Pergerakan Mahasiswa Jilid II : Mahasiswa vs dirinya sendiri

30 Oktober, 2009 at 8:32 am | In FreeTalk | 2 Comments

Teriakan berantas kebodohan, menggelikan ketika keluar dari mulut mahasiswa bodoh! Mahasiswa pemalas yang tidak bebas dari penyakit finansial, absurd ketika berteriak bebaskan rakyat dari kemiskinan! Mahasiswa koruptor jam kuliah, tidak pantas berteriak anti-korupsi!

Adalah tiga kalimat pembuka dari diskusi yang saya sampaikan, ketika diminta mengisi acara halal bihalal KAMMI Pusat, sekaligus launching KAMMI Online di Senayan, Jakarta, pada hari Sabtu, 18 Oktober 2008. Kebetulan acara ini juga dihadiri pengurus berbagai organisasi mahasiswa lain. Jadi saya gunakan kesempatan ini untuk melakukan diskusi, kritik dan sekaligus membuka wacana teman-teman mahasiswa aktifis organisasi pergerakan mahasiswa bahwa era sudah berubah.

Perlu kita pahami bersama bahwa masyarakat sudah sangat resistence dengan teriakan-teriakan idealis tanpa pelaksanaan yang sering mahasiswa lakukan. Rakyat perlu teladan, rakyat perlu studi kasus, rakyat perlu success story, dan rakyat perlu know-how yang kita milikia. Dengan memanfaatkan berbagai solusi praktis dan nyata yang kita dapatkan dari bangku kuliah maupun pengalaman lapangan, diharapkan dapat membantu masyarakat untuk menyelesaikan masalah yang semakin menumpuk. Pergerakan mahasiswa di era dunia datar harus lebih cerdas, lebih efektif, sehingga energi dan biaya yang kita miliki tidak mubadzir dan bisa dialokasikan untuk berbagai kegiatan lain yang lebih bermanfaat. Teknologi informasi khususnya Internet dengan jumlah pengguna yang semakin besar di Indonesia bisa menjadi satu alternatif teknologi pendukung pergerakan mahasiswa. Continue reading Pergerakan Mahasiswa Jilid II : Mahasiswa vs dirinya sendiri…

KAMI SAMBUT KEDATANGANMU PRESIDEN DENGAN CARA KAMI ; Refleksi Gerakan Menyambut Sang Pemimpin

11 November, 2008 at 9:36 pm | In FreeTalk | 2 Comments

ITU BUKAN GERAKAN MAHASISWA, (sebuah catatan kecil bentuk anarkisme dari sosok yang bernama mahasiswa)

15 Agustus, 2008 at 5:37 pm | In FreeTalk | 1 Comment

Lipatan Historisitas Gerakan Mahasiswa

New PictureDiskurkus tentang mahasiswa dan gerakannya sudah lama menjadi pokok bahasan dalam berbagai kesempatan pada hampir sepanjang tahun. Begitu banyaknya forum-forum diskusi yang diadakan, telah menghasilkan pula pelbagai tulisan, makalah, maupun buku-buku yang diterbitkan tentang hakikat, peranan, dan kepentingan gerakan mahasiswa dalam pergulatan politik kontemporer di Indonesia. Terutama dalam konteks keperduliannya dalam meresponi masalah-masalah sosial politik yang terjadi dan berkembang di tengah masyarakat.

Bahkan, bisa dikatakan bahwa gerakan mahasiswa seakan tak pernah absen dalam menanggapi setiap upaya depolitisasi yang dilakukan penguasa. Terlebih lagi, ketika maraknya praktek-praktek ketidakadilan, ketimpangan, pembodohan, dan penindasan terhadap rakyat atas hak-hak yang dimiliki tengah terancam. Kehadiran gerakan mahasiswa — sebagai perpanjangan aspirasi rakyat —- dalam situasi yang demikian itu memang amat dibutuhkan sebagai upaya pemberdayaan kesadaran politik rakyat dan advokasi atas konflik-konflik yang terjadi vis a vis penguasa. Secara umum, advokasi yang dilakukan lebih ditujukan pada upaya penguatan posisi tawar rakyat maupun tuntutan-tuntutan atas konflik yang terjadi menjadi lebih signifikan. Dalam memainkan peran yang demikian itu, motivasi gerakan mahasiswa lebih banyak mengacu pada panggilan nurani atas keperduliannya yang mendalam terhadap lingkungannya serta agar dapat berbuat lebih banyak lagi bagi perbaikan kualitas hidup bangsanya.

