Aswaja SEBAGAI MANHAJUL FIKR

24 Juli, 2007 at 3:36 pm | In PMII | 16 Comments

Salamin-Dikalangan anak muda NU, terutama yang tergabung dalam wadah organisasi kemahasiswaan PMII, diawal tahun 1990-an mulai ramai membicarakan “Aswaja”.

Pada mulanya perbincangan baru seputar pertanyaan, mengapa aswaja menghambat perkembangan intelektual masyarakat ? diskusi terhadap doktrin ini lalu sampai kesimpulan, bahwa kemandegan berfikir ini karena kita mengadopsi mentah-mentah bahwa aswaja secara “Qod’I” (kemasan praktis pemikiran aswaja). Lalu dicobalah membongkar sisi metodologi berfikirnya (Manhaj Al-fikr): Yakni cara berfikir yang menganggap prinsip Tawasuth (moderat), Tawazun (keseimbangan), dan Ta’adul (keadilan). Setidaknya prinsip ini bisa mengantarkan pada sikap keberagaman yang non tatharruf atau ekstrim kiri dan kanan.

 

LATAR KULTURAL DAN POLITIK KELAHIRAN ASWAJA
Selama ini yang kita ketahui tentang ahlusunnah waljama’ah adalah madzhab yang dalam masalah aqidah mengikuti imam Abu Musa Al Asyari dan Abu Mansur Al Maturidi. Dalam praktek peribadatan mengikuti salah satu madzhab empat, dan dalam bertawasuf mengikuti imam Abu Qosim Al Junandi dan imam Abu khamid Al Gozali.

Kalau kita mempelajari Ahlussunnah dengan sebenarnya, batasan seperti itu nampak begitu simple dan sederhana, karena pengertian tersebut menciptakan definisi yang sangat eksklusif Untuk mengkaji secara mendalam, terlebih dahulu harus kita tekankan bahwa Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja) sesungguhnya bukanlah madzhab, Aswaja hanyalah sebuah manhaj Al fikr (cara berpikir) tertentu yang digariskan oleh para sahabat dan muridnya, yaitu generasi tabi’in yang memiliki intelektualitas tinggi dan relatif netral dalam mensikapi situasi politik ketika itu. Meski demikian, bukan berarti dalam kedudukannya sebagai Manhaj Al fikr sekalipun merupakan produk yang bersih dari realitas sosio-kultural maupun sosio politik yang melingkupinya.

Ahlusunnah tidak bisa terlepas dari kultur bangsa arab “tempat islam tumbuh dan berkembang untuk pertama kali”. Seperti kita ketahui bersama, bangsa arab adalah bangsa yang terdiri dari beraneka ragam suku dan kabilah yang biasa hidup secara peduli. Dari watak alami dan karakteristik daerahnya yang sebagai besar padang pasir watak orang arab sulit bersatu dan bahkan ada titik kesatuan diantara mereka merupakan sesuatu yang hampir mustahil. Di tengah-tengah kondisi bangsa yang demikian rapuh yang sangat labil persatuan dan kebersamaannya, Rosulullah diutus membawa Islam dengan misi yang sangat menekankan ukhuwah, persamaan dan persaudaraan manusia atas dasar idiologi atau iman. Selama 23 tahun dengan segala kehebatan, kharisma, dan kebesaran yang dimilikinya, Rosulullah mampu meredam kefanatikan qobilah menjadi kefanatikan agama (ghiroh islamiyah). Jelasnya Rosulullah mampu membangun persatuan, persaudaraan, ukhuwah dan kesejajaran martabat dan fitrah manusia. Namun dasar watak alami bangsa arab yang sulit bersatu, setelah Rosulullah meninggal dan bahkan jasad beliau belum dikebumikan benih-benih perpecahan, gendrang perselisihan sudah mulai terdengar, terutama dalam menyikapi siapa figure yang tepat mengganti Rosulullah ( peristiwa bani saqifah ).

Perselisihan internal dikalangan umat Islam ini, secara sistematis dan periodik terus berlanjut pasca meninggalnya Rosulullah, yang akhirnya komoditi perpecahan menjadi sangat beragam. Ada karena masalah politik dikemas rapi seakan-akan masalah agama, dan aja juga masalah-masalah agama dijadikan legitimasi untuk mencapai ambisi politik dan kekuasaan.

Unsur-unsur perpecahan dikalangan internal umat Islam merupakan potensi yang sewaktu-waktu bisa meledak sebagai bom waktu, bukti ini semakin nampak dengan diangkatnya Usman Bin Affan sebagai kholifah pengganti Umar bin Khottob oleh tim formatur yang dibentuk oleh Umar menjelang meninggalnya beliau, yang mau tidak mau menyisahkan kekecewaan politik bagi pendukung Ali waktu itu. Fakta kelabu ini ternyata menjadi tragedy besar dalam sejarah umat Islam yaitu dengan dibunuhnya Kholifah Usman oleh putra Abu Bakar yang bernama Muhammad bin Abu Bakar. Peristiwa ini yang menjadi latar belakang terjadinya perang Jamal antara Siti Aisyah dan Sayidina Ali. Dan berikut keadaan semakin kacau balau dan situasi politik semakin tidak menentu, sehingga dikalangan internal umat Islam mulai terpecah menjadi firqoh-firqoh seperti Qodariyah, Jabbariyah Mu’tazilah dan kemudian lahirlah Ahlus sunah. Melihat rentetan latar belakang sejarah yang mengiringi lahirnya Aswaja, dapat ditarik garis kesimpulan bahwa lahirnya Aswaja tidak bisa terlepas dari latar belakang politik.

 

ASWAJA SEBAGAI MANHAJ AL-FIKR
Melihat dari latar cultural dan politik sejarah kelahiran Aswaja, beserta ruang lingkup yang ada di dalamnya. Terminologi Aswaja yang sebagai mana kita pegangi selama ini, sehingga tidak jarang memunculkan paradigma jumud (mandeg), kaku, dan eksklusif atau bahkan menganggap sebagai sebuah madzhab dan idiologi yang Qod’i. Bagaimana mungkin dalam satu madzhab kok mengandung beberapa madzhab, dan bagaimana mungkin dalam satu idiologi ada doktrin yang kontradiktif antara doktrin imam satu dengan imam yang lain.

Salah satu karakter Aswaja adalah selalu bisa beradaptasi dengan situasi dan kondisi, oleh karena itu Aswaja tidaklah jumud, tidak kaku, tidak eksklusif, dan juga tidak elitis, apa lagi ekstrim. Sebaliknya Aswaja bisa berkembang dan sekaligus dimungkinkan bisa mendobrak kemapanan yang sudah kondusif. Tentunya perubahan tersebut harus tetap mengacu pada paradigma dan prinsip al-sholih wa al-ahslah. Karena itu menurut saya implementasi dari qaidah al-muhafadhoh ala qodim al-sholih wa al-akhdzu bi al jadid alashlah. Adalah menyamakan langkah sesuai dengan kondisi yang berkembang pada masa kini dan masa yang akan datang. Yakni pemekaran relevansi implementatif pemikiran dan gerakan kongkrit ke dalam semua sector dan bidang kehidupan baik, aqidah, syariah, akhlaq, social budaya, ekonomi, politik, pendidikan dan lain sebagainya.

Walhasil, Aswaja itu sebenarnya bukanlah madzhab. Tetapi hanyalah manhaj al-fikr atau paham saja, yang di dalamnya masih memuat beberapa aliran dan madzhab. Ini berarti masih terbuka luas bagi kita wacana pemikiran Islam yang transformatif, kreatif, dan inovatif, sehingga dapat mengakomodir nuansa perkembangan kemajuan budaya manusia. Atau selalu up to date dan tanggap terhadap tantangan jaman. Nah dengan demikian akan terjadi kebekuan dan kefakuman besar-besaran diantara kita kalau doktrin-doktrin eksklusif yang ada dalam Aswaja seperti yang selama ini kita dengar dan kita pahami dicerna mentah-mentah sesuai dengan kemasan praktis pemikiran aswaja, tanpa mau membongkar sisi metodologi berfikirnya, yakni kerangka berpikir yang menganggap prinsip tawassuth (moderat), tawazun (keseimbangan), ta’adul ( keadilan) dapat mengantarkan pada sikap yang mau dan mampu menghargai keberagaman yang non ekstrimitas (tatharruf) kiri ataupun kanan.

NILAI-NILAI ASWAJA YANG TOLERAN DAN ANTI EKSTREM?
Dalam sejarah tokoh pemikir Islam, kehadiran Abu Hasan al-Asya’ari dan Abu Manshur al-Maturidi, melalui pemikiran-pemikiran teologis kedua orang ini berhasil mempengaruhi pikiran banyak orang dan mengubah kecenderungan dari berpikir rasionalis ala Mu’tazilah kepada berpikir tradisionalis dengan berpegang pada sunnah Nabi. Asawaja dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya seperti tawassuth, tawazun tasamuh mampu tampil sebagai sebuah ajaran yang berkarakter lentur, moderat, dan fleksibel. Dari sikap yang lentur dan fleksibel tersebut barang kali yang bisa mengantarkan paham ini diterima oleh mayoritas umat Islam di Indonesia.

& Komentar »

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

  1. jika aswaja menjadi manhajul fikr..
    aku juga bermimpi, kalau gender menjadi manhajul fikr kita.
    alangkah setaranya hidup ini…

  2. Utk DUNISAyg membedah mahzab yang 1 yaitu Al Ghozali dan yang lain cuma syariatnya.Seorang mahasiswa/masyarakat harus mempunyai nilai2 didalam ASWAJA&ketentuan lain dpt membangun persatuan, persaudaraan, ukhuwah dan kesejajaran martabat dan fitrah manusia. Namun dasar watak&karateristik alami bangsa arab yang sulit bersatu

  3. ASS.shbt/i pmii ngahala gimana ada pkd pa kalau ada tlng beritahu ke pmii sepanjang ya dri pmii ypm

  4. sahabat, sekarang ASWAJA tidak bisa sekedar diposisikan sebagai manhajul fikr lagi. tetapi
    harus lebih lagi pada manhajul harokah (metodologi gerakan)… thanks

  5. salam persahabatan dari sahabat2 PK PMII Sunan Ampel UIN Malang. kalo bs minta contact person sahabat2 PMII Ngalah… Wass

  6. sahabat, sebenarnya pada saat ini yang paling penting adalah aktualisasi lapangan bagi warga PMII yang sudah dibaiat untuk senan tiasa melaksanakan ideologi PMII yang berazaskan ASWAJA. tangan terkepal maju ke muka, sahabat! kita perjuangkan ideologi PMII yang kian terkikis oleh perubahan zaman yang tidak bersahabat…bukan hanya dengan ucapan atau pengetahuan belaka, tapi dengan tindakan nyata dalam kehidupan kita…hidup ASWAJA!!!salam sahabat kom. salahudin.

  7. aswaja dalam pmii memang lebih dkenal sbg manhajul fikr tapi gak cukup dwilyah itu saja dan sebaiknya sbgai manhaj alkharokah, sepakt ga?

  8. pmii sekarang mengalami degradasi kader dikarenakan pengurus cabang tidak pernah memperhatikan komesariat dan di harapkan seluruh pmii tidak mengedepankan egonya masing-masing demi suatu jabatan

  9. Em.safuan (PK STITMA TUBAN).

    Aswaja yang sering didiskusikan dan sebagai MAHAJUL FIKR,” ditambah lagi bahwa aswaja sebagai Manhajul harokah (metodologi gerakan), pertanyaanya gerakan yang bagaiman..?
    laterus menurut kakang-kakang PMII, gimana kalau Aswaja sebagi Manhajul Qolbi? (tempat penerapan hati)?

  10. ass…aswaja sudah basi kalau hanya diwacanakan, mulai aswaja sebagai madzhab sampai dengan aswaja seabagai manhaj,,,,dari manhajul harakah, manhaj taghayyur dan manhaj manhaj yang lainnya, terserah dec…. manhaj apa,,,,yang penting bagaimana aswaja tidak hanya diwacanak, akan tetapi bagaimana aswaja bisa diaplikasikan dalam kehidupan sosial sehari-hari…gimana sahabat!!!!!!!!!!!

  11. salam kenal sahabat. dari PMII Jombang…kalau ada kegiatan tolong hubungi 085731449789 atau 081330099627. atau bisa lewat email: fandi_bojes@yahoo.co.id

  12. ass wr wb
    salam pergerakan
    ada kabar nih dari pmii komDEWA, tanggal 23-26 juli 2009 nanti diadakan PKD. info lebih lanjut telp 085755579846(wahyu) atau 085646691423(Yeni)
    bagi yang mau berminat ikut, dilahkan hubungi nmer diatas atau datang aja langsung ke komisariat Ki Hajar Dewantara belakangnya STKIP PGRI Pasuruan.

    q pngen tanya
    dalam aswaja ini ada berapa golongan yang termasuk dalam kategori aswaja dan siapa aja nama golongan itu? lalu, dengan metode apa kita bisa mengatakan bahwa golongan – golongan itu termasuk aswaja? tolong jelaskan secara ilmiah dan dari kacamata islam

    aku tunggu jawabannya kirim ke alamat emailku
    h4rg0_dum1l4h@yahoo.com

  13. Salam Pergerakan!!!

    salam kenal aza

    Dengan Fikr Kita Beretika
    Dengan Zikr Kita Berdialektika
    Dengan Amal Shaleh Kita Berderma

    Tangan Terkepal & Maju Kemuka
    Wallahu Muwaffieq IlaaAqwamith-Tharieq

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    by:
    PMII PR. Syari’ah & Ekonomi Islam
    IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

  14. SALAM PERGERKAN !

    DAN UTAMA SALAM PERSAHABATAN BUAT KITA SEMUA.

    saya memberikan surprise buat sahabat2/i Ngalah. dapat bisa memberikan sedikit pemahaman ASWAJA SEBAGAI manhaj al-fikr,.walaupun itu hanya lewat media net, tapi cukuo membanggakan, hitung-hitung juga sangat membanggakan buat kita orang orang timur indonesia.
    terkemuka dari saya’ adlah salam perkenalan
    wallahul mawaffieq ilaa aqwamith tharieq

    Sekretaris PMII Komisariat Universitas Pattimura Ambon

  15. bagus sahabat, n terima kasih atas informsinya tentang aswaja sebagai manhajul fikr, karena besok disuruh mengisi di acara MAPABA PMII Rayon Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang

  16. Mahasiswa mesti berfikir Ideologis. Tidak mengambil jalan tengah(kompromi dg sekulerisme) dan tidak asal ikut-ikutan. Mari bersatu, bergerak, tegakkan Ideologi Islam..


Tinggalkan komentar

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.