Selain kanjeng nabi Muhammad, Islam juga telah menampilkan sejarah agung dalam sebuah management leadership. Seperti nabi Yusuf seorang pemimpin yang juga sekaliagus piawai dalam penataan ekonomi, nabi Sulaiman adalah gambaran pemimpin yang juga mulai menggunakan kecanggihan kecanggihan jaman, nabi Daud adalah sosok pemimpin yang juga mempunyai kekuatan fisik. Selain itu, Al Qur’an sebagai pedoman ummat Islam juga menceritakan seorang pemimpin yang handal seperti Bilqits, juga ada lagi kisah menarik yang spektakuler, yaitu raja Iskandar dZulkarnain.
“Iskandar dZulqarnain” Sang Pemimpin Agung
NU dan Pesantren Motor Kampanye PHBS
Hidup bersih dan sehat bagian integral ajaran agama Islam. Tidak sedikit dalil agama (Islam) yang menjelaskan urgensi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Namun, tradisi PHBS belum terlihat jelas dalam kehidupan umat islam.
“Pesantren (sebagai institusi dakwah Islam) bertanggung jawab untuk mensosialisasikan kesehatan,” demikian disampaikan PW LKNU Jawa Timur Dr. Muhammad Tohir, saat memberikan sambutan pada acara Pengembangan dan Orientasi Pengembangan Pesantren dan Santri Sehat, Ahad (30/10), di Hotel Oval Surabaya.
Read the rest of this entry »
Pesantren dan Pendidikan Anti Korupsi
Klimaks Korupsi.
Korupsi di negeri ini memang bisa dikatakan telah mencapai perjalanan yang memuncak, tanda-tanda dari situasi ini dapat kita lihat dari beberapa fakta yang sungguh membuat kita miris, mulai dari besarnya anggaran untuk pemberantasan korupsi, sangat rapi dan sistemisnya jaringan pelaku korupsi, hal ini dapat kita ketahui dari terungkapnya beberapa korupsi berjama’ah yang terjadi baik di pusat maupun di daerah. Hingga munculnya berbagai reaksi keras masyarakat termasuk seruan klaim kebohongan pemerintah yang disampaikan beberapa tokoh agama, penyamaan pemimpin dengan kerbau karena dituduh tidak tegas memberantas korupsi, serta tindakan keras masyarakat lainnya untuk merespon semakin klimaksnya korupsi di negeri ini.
Lalu apakah benar korupsi telah membudaya atau menjadi bagian dari budaya masyarakat kita?. Di Hongkong pertanyaan semacam ini pernah muncul dan membayangi masyarakatnya, kondisi korupsi di Hongkong pernah mencapai puncak, sampai -sampai mobil pemadam kebakaran yang sudah datang di lokasi kebakaran baru akan menyemprotkan airnya jika korban kebakaran sudah memberikan sejumlah uang suap, dokter-dokter di rumah sakit baru akan mau menyuntikkan obat kalau keluarga si-pasien yang kondisinya hampir sekarat mau menyediakan sejumlah uang tambahan. Namun tingkat Korupsi di hongkong dewasa ini sangat jauh menurun karena adanya upaya serius baik dalam upaya penindakan maupun upaya pencegahan korupsi
Pikiran Kecil, Sedang dan Besar; Kau Berpikir yang Mana?!!
Menarik mengamati perkataan dari Eleanor Roosevelt, mantan Presiden USA yang mengatakan: “Small Minds discuss people, Average Minds discuss events, Great Minds discuss ideas” (Pikiran Kecil membicarakan orang. Pikiran Sedang membicarakan peristiwa. Pikiran Besar membicarakan gagasan).
Maka sebagai akibatnya …
PIKIRAN KECIL akan menghasilkan GOSIP.
PIKIRAN SEDANG akan menghasilkan PENGETAHUAN.
PIKIRAN BESAR akan menghasilkan SOLUSI.
Tanpa Pancasila, Kita Bukan Indonesia
Tanpa (ideologi) Pancasila, kita bukan Indonesia. Pernyataan ini tidaklah berlebihan, malahan wajar sebagai pengakuan. Pun, tidak pula sedang menempatkan Pancasila sebagai barang suci-harga mati-yang menegasikan keberadaan paham (ideologi) lain, justru sebaliknya, itu sebab disebut paham yang inklusif.
Sebagai ideologi terbuka (inklusif), mau tidak mau, Pancasila pada titik tertentu diharuskan menerima dan menghargai keberadaan paham yang bersifat ekslusif. Tanpa penerimaan ini, sifat inklusif Pancasila akan berubah menjadi ekslusif dalam dirinya; klaim Pancasila sebagai paham yang inklusif pun luntur dengan sendirinya.