Dengan demikian, segala ragam bentuk perlawanan yang dilakukan oleh gerakan mahasiswa lebih merupakan dalam kerangka melakukan koreksi atau kontrol atas perilaku-perilaku politik penguasa yang dirasakan telah mengalami distorsi dan jauh dari komitmen awalnya dalam melakukan serangkaian perbaikan bagi kesejahteraan hidup rakyatnya. Oleh sebab itu, peranannya menjadi begitu penting dan berarti tatkala berada di tengah masyarakat. Saking begitu berartinya, sejarah perjalanan sebuah bangsa pada kebanyakkan negara di dunia telah mencatat bahwa perubahan sosial (social change) yang terjadi hampir sebagian besar dipicu dan dipelopori oleh adanya gerakan perlawanan mahasiswa. Continue reading ITU BUKAN GERAKAN MAHASISWA, (sebuah catatan kecil bentuk anarkisme dari sosok yang bernama mahasiswa)…

Kyai Kok Ikut-ikutan Berpolitik, “Apa Kata Dunia…?”

5 Maret, 2008 at 12:30 pm | In FreeTalk | 8 Comments

Simbol-simbol Pergeseran Paham Aswaja Menjadi Ahl Fitnah Berjamaah

Menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Pasuruan, tak satu pun pranata sosial yang statis, termasuk kiai. Sebagai sebuah pranata sosial, kiai juga mengalami dinamikanya sendiri. Dulu, hampir semua kiai digolongkan sebagai kiai kultural dan basis kekuatan moral. Namun kini, kemunculan kiai struktural sudah bukan barang asing lagi. Bahkan fenomena mutakhir memperlihatkan, para kiai dan gus secara ‘berjamaah’ meluncur ke panggung politik praktis.  

Dinamika ini memantik kecemasan bagi anak-anaknya seperti kader-kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) akan kemunduran atau bahkan keterbengkalaian padepokan para kiai (pondok pesantren). Meskipun secara structural PMII menyatakan independensinya sebagai organ ditingkatan kemahasiswaan, akan tetapi langkah cultural yang terbangun selama ini tidak bisa dipisahkan dari indunya yakni Nahdlotul Ulama’ (NU).  Kecemasan dan himbauan agar kiai kembali berkonsentrasi ke pendidikan dan mengoptimalkan peran keumatannya.

Sejatinya, keterlibatan kiai di jagat politik praktis merupakan persoalan klasik yang terus mendilema sampai saat ini. Bagi sebagian kalangan, keterlibatan kiai dalam politik adalah keniscayaan yang tak harus diperdebatkan. Sebab, menurut mereka ajaran Islam bersifat holistik; bukan sekadar agama, melainkan din wa dawlah (agama dan pemerintahan)

Bagi sebagian kalangan lain, kiai seharusnya tidak masuk ke kubangan politik praktis, dan tetap berkonsentrasi di bidang keagamaan dan keumatan. Alasannya, kiai adalah lembaga sakral, berdimensi gerakan moral yang penuh nilai keikhlasan, tanpa tendensi dan ambisi, serta menjadi payung semua golongan (rahmatan lil’alamin). Sementara politik bersifat profan yang meniscayakan adanya kepamrihan, tendensius, dan kepentingan sesaat serta memiliki orientasi perjuangan yang sempit hanya pada kelompok tertentu, yakni massa pendukungnya. 

