan jempol terhadapnya dan kalau anda adalah cewek mungkin anda akan langsung tertarik padanya.

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.