Sebagai orang Indonesia yang mengaku berpaham Pancasila (Pancasilais), kita pun mesti legowo mengakui, bahkan menjadi keharusan menerima mereka yang berpaham ekslusif. Kita wajib menghargai keberadaan mereka yang menolak Pancasila atau mereka yang ingin mendirikan negara ini di atas ideologi selain Pancasila.
Tanpa praktek ini, klaim sikap inklusif kita adalah kebohongan, bertopeng inklusif semu. Sebab sikap inklusif kita rupa-rupanya bersifat diskriminatif pula: menolak mereka yang kita pandang berbeda atau dalam hal ini mereka yang menolak sikap inklusif. Andai ini yang terjadi, maka kita otomatis gagal menjadi seorang berpaham terbuka atau gagal menjadi seorang Pancasilais.
PMII Tolak Ideologisasi Negara Islam
Jakarta, NU Online
Ketua Umum PB PMII, Addin Jauharudin menyatakan, seluruh jajarannya menolak ideologisasi negara Islam, sekaligus menentang dengan tegas segala bentuk kekerasan atas nama agama.
Ia mengatakan hal itu di Jakarta, Selasa, terkait munculnya anasir-anasir kontra konstitusional berbaju `Negara Islam Indonesia` (NII) dan gerakan-gerakan radikal atas nama agama belakangan ini.
“Bagi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan harga mati dan tidak dapat ditawar-tawar lagi. Siapa pun dan dengan alasan apa pun mendirikan negara di dalam NKRI, tidak dapat dibenarkan,” tandasnya. Karena itu, bagi Pengurus Besar (PB) PMII, sejumlah rentetan aksi kekerasan dan penyimpangan mengatasnamakan agama serta berlawanan dengan dasar negara, merupakan tindakan yang melanggar hukum.
“Mereka yang mengatasnamakan agama sesungguhnya justru melecehkan dan menistakan agamanya dan diri mereka sendiri. Karena, agama pada dasarnya mengajarkan nilai toleransi, keadilan, kearifan, kesetaraan, dan tidak mengajarkan kekerasan atau menebarkan teror,” tegasnya.
Read the rest of this entry »
Jepara, NU Online
Gerakan Negara Islam Indonesia (NII) yang merebak di Malang Jawa Timur dengan aksi penculikan maupun pencucian otak kepada sejumlah mahasiswa mendapatkan komentar dari Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jepara. Hal itu dikemukakan Abdul Khalik, ketua PC PMII Jepara saat ditemui NU Online di sekretariat PMII, Jalan KM Sukri No.139 Potroyudan, Selasa (26/4).
Menurutnya, PMII sebagai basis gerakan kampus akan menjadi lebih ideal jika berpartisipasi dalam memonitoring gerakan-gerakan ekstrim. Sebab, kampus menurutnya merupakan target utama operasi gerakan radikal tersebut.
Read the rest of this entry »
Rahasia 17 Agustus 1945
Tujuh belas Agustus merupakan hari besar kemerdekaan bangsa Indonesia. Pada tanggal tersebut, 64 tahun yang lalu merupakan hari paling bersejarah negeri ini karena di hari itulah merupakan awal dari kebangkitan rakyat Indonesia dalam melawan penjajahan sekaligus penanda awalnya revolusi. Namun, ada beberapa hal menarik seputar hari kemerdekaan negeri kita tercinta ini yang sayang jika belum Anda ketahui.
1. Soekarno Sakit Saat Proklamirkan Kemerdekaan
Pada 17 Agustus 1945 pukul 08.00 (2 jam sblm pembacaan teks Proklamasi), ternyata Bung Karno masih tidur nyenyak di kamarnya, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini. Dia terkena gejala malaria tertiana. Suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Saat itu, tepat di tengah2 bulan puasa Ramadhan.
“Pating greges”, keluh Bung Karno setelah dibangunkan dr Soeharto, dokter kesayangannya. Kemudian darahnya dialiri chinineurethan intramusculair dan menenggak pil brom chinine. Lalu ia tidur lagi. Pukul 09.00, Bung Karno terbangun. Berpakaian rapi putih-putih dan menemui sahabatnya, Bung Hatta.
Tepat pukul 10.00, keduanya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dari serambi rumah. “Demikianlah Saudara-saudara! Kita sekalian telah merdeka!”, ujar Bung Karno di hadapan segelintir patriot-patriot sejati. Mereka lalu menyanyikan lagu kebangsaan sambil mengibarkan bendera pusaka Merah Putih. Setelah upacara yang singkat itu, Bung Karno kembali ke kamar tidurnya; masih meriang. Tapi sebuah revolusi telah dimulai…









Komentar Terakhir