Menurut salah seorang santri Alumnus Ma’had al-’Ulumisy Syar’iyyah Yanbu’ul Qur’an (MUSYQ) Kudus, bahwa Kiai yang berpolitik dikhawatirkan akan terjebak pada logika politik (the logic of politics) memanipulasi masyarakat basisnya demi kepentingan politik sesaat, yang pada gilirannya menggiring ke arah logika kekuasaan (the logic of power) yang cenderung kooptatif, hegemonik, dan korup. Akibatnya, kekuatan logika (the power of logic) yang dimiliki kiai, seperti logika moralitas yang mengedepankan ketulusan pengabdian akan tereduksi atau bahkan hilang sama sekali, terkalahkan oleh logika kekuasaan tadi. 

Dalam sistem masyarakat demokrasi, siapa pun berhak untuk berserikat dan berpolitik. Hanya saja, hendaknya tidak semua kiai berpolitik. Kalau kiainya sangat ‘lugu’ dan sufistik, serta dipandang lebih bermanfaat bagi masyarakat dengan gerakan ‘politik independen’, alangkah baiknya tetap di dunia pesantren mencetak ilmuwan-ilmuwan muslim yang unggulan atau menjadi transformator masyarakat dengan semai kesejukannya mengawal moral bangsa.  

Alhasil, terjun atau tidak ke politik sepenuhnya bergantung pada asas manfaat dan ketahanan diri kiai menghadapi godaan materi dan hegemoni. Apakah keberadaannya dalam peran-peran politik dapat menciptakan harmoni yang dinamis dan keberpihakan kepada kepentingan universal, ataukah justru menciptakan disharmoni yang statis dan keberpihakan kelompok (partai) atau bahkan peneguhan kepentingan pribadi? 

Pesona politik terkadang memang membuat seseorang kehilangan idealismenya. Dulu, bisa saja seseorang menolak bahkan ‘mengharamkan’ dirinya bersentuhan dengan politik. Namun, karena ada kepentingan semisal materi, hegemoni, prestise, dan kelancaran birokrasi, maka tak terelakkan lagi keterlibatan mereka dalam politik praktis. 

Terjun ke politik (kekuasaan) memang besar taruhannya. Bisa jadi agama dan politik bukan lagi pemersatu, tetapi menjadi faktor pemecah persatuan dan persaudaraan. Umat dan agama akan diseret ke politisasi yang paling pragmatis. Jatuh ke jurang politik rendahan (low politics) dan tidak bermoral. Akibatnya, Islam tidak lagi Islami dan keteladanan moral pun tak lagi didapati. Bahkan, dengan kalimat yang ekstrim, Tuhan pun bisa diseret dalam percaturan low politics sebagai pembenar segala tindakan. 

Pendapat Ketua PBNU Said Aqil Siradj nampaknya perlu kita renungkan. Menurut beliau, kiai boleh berpolitik (praktis) sejauh dilakukan secara profesional dan proporsional. Profesional mengandung pengertian kemampuan dan etika. Sementara proporsional berarti jika sang kiai mengasuh pesantren atau menjadi tokoh sentral pengajian rutin di masyarakat, yang bersangkutan hendaknya bisa membagi waktu dengan baik dan menghindari terjadinya konflik kepentingan. 

Untuk itu, bagi kyai-kyai di pasuruan setidaknya menitikberatkan pada satu visi-misi khusus terkait dengan perpolitikan, yakni bagaimana supaya pelaksanaan pilkada 2008 kabupaten Pasuruan nantinya dapat berjalan dengan lancar, damai, adil dan demokratis serta tidak menimbulkan konflik antar masa pendukung masing-masing calon yang ada. Selain itu, kiiai (termasuk para gus dan ustadz) hendaknya mempertimbangkan beberapa prasyarat penting sebelum memutuskan ‘berselingkuh’ dengan politik. Pertama, kompetensi personal yang meliputi integritas moral dan kemampuan memainkan politik secara santun. Kedua, kompetensi profesional yang berpijak pada the right man on the right place (job) atau sabda Nabi: “jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancuran”. Ketiga adalah stabilitas dan konsistensi kiai sebagai makelar budaya (cultural broker) dan pencerah umat.

Dan akhhirnya, prinsip dasar yang harus ditanamkan pada diri kita sebagai penduduk pribumi pasuruan adalah “…jangan tanyakan apa yang telah kau dapatkan, tapi tanyakan apa yang telah kau berikan untuk bumi…pasuruan…” damai terus pasuruan… jaya terus pasuruan….

Gerakan Hati Nurani dan Gambaran Pemahaman Politik Keluarga Nahdlatul Ulama’ (NU)

4 Maret, 2008 at 8:29 am | In FreeTalk | 2 Comments

Nahdlatul Ulama (NU) sebagai jam’iyah secara organisatoris tidak terikat dengan organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan manapun juga. Setiap warga NU adalah warga Negara yang mempunuyai hak-hak politik yang dilindungi undang-undang. Di dalam hal warga NU menggunakan hak-hak politiknya, harus dilakukan dengan secara bertanggungjawab dan mampu mengembangkan musyawarah dan mufakat dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi bersama (Naskah Khittah NU butir 8 alinea 6).

Sebagai organisasi pergerakan yang lahir dari rahim NU dan selalu menjaga independensinya, dalam menghadapi agenda politik Pemilu, pilpres, pilgub, dan pilkada menyerukan kepada warga nahdliyin (Jam’iyah dan Jama’ah) agar tetap menjaga originalitas organisasi dengan tujuan untuk menghormati atau rasa tawadlu’ kepada Fundings Father-NU, oleh karena itu perlu kita pahami bersama-sama bahwa :

  1. NU ibarat rumah bagi kita.
  2. Partai politik merupakan mobil/kendaraan keluarga sebagai sarana untuk menghantarkan keluarga dalam memenuhi kebutuhan dan kepentingannya guna mencapai pada tujuan dan cita-cita keluarga.
  3. Banyak jenis kendaraan yang dipakai oleh keluarga diantaranya Golkar, PDIP, PPP, PKB, PKNU, PNI, Demokrat, dan lain sebagainya.
  4. Namun perlu diingat bahwa selama pergi membawa mobil agar berhati-hati jangan sampai terjadi kecelakaan apalagi sampai meninggal diperjalanan, dan diusahakan kembali kerumah bergabung bersama keluarga dalam keadaan selamat.
  5. Orang akan menilai aneh jika ada keluarga yang pergi mengendarai rumah sebagai mobilnya, bukan menggunakan mobil sebagai kendaraannya.
  6. Sekali mobil tetap mobil, sekali rumah tetap rumah dan rumah jangan sampai dijual.

Dan akhirnya mari kita sukseskan Pemilihan Gubernur, Pemilihan Kepala Daerah 2008 dengan bersih, sehat, aman, dan damai demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

  

Gubuk Maya PMII Ngalah, 4 Maret 2008

DUKUNG TERUS API-4 “ABIOSO” (PUTERA DAERAH PASURUAN)

24 Februari, 2008 at 8:58 am | In FreeTalk | Leave a Comment

ketik API <spasi> ABIOSO kirim ke 6288

( P U T R A D A E R A H P A S U R U A N – J A W A T I M U R )

ABIOSO GROUP

Saksikan Penampilan Kondangnya tgl 2 Maret 2008

Hanya Di ..

TPI PMII

Continue reading DUKUNG TERUS API-4 “ABIOSO” (PUTERA DAERAH PASURUAN)…

ca-pub-9790402319614456

7 Februari, 2008 at 10:04 pm | In FreeTalk | Leave a Comment

ca-pub-9790402319614456

MENGAPA HARUS SETAN

14 Januari, 2008 at 5:41 am | In FreeTalk | 3 Comments

Syaifuddun Su’adi

Januari 2008

Duh gusti nyuwun ngapuro

Panjenengan kang gada pangapuro

Welas asih lan kinasih

Paring rohmat ugo cobo

Menongso kang ngerti ora wedi marang pati

Pati mergi gesang kang mesti di titi

Bekal ora ono bali ora ono

Langkung pengeran kang kuoso

Dua bait puisi diatas adalah sebuah pengakuan seorang hamba atas dosa-dosa yang telah perbuatnya dan sebuah pengakuan atas kekuasaan Tuhan yang menciptakannya. Selain itu dua bait tersebut mempunyai makna tersirat bahwa segala sesutu di dunia ini adalah kehendak Tuhan. Manusia diberi akal olehNya agar mampu membedakan mana perbuatan hak yang usti dilakukan da mana perbutan batil yang musti ditinggalkan agar dalam kehidupan selanjutnya yakni di akhirat mendapat nikmat yang telah dijajikanNya.

Manusia adalah makhluk paling kamil diantara semua makhluk yang telah diciptakan. Selain diberi postur tubuh yang ideal manusia juga diberi akal dan fikiran yang membedakan dirinya dengan makhluk yang lainnya. Akal dan fikiran ini lah yang kemudian menjadi motor pergerak manusia itu sendiri dalam bertindak dan melakukan sesuatu. Segla perbuatan dan tindak laku yang baik muncunya dari hasil pemikiran akal yang baik pula dan begitu sebaliknya. Continue reading MENGAPA HARUS SETAN…

Memaknai Tahun Baru Hijriyah

14 Januari, 2008 at 5:00 am | In FreeTalk | 2 Comments

Syaifuddin Su’adi - Hari ini tepatnya Rabu 9 januari 2008, seluruh umat Islam dipenjuru dunia memperingati salah satu hari yang dimulyakan, yaitu hari peringtan hijrahnya nabi Mukhmmad Saw yang dikenal dengan tahun baru hijriyah. Tahun baru hijriyah ini merupakan peringatan hijrahnya nabi Mukhmmad SAW dari kota Mekkah al-Mukarromah menuju kota Madinah al Munawwaroh. Di kalangan umat Islam tahun baru hijriyah ini biasanya diperingati dengan berbagai kegiatan seperti pengajian agama, diskusi, seminar dan pengkajian keislaman lainnya. Dalam prinsipnya peringatan-peringatan tersebut hanyalah bagaimana kegiatan-kegiatan itu bisa mempunyai nilai tambah bagi penyelenggara khususnya peningkatan rasa ketaqwaan kepada Alloh SWT. Dan jangan sampai peringatan-peringtan itu hanya sekedar rame-rame dan hura-hura yang hasilnya malah menyimpang jauh dari esensi tahun baru hijriyah tersebut.

Peristiwa hijrah Rosululloh dan para sahabatnya yang telah ditetapkan oleh kholifah Umar bin Khottob r.a sebagai tahun Islam dan sudah diperingati setiap tahun oleh umat Islam selama berab-abad lamanya, bukan sekedar perayaan dan peringatan seremonial semata. Tapi peristiwa besar yang menyimpan makna perjuangan dahsyat dan telah mengorbankan beribu-ribu syuhada’ ini memiliki nilai-nilai, hikmah dan falsafah tertentu bagi umat islam kapanpun dan dimanapun berada. Continue reading Memaknai Tahun Baru Hijriyah…

PUISI KEHIDUPAN

14 Januari, 2008 at 4:43 am | In FreeTalk | Leave a Comment

Kadang aku bingung, untuk memahami diriku ini

Ungkapan – ungkapan yang terjilat dalam lidah

belum tentu membawa berkah

Perasaan – perasaan dalam benak fikiran tiba-tiba datang

namun tiba-tiba pergi begitu saja

renungan renungan yang mengarah pada kahyalan

belum tentu menjadi kenyata’an

Sungguh aku bingung merasakan apa yang aku rasakan

Dunia yang penuh dengan permainan

Yang sulit untuk diramalkan

Namun semua hanyalah sandiwara kehidupan

yang semua telah medapat peran

Untuk mengarungi apa yang menjadi harapan

Dan semua itu tidaklah lepas dari belenggu – belenggu kemunafikan

Seorang akan sadar ketika ada pepatah yang menyadarkan

Tapi seorang akan lengah dan tak berdayah ketika kesenangan menyertainya

Kehancuran dianggap kebahagiaan

Keni’matan dianggap kemunafikan

Mengapa ada susah kalau toh bahagia itu menyenagkan

Kenapa ada kejahatan kalau toh memang kebaikan itu mensejahtrakan

Aku tak percaya lagi akan gundah semua ini

Semua penuh dengan instusi khayalan belaka…..

Hidup penuh dengan jurang kemunafikan !!!!!! Continue reading PUISI KEHIDUPAN…

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.