Zona Aktualita dan Transformasi Idea Pergerakan


Khafizh Rosyidi Ichsan – Cepatnya Speedometer perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) telah membawa perubahan yang signifikan di hampir semua aspek kehidupan manusia. Di mana berbagai permasalahan tidak dapat dipecahkan kecuali dengan upaya penguasaan dan peningkatan IPTEK itu sendiri. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh ”Bapak sains dan fisika modern”, Galileo Galilei, dari Pisa Fiorentina Italia, bahwa ”Dunia ini adalah kitab yang selalu terbuka untuk dibaca dan sebuah kitab itu tidak akan dapat dipahami, kecuali oleh seseorang yang mempelajari bahasanya dan belajar membaca abjad-abjad penyusunnya”. Tak pelak lagi perubahan tersebut telah menggiring individu, kelompok, masyarakat serta institusi-institusi di negara kita kepada era persaingan bebas (globalisasi).

Perguruan tinggi sebagai salah satu institusi yang ada di Indonesia mengemban amanah untuk menjawab tantangan zaman tersebut. Dalam hal ini perguruan tinggi harus mengupayakan dan menjadikan dirinya sebagai pusat pengembangan dan penyebarluasan IPTEK serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat. Yang mana ketiga hal tersebut termaktub di dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Keberadaan perguruan Tinggi mempunyai kedudukan dan fungsi penting dalam perkembangan suatu masyarakat. Proses perubahan sosial (social change) di masyarakat yang begitu cepat, menuntut agar kedudukan dan fungsi perguruan tinggi itu benar-benar terwujud dalam peran yang nyata. Pada umumnya peran perguruan tinggi itu diharapkan tertuang dalam pelaksanaan Tri dharma perguruan tinggi, yaitu : dharma pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Dengan dharma pendidikan, perguruan tinggi diharapkan melakukan peran pencerdasan masyarakat dan transmisi budaya. Dengan dharma penelitian, perguruan tinggi diharapkan melakukan temuan-temuan baru ilmu pengetahuan dan inovasi kebudayaan. Dengan dharma pengabdian masyarakat, perguruan tinggi diharapkan melakukan pelayanan masyarakat untuk ikut mempercepat proses peningkatan kesejahteraan dan kemajuan masyarakat. Melalui dharma pengabdian pada masyarakat ini, perguruan tinggi juga akan memperoleh feedback dari masyarakat tentang tingkat kemajuan dan relevansi ilmu yang dikembangkan perguruan tinggi itu.

Menurut Prof. Dr. Atho’ Mudzhar (2004), salah seorang guru besar di IAIN Antasari, mengatakan bahwa idealnya ketiga peran dharma perguruan tinggi itu, berjalan serempak dan saling berterkaitan (sinergis), sehingga secara teoritik suatu peguruan tingi tidak boleh hanya berperan dalam sebagian dharma dan meninggalkan yang lain. Namun di dalam kenyataannya ketidakseimbangan peran itu seringkali terjadi. Umpamanya ketika suatu perguruan tinggi hanya melakukan peran pendidikan dan melupakan sama sekali dua dharma yang lain, maka perguruan tinggi itu sebenarnya sedang berperan seperti sekolah. Demikian pula umpamanya jika suatu perguruan tinggi lebih condong dan banyak melakukan peran dalam dharma pengabdian pada masyarakat maka peguruan tinggi itu seolah-olah sedang berperan sebagai organisasi sosial atau lembaga dakwah. Karena itu, mencari perimbangan pelaksanaan ketiga dharma itu menjadi sesuatu yang sangat penting.

Dalam realisasi pelaksanaan dharma pendidikan tinggi perlu memenuhi beberapa persyaratan, antara lain ; materinya mempunyai cakupan dan batas-batas yang jelas (wilayah epistemologi), relevan dengan kebutuhan masyarakat, dan dinamis sesuai dengan dinamika kemajuan ilmu pengetahuan dalam bidang yang bersangkutan. Dengan materi yang jelas batas-batasnya dimaksudkan agar suatu mata kuliah atau bidang studi atau suatu program studi jelas perbedaannya dengan mata kuliah atau program studi lain, tidak tumpang tindih (overlapping) dan rancu. Persamaan dan perbedaan antar berbagai mata kuliah dan program studi tentu dapat diidentifikasi, tetapi arah masing-masingnya tetap jelas. Dengan relevan dimaksudkan bahwa setiap bidang ilmu atau program studi yang dikembangkan jelas kegunaanya bagi pengembangan masyarakat. Sebagai implikasinya bidang-bidang studi Islam yang tekstual dan klasik, harus selalu didekati dan dipahami dengan keperluan-keperluan pertanyaan jaman sekarang, sehingga akan tidak mengalami “beban aktualitas”. Ini adalah tantangan yang tidak ringan, karena memerlukan sinergi antara mahasiswa dan dosen yang kreatif dan kritis.

Dewasa ini masih terasa bahwa ada bidang atau program studi dipertahankan karena kekuasaan atau kepentingan subyektif dosen pengampu/pembimbingnya. Demikian pula bidang studi baru tidak kunjung muncul karena lemahnya kreatifitas, seperti tiadanya bidang studi yang memahami kajian Islam kawasan dan pergumulan Islam dan budaya lokal. Adapun tentang syarat dinamis sesuai kemajuan ilmu pengetahuan maksudnya adalah bahwa setiap bidang studi Islam harus terus berkembang dalam teori dan metodologinya dan itu terjadi bukan hanya pada bidang studi yang kebetulan disebut perkembangan modern dalam Islam.Adapun yang dimaksud sesuai kemajuan ilmu pengetahuan adalah bahwa bidang kajian Islam yang umumnya berada dalam lingkup kajian ilmu budaya dan ilmu-ilmu sosial diharapkan mampu menyerap dan mengkaitkan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan alam dan teknologi. Kemudian diatas ketiga syarat diatas, program studi harus dilandasi dan diperlengkapi dengan logika dan metodologi yang kuat.

Menurut Prof. Atho’ dalam pelaksanaan dharma penelitian ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
1.Penelitian diperguruan tinggi yang dilakukan oleh para dosen adalah guna mengembangkan pemahaman mereka sendiri mengenai bidang yang bersangkutan, sehingga sekaligus mengembangkan dan memperbaiki mutu bahan perkuliahan.
2.Penelitian oleh para dosen juga berperan mengembangkan teori-teori dalam bidang yang bersangkutan terutama pada penelitian-penelitian murni.
3.Penelitian oleh para dosen dan staf perguruan tinggi juga dapat bersifat terapan untuk melayani masyarakat luas baik masyarakat pasar, konsumen, maupun lainnya. Penelitian bentuk terakhir ini sebenarnya juga salah satu bentuk pengabdian pada masyarakat. Semakin banyak dan tingginya mutu penelitian suatu perguruan tinggi, semakin tinggi pula derajat perguruan tinggi itu dalam dunia ilmu pengetahuan. Bahkan sebagian masyarakat menyebut diri sebagai research university.

Lebih lanjut menurut kepala Litbang Depag RI bahwa dalam pelaksanaan dharma pengabdian kepada masyarakat dapat berupa publikasi hasil-hasil penelitian dan dapat pula berbentuk kegiatan-kegiatan pelayanan kepada masyarakat seperti layanan kesehatan Rumah Sakit Perguruan Tinggi, atau Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa. Kedua jenis pengabdian pada masyarakat ini sama-sama diperlukan, tetapi volumenya tidak boleh melebihi volume kegiatan dharma pendidikan dan penelitian.

Dengan paradigma pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi seperti disebut diatas, maka sekarang perhatian harus ditujukan kepada sistem perubahan masyarakat (social change), sejauh manakah pergerakan perubahan social masyarakat tersebut terjadi. Perubahan sosial dapat didefinisikan sebagai “the alteration of patterns of culture, social structures, and social behaviors over time” (perubahan social iadalah perubahan pola-pola budaya (tata nilai), struktur-struktur sosial, dan perilaku sosial pada jangka waktu tertentu). Dengan definisi itu, kita dapat mengamati sejauh manakah pergeseran yang terjadi di masyarakat seperti pergeseran tata-nilai dari memandang sesuatu yang kurang baik menjadi sesuatu yang biasa saja, dari komunalisme menjadi individualisme, dari kebiasaan berinteraksi tanpa pamrih menjadi interaksi materialistik dan seterusnya.

Dalam bidang stuktur sosial, apakah telah terjadi pergeseran kaum elit dari turun temurun menjadi sistem merit yang demokratis, pergeseran kedudukan ekonomi penduduk pendatang dan warga setempat, pergeseran dari desa ke kota, pergeseran wilayah peran pemuka agama dari mencakup semua hal kehidupan kepada mengkhusus kepada soal-soal agama atau sebaliknya. Dalam bidang prilaku sosial, perlu dicermati misalnya apakah masyarakat mengalami pergeseran-pergeseran perilaku, cara berpakaian masyarakat, cara masyarakat bertegur sapa satu sama lain, cara bertransportasi, bahkan cara menyelesaikan masalah ketika di antara mereka terjadi benturan kepentingan, misalnya, dari sikap lembut dan santun menjadi kurang lembut, atau sebaliknya, dan seterusnya.

Selanjutnya, dalam rangka implementasi Tri Dharma ini, perguruan tinggi sebagai aktor utamanya harus melakukan satu bentuk partisipasi langsung dengan hidup serawungan bersama-sama masyarakat, untuk benar-benar bisa merasakan dan mengalami secara langsung problematika kehidupan yang dihadapi oleh masyarakat serta dapat membantu mereka dalam memberikan alternatif solusi yang sesuai dengan disiplin keilmuan yang telah mereka (mahasiswa) gali selama empat tahun di bangku perkuliahan kemudian dikorelasikan dengan kondisi riil masyarakat.

Begitu juga sebagai aktor utama dalam hal ini, mahasiswa juga dapat menggali secara langsung ilmu pengetahuan dan teknologi secara empiris yang bersifat riil bersama-sama dengan masyarakat dalam upaya mensukseskan pembangunan dan pengembangan sumber daya manusia Indonesia seutuhnya yang sesuai dengan cita-cita luhur bangsa kita dapat tercapai. Masa depan bangsa ada di genggaman tangan anda, sahabat. Tangan terkepal (bulatkan tekatmu) dan maju kemuka (raih dan wujudkan cita-cita luhur bangsamu)…….

Comments on: "Perguruan Tinggi: Nahkoda Pengawal Masyarakat Dalam Deruan Ombak Globalisasi" (12)

  1. jl.hujan 16

  2. caiyooo… PMII kom.ngalah, good luck ya… ^_^

  3. pmiingalah said:

    Trims, atas dukungannya..!!!

  4. coba buka http://www.buletingema.wordpress.com

    pmii merdeka malang

  5. Hey shbt2,semangat trz ya pntg mundur,tgn terkepal dan maju ke muka..

  6. jimmy yanuar said:

    TRI DHARMA PT BUKAN HANYA SEKEDAR KEPENTINGAN KITA UNTUK MENDAPATKAN NILAI DI DISIPLIN ILMU KITA, TAPI BAGAIMANA PERAN KITA SEBAGAI AGEN PERUBAHAN INI MEMANG BENAR2 UNTUK KEPENTINGAN MASYARAKAT SEUTUHNYA.
    DALAM TARAF KULIAH MEMANG BANYAK YANG KITA DAPATKAN TENTANG PENELITIAN DAN PENDIDIKAN TERHADAP MASYARAKAT, TETAPI KITA HANYA MAMPU PADA TINGKAT KEPENTINGAN KITA SENDIRI. TANPA MENGERTI TENTANG REALITAS YANG TERJADI DI MASY. KITA SEKARANG.
    PENGABDIAN HARUS BENAR2 MURNI UNTUK MASYARAKAT, KARENA ITU MERUPAKAN SENI DALAM KEHIDUPAN YANG TIDAK MUNGKIN KITA DAPATKAN LEWAT BANGKU KULIAH.
    MERDEKAA!!!

  7. …..pembentukan manusia modern itulah kita melihat betapa pentingnya peranan perguruan tinggi sebagai jenjang tertinggi dalam system pendidikan formal di negara kita yang hendaknya dapat menghasilkan tenaga-tenaga ahli dan dapat pula mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan memenuhi tuntutan Tri Dharma PT n lebih khusus memenuhi tuntutan Dharma Pendidikan…..

  8. _^…..pembentukan manusia modern itulah kita melihat betapa pentingnya peranan perguruan tinggi sebagai jenjang tertinggi dalam system pendidikan formal di negara kita yang hendaknya dapat menghasilkan tenaga-tenaga ahli dan dapat pula mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan memenuhi tuntutan Tri Dharma PT n lebih khusus memenuhi tuntutan Dharma Pendidikan…..^_

  9. […] tulisan ini, dengan dharma pendidikan dan pengajaran yang terkandung dalam badannya, perguruan tinggi […]

